Moderasi Beragama Menyasar Pelajar

Bagikan Artikel ini

Konsep Islam moderat akan menjauhkan identitas utama umat Islam sebagai umat terbaik pelanjut peradaban mulia.

Oleh : Daryeti Ummu Kafie
Aktivis Muslimah

WacanaMuslim-Moderasi beragama yang merupakan amanat dari RPJMN tahun 2020 – 2024 terus digaungkan oleh pemerintah melalui berbagai kebijakannya. Menjelang berakhir masa kekuasaannya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama untuk memperkuat pemahaman dan esensi ajaran beragama dan kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat (Antaranews, 29-09-2024).

Dengan adanya Perpres tersebut, moderasi beragama bukan hanya menjadi program prioritas bagi Kementerian Agama, melainkan juga menjadi mandat bagi semua kementerian dan lembaga pemerintah. Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia Prof. Suyitno melalui zoom meeting pada kegiatan Sosialisasi Penguatan Moderasi Beragama bagi Guru SMA dan SMK di Aula Dikpor D.I. Yogyakarta. (Balitbangdiklat.kemenag.go.id, 26-03-2024)

Dalam Perpres 58/2023 disebutkan bahwa terdapat 8 (delapan) kelompok strategis yang berperan sangat penting dalam ekosistem moderasi beragama, salah satunya dunia pendidikan. Dunia pendidikan dianggap sebagai media paling efektif untuk melakukan transfer nilai dan pengetahuan. Dengan demikian, penanaman nilai moderasi beragama bagi para pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik sangat menentukan keberhasilan program ini.

Benar bahwa moderasi beragama saat ini sudah masuk ke dalam kurikulum sekolah, yakni Kurikulum Merdeka yang berfokus kepada program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau dikenal dengan istilah P5 serta program Kementerian Agama berupa Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin atau PPRA (bangka.trubunnews.com, 18-12-2023).

Moderasi beragama menyasar pelajar karena dianggap bisa menghilangkan salah satu dosa besar dunia pendidikan yaitu intoleransi, seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Anwar Makarim. Dua dosa lain, yakni perundungan atau bullying dan kekerasan seksual.(news.epos.id, 19-11-2021).

Dunia pelajar atau remaja yang kita lihat dewasa ini penuh dengan berbagai permasalahan yang mengakar pada satu hal, yakni dekadensi moral. Berbagai kasus seperti perundungan, seks bebas, aborsi, narkoba, geng motor, kriminalitas, dan kenakalan remaja, sudah menjadi “makanan sehari-hari” generasi muda. Semua permasalahan pelajar itu tidak ada hubungannya dengan moderasi beragama.

Oleh karena itu, penanaman moderasi beragama di kalangan pelajar untuk menyelesaikan persoalan jelas tidak masuk akal. Nyatanya, kasus intoleransi ataupun keengganan mengikuti tradisi lokal tidak mendominasi. Bahkan faktor penyebab terbesar dalam kasus kekerasan yang dilakukan pelajar bukanlah pertikaian karena SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), melainkan budaya liberal yang terus mencemari generasi muda sehingga mereka merasa bebas bertingkah laku.

Kita patut waspada dan prihatin dengan terus ditanamkannya nilai-nilai moderasi beragama di kalangan pelajar. Ada bahaya besar di balik ide ini. Konsep Islam moderat akan menjauhkan identitas utama umat Islam sebagai umat terbaik pelanjut peradaban mulia. Bukannya mendapatkan pengokohan kepribadian Islam, mereka yang ingin konsisten menerapkan agamanya dengan benar malah akan dituduh radikal, ekstrem, dan intoleran.

Moderasi Islam ini hakikatnya adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam ke tengah umat. Ide ini menyerukan semua agama sama dan menyerukan untuk membangun Islam inklusif, toleran terhadap ajaran agama lain, dan menyusupkan paham bahwa semua agama benar. Padahal Allah Swt. Dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 19 telah sangat tegas menyatakan bahwa agama yang benar dan mulia di sisi Allah hanyalah Islam. Apalagi adanya celaan yang bersifat pasti bahwa tidak akan diterima agama selain Islam dan mereka tidak akan selamat di akhirat kelak. Tampak jelas ide ini bertentangan dengan akidah Islam.

Moderasi Islam ini, selain mengebiri Islam yang sejatinya merupakan ideologi menjadi sekadar kumpulan pemikiran saja, juga bisa mengubah Islam menjadi sekadar agama ruhiyah yang dihilangkan sisi politisnya sebagai solusi seluruh aspek kehidupan.

Kita sebagai orang tua harus berupaya keras menyelamatkan anak-anak dari gempuran moderasi Islam sehingga kelak anak-anak kita menjadi generasi berkualitas, generasi penerus perjuangan tegaknya syariat Islam. Jangan sampai generasi penerus kita teracuni pemikiran-pemikiran yang seolah-olah bijaksana, padahal sesungguhnya merupakan racun yang membinasakan.

Saatnya kita, para orang tua, menyelamatkan anak-anak agar tidak terbawa arus moderasi Islam dengan cara menanamkan akidah sejak dini kepada anak-anak, menjelaskan tentang kekeliruan Islam moderat dan bahayanya, memberikan pemahaman kepada anak bahwa agama yang diridhoi Allah hanyalah Islam, mengajak anak untuk mengkaji Islam sebagai ideologi yang menyeluruh, menyiapkan anak-anak kita untuk menjadi pembela dan pejuang Islam kafah, serta memilihkan sekolah, pondok, atau lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum berbasis akidah Islam dalam upaya untuk mengantisipasi peluang masuknya moderasi beragama kepada anak-anak.

Wallahu’alam bissawab.[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *