Sudan Tragedi Kemanusiaan Dan Konflik Kepentingan

Bagikan Artikel ini

Oleh. Siti Mutmainah

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka”

Seorang sahabat bertanya: “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?”

Beliau menjawab: “Tidak, bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian buih, seperti buih di lautan. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian”

Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cinta dunia dan takut menghadapi kematian.” (HR. Abu Dawud no. 4297)

WacanaMuslim-Terngiang hadis yang disampaikan Rasulullah tersebut, ketika berkali-kali umat Islam di berbagai negeri mengalami tekanan, penindasan, dan pembantaian. Pembantaian di Palestina masih terus berlangsung. Sekarang Sudan mengalami pertumpahan darah. Permusuhan antara Angkatan Bersenjata Sudan atau Sudanese Armes Force (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat atau Rappid Force Support (RSF) yang saling berebutkan kekuasaan mengakibatkan pertumpahan darah yang mengorbankan banyak rakyat sipil di negerinya sendiri.

Pertempuran yang terjadi  antara SAF yang dipimpin Jendral Abdel Fattah Al-Burhan dan RSF pimpinan Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti terjadi dari bulan April 2023. Pemicu awal permusuhan antara keduanya adalah karena ketidaksepakatan terhadap pembagian kekuasaan, integrasi RSF kedalam tentara, dan struktur pemerintahan sipil.

SAF merupakan tentara angkatan bersenjata Sudan. Sedangkan RSF pada awalnya merupakan milisi dari rakyat sipil yang diminta dukungannya oleh rezim Al-Bashir pada tahun 2019 yang kemudian digulingkan pada bulan April 2019. Sehingga kemudian dibentuk pemerintahan baru perpaduan sipil-militer.

Adanya ketidakpuasan terhadap pembagian kekuasaan telah mengakibatkan permusuhan antara SAF dan RSF hingga menimbulkan bentrokan fisik antara militer dan sipil. Pertempuran yang awalnya terjadi di wilayah Arkhoun meluas ke berbagai wilayah Sudan. hingga akhirnya wilayah paling strategis di Darfour, kota Al-Fashir jatuh dalam penguasaan RSF.

Keterlibatan Asing

Konflik antara SAF dan RSF di Sudan tak semata murni konflik internal Sudan, namun juga dipengaruhi oleh kepentingan para pihak luar. Potensi cadangan minyak, emas dan tambang lain yang melimpah, letak geografis yang strategis dari Sudan telah menarik  para Kapitalis untuk ikut serta meguasai wilayah Sudan. 

Konflik internal dalam tubuh para penguasa Sudan telah menelan banyak korban warga sipil. Kemudian setelah berlangsung sekian lama dan kedua pihak melemah dengan banyaknya korban berjatuhan, Amerika Serikat bersama tiga negara lain, Uni Emitar Arab, Arab Saudi dan Mesir,  muncul dengan dalih untuk mendamaikan  kedua pihak yang tengah bertikai tersebut dengan mengundang untuk berunding di Washington.

Pada saat bersamaan dengan perundingan, diciptakan skenario penguasaan terhadap wilayah ibukota Darfur, Al Fashir yang ditinggalkan oleh tentara SAF dengan alasan sebab telah mengalami kerusakan dan kehancuran parah   serta untuk menyelamatkan yang tersisa. Kemudian pasukan RSF menyerbu masuk, membantai para penduduk sipil dan menguasai kota dengan mudah.

Beriringan dengan itu, pada Kamis, 6 November 2025 kedua belah pihak melakukan gencatan senjata sesuai dengan arahan Amerika dan tiga negara lainnya yang disebut sebagai mediator perdamaian.  Dengan penjanjian gencatan senjata tersebut semakin memperkecil peluang untuk mengembalikan wilayah yang diambil oleh RSF untuk dikuasai kembali oleh SAF selaku tentara Sudan. Adanya pembiaran penguasaan wilayah oleh milisi RSF dan gencatan senjata yang didorong keempat negara tersebut memperjelas upaya pemisahan wilayah tersebut dari wilayah kekuasaan Sudan.

Skenario Defide Et Impera ala kapitalis oleh Amerika kembali diterapkan. Meskipun dengan dalih pembuatan keputusan dilakukan dengan perundingan regional yang melibatkan negara lain di sekitarnya, namun pada faktanya negara yang dilibatkan mengambil tindakan sesuai dengan arahan Amerika. Setelah terpisah, terbentuk peta kekuasaan baru, maka selanjutnya didudukkan penguasa- penguasa boneka yang siap mengikuti arahan tuannya sehingga cengkeraman Amerika di wilayah tersebut semakin menguat.

Pandangan Islam

Pertumpahan darah di Sudan merupakan perang saudara yang mengakibatkan bencana kemanusiaan yang diakibatkan kepentingan berbagai pihak yang ingin meraih keuntungan dan menguasai satu sama lain. Dalam Islam, sesama muslim ada saudara sehingga tidak semestinya melakukan pertumpahan darah. Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat.” (HR. Bukhari No. 2262)

Dalam hadis lain disebutkan:

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari Idul Adha. Beliau bersabda: “Wahai manusia, hari apakah ini? Mereka menjawab: “Hari ini hari haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu negeri apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini tanah haram (suci)”. Nabi bertanya lagi: “Lalu bulan apakah ini?”. Mereka menjawab: “Ini bulan suci”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini dan pada bulan kalian ini”. Beliau mengulang kalimatnya ini berulang-ulang lalu setelah itu Beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: “Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan hal ini. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh wasiat tersebut adalah wasiat untuk ummat beliau”. Nabi bersabda: “Maka hendaknya yang hari ini menyaksikan dapat menyampaikannya kepada yang tidak hadir, dan janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, sehingga kalian satu sama lai saling membunuh”. (HR. Al Bukhari).

Ukhuwah sesama muslim merupakan perkara penting. Adanya perpecahan dalam tubuh umat yang berpotensi pada pertikaian dan pertumpahan darah akan dicegah sedemikian rupa oleh negara. Pendidikan dengan fondasi Aqidah dan pemahaman terhadap syariat sebagai hal paling mendasar dalam pembentukan insan berkepribadian Islam  akan mencegah meminimalisir peluang perpecahan dan pertumpahan darah. Namun bila sampai hal tersebut terjadi, maka negara berkewajiban menindak tegar terhadap pelaku yang mengakibatkan kegaduhan di tengah umat. Bila pertikaian berupa penentangan terhadap penguasa yang sah maka negara berkewajiban untuk memerangi kelompok tersebut hingga memberikan hukuman mati bila tidak bertaubat.

Namun hal yang terjadi di Sudan tersebut bukan semata pertikaian dan perang saudara. Bila melihat konflik Sudan dapat kita cermati bahwa peristiwa tersebut merupakan sebuah pola pemecahan wilayah baru dengan motif pengguasaan dan pengendalian terhadap sebuah wilayah. Hal ini sebagaimana pernah terjadi pula di Indonesia ketika Timor Timur lepas.

Strategi pemecah-belahan ini telah terjadi sejak dahulu ketika hendak meruntuhkan Daulah Khilafah Islam. Dengan adanya penjajahan yang dilakukan barat terhadap berbagai wilayah dauah, kemudian dijanjikan kemerdekaan dari penjajahan sekaligus melepaskan wilayah jajahan tersebut dari Daulah Khilafah. Dan  selanjutnya mereka membentuk penguasa boneka serta mengendalikan dan menguasai kekayan dan segala kebijakan lain dalam negara tersebut.

Pola penjajahan kapitalis tersebut terus dilakukan untuk mengerat-ngerat wilayah kaum muslim menjadi semakin kecil sehingga memperkecil peluang persatuan umat sekaligus mempermudah mereka menguasai semua sumber daya di dalamnya.

Hal ini semestinya dipahami oleh umat sehingga tidak terus terjebak dengan tipuan barat yang menjanjikan perundingan, perdamaian yang semua itu pada faktanya adalah pelemahan tubuh umat melalui tangan-tangan umat Islam sendiri.

Berbagai potensi besar dimiliki umat Islam. Dari sumber daya alam hingga sumber daya manusia.  Kekeayaan alam yang melimpah ruah, kini menjadi rebutan para kapitalis dengan memperalat tangan-tangan umat sebagai kaki tangan mereka. Umat Islam dengan jumlahnya yang besar, tak berkutik ketika saudaranya di wilayah lain terus menjadi korban kekejaman. Umat besar ini seolah tidak memiliki kekuatan, disebabkan oleh sekat-sekat imajiner berupa nasionalisme.

Bila penjajahan ala kapitalis ini tidak dihentikan dengan kekuatan sepadan dengan Amerika, maka hal itu akan terus berlangsung di berbagai wilayah, tidak hanya Sudan.

Karena itu, umat ini memerlukan adanya pemimpin yang berani dan dapat mempersatukan semua potensi besar umat. Baik sumberdaya alam ataupun sumberdaya manusia, sehingga umat ini dapat kembali kepada kehormatannya dan kemuliaannya serta terlepas dari kerakusan dan penjarahan para penjajah.

Keberadaan pemimpin yang mampu bertindak tegas dan tak  akan gentar berhadapan dengan kekuatan adidaya Amerika dan sekutunya, tentu hanya kepemimpinan yang bersandar kepada Sang Pencipta. Kepemimpinan yang menjalankan hukum-hukum dari Allah SWT, dengan sistem Khilafah Islamiyah ‘Ala Minhajinnubuwwah. Yang akan menjadi pelindung dan pemersatu umat, serta tempat umat berjuang di belakangnya memerangi para penjajah. Wallahu a’la bishshawab[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *