Hal yang harus disadari, ketika kita bersyukur setiap saat pun, ternyata belum cukup untuk membayar nikmat Allah yang luar biasa banyak dan tidak pernah putus
Oleh : Ida Nurchayati, STP
“Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak bisa menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).
Nikmat Allah SWT begitu banyak, sehingga kadang bahkan sering dilupakan manusia. Jangankan untuk menghitung, bahkan untuk mengingat atau mangakui nikmat Allah terasa berat. Terkadang nikmat Allah baru disadari manusia ketika nikmat tersebut dicabut. Misalnya, nikmat sehat baru disadari ketika jatuh sakit. Padahal bersyukur atas nikmat Allah hukumnya wajib. Kewajiban yang akan mendatangkan nikmat Allah lainnya, pun sebaliknya hilangnya semua nikmat ketika kufur nikmat (Q.S Ibrahim ayat 7)
Menurut Ibnu al Qoyyim, nikmat Allah ada tiga, yakni nikmat yang sudah lewat, nikmat yang sekarang dinikmati dan nikmat yang kita harapkan. Ada dua nikmat yang melekat dalam diri manusia yakni nikmat taklif, yakni nikmat yang dibebankan Allah pada manusia, contoh shalat, puasa, zakat, haji, berdakwah, jihad dan sebagainya. Kedua, nikmat diluar taklif, misalnya nikmat harta, kedudukan, jabatan dan sebagainya.
Cara Mensyukuri Nikmat
Allah akan menambah nikmat pada hamba-Nya, ketika dia pandai bersyukur. Cara mensyukuri nikmat yakni dengan mengerjakan semua taklif serta tidak melalaikan kewajiban dari Allah sedikitpun. Agar tidak merasa berat dan menjadi beban, maka dikembangkan sikap menikmati setiap amalan ibadah yang telah Allah syariatkan. Karena, melalaikan nikmat taklif akan menyebabkan nikmat yang kedua pun akan pergi. Apabila ini terjadi maka manusia akan kehilangan nikmat, menderita dan nestapa.
Maka harus dibangun sikap bersyukur terhadap nikmat taklif. Menurut Imam al Mawardi, taklif adalah nikmat yang luar biasa. Jika kita mensyukuri nikmat taklif maka tidak terasa berat ketika menjalankan perintah Allah, tidak pernah mengeluh, apalagi menggerutu. Beban ibadah dilaksanakan dengan hati senang, ikhlas, ridha dan syukur. Inilah kebahagiaan hakiki, yakni ketika nikmat pertama (nikmat taklif) disyukuri, maka Allah akan memberikan nikmat diluar taklif. Untuk meraih dua kenikmatan sekaligus, yang secara otomatis mendapat kebaikan dunia akhirat harus senantiasa dalam ketaatan. Ketaatan yang mengantarkan pada ridha Allah. Inilah kebahagiaan mutlak yang harus diraih.
Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/hidup-itu-sulit-benarkah/
Bentuk Syukur Nikmat
Hal yang harus disadari, ketika kita bersyukur setiap saat pun, ternyata belum cukup untuk membayar nikmat Allah yang luar biasa banyak dan tidak pernah putus. Imam al Hasan, cucu Baginda Rasulullah SAW memberi nasehat, sebanyak apapun kita bersyukur tidak akan pernah cukup untuk membayar nikmat Allah. Sebanyak apapun kita mohon ampun kepada Allah, tidak akan pernah cukup untuk menutup dosa-dosa kita.
Bentuk syukur atas nikmat Allah. Pertama, mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Segala kesuksesan dan kenikmatan yang diterima adalah semata dari Allah, bukan karena usaha dan kehebatan manusia, juga bukan karena orang tua atau teman. Meski disatu sisi tidak boleh melupakan kebaikan orang lain Kedua, memuji Allah dengan segala bentuk pengagungan. Ketiga, menjalankan segala bentuk ketaatan pada Allah.
Untuk menjaga rasa syukur atas nikmat Allah adalah dengan taat, taat dan taat. Maka agar senantiasa dalam ketaatan, harus merawat akal agar tetap sehat, tidak mengikuti hawa nafsu dan godaan syetan. Akal yang sehat pasti memilih kebahagiaan yang abadi. Caranya, banyak duduk di majelis ilmu. Ketika ilmu bertambah, taat kian meningkat, ibadah pun terasa nikmat.
Meski tidak bisa diingkari, kadang manusia terlena dan melalaikan taklif serta jatuh dalam kemaksiatan. Nikmat Allah jua lah yang menutup aib-aib manusia dan menyebarkan kebaikannya. Hanya saja harus segera kembali pada Allah ketika telah melalaikan taklif, banyak beristighfar, mohon ampun kepada Allah. Kubangan kemaksiatan akan menjauhkan manusia dari nikmat. Misalnya, orang yang tidak mampu bangun untuk tahajud, biasanya karena perbuatan maksiatnya. Karena mampu bangun malam bertahajud merupakan salah satu nikmat dari Allah.
Hendaknya kita mengambil ibrah dari para salafus shalih yang istikamah dalam ketaatan. Hingga usia lanjut matanya masih tajam karena terbiasa membaca Al Qur’an, telinganya maaih bagus karena terbiasa mendengarkan Al Qur’an dan ilmu, serta akalnya tidak pikun karena senantiasa membaca Al Qur’an.
Wajib mensyukuri segala nikmat Allah, itulah kunci kebahagiaan hakiki. Sejahtera dan berkah di dunia serta selamat dalam kehidupan akhirat.
Wallahu a’lam []
Sumber Foto : Canva

