Idulfitri Kemungkinan Terus Berbeda Jika Satu Kepemimpinan Tidak Ada

Bagikan Artikel ini

Sangat memprihatinkan, di zaman teknologi yang serba canggih di mana informasi mudah diakses bahkan dalam hitungan detik, masih terjadi perbedaan Idulfittri di antara negeri-negeri Islam.

Oleh Yani Yuliani
Pegiat Literasi

WacanaMuslim-Kembali terjadi perbedaan perayaan Idulfitri 2026 bertepatan dengan tahun 1447 H. Ada tiga kali perayaan di hari yang berbeda, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Kamis, 19 Maret dirayakan oleh kaum muslimin yang mengikuti rukyat global. Sementara hari Jumat, dirayakan oleh warga Muhammadiyah. Terakhir Sabtu, berdasarkan sidang isbat yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI yang menggenapkan hitungan Ramadan menjadi 30 hari karena tidak terjadi wujudul hilal.

Rindu merayakan Idulfitri bersama-sama, tak terhalang sekat organisasi, tak terhalang sekat negara. Semua kaum muslimin sedunia merayakan Idulfitri serentak di hari yang sama. Namun, itu hanya mimpi ketika kaum muslimin masih tercerai berai tanpa satu kepemimpinan. Maka perbedaan hari raya niscaya terus berulang di masa mendatang.

Penentuan Idulfitri Menurut Syariat

Berkaitan dengan perbedaan yang terjadi di masyarakat dalam mengawali saum Ramadan, muncul pertanyaan “kenapa tidak ditentukan saja sejak awal tanpa menunggu rukyat atau pengamatan hilal? “. Penting menjawab pertanyaan ini secara ilmiah, bahwa penentuan awal Ramadan bagian dari ibadah ta’abuddi yang bersumber langsung dari nash bukan semata persoalan kalender.

Landasan syar’i penentuan awal Ramadan berdasarkan firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 185, artinya, “… Barang siapa di antara kalian menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa…

Rasulullah saw. menjelaskan lebih rinci dalam hadis sahih, “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Maka jika tidak terlihat, sempurnakanlah Sya’ban menjadi tiga puluh hari.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis ini, Nabi memerintahkan mengawali saum Ramadan dengan metode utama pengamatan fisik hilal yaitu melihat langsung wujudul hilal. Jika cuaca tidak mendukung tersebab mendung sehingga hilal tidak terlihat, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi tiga puluh hari (istikmal). Kesaksian satu orang terpercaya yang melihat hilal sudah cukup untuk menetapkan awal Ramadan.

Jadi berdasarkan hadis ini penetapan awal Ramadan tidak berdasarkan perkiraan semata melainkan dengan bukti fisik yaitu terlihatnya hilal atau menggenapkan jumlah hari menjadi tiga puluh hari. Pendapat empat mazhab sepakat bahwa dasar penetapan awal Ramadan dan Idulfitri adalah rukyah dan istikmal. Sementara itu hisab digunakan untuk menentukan jatuhnya 29 Sya’ban, sehingga kaum muslimin bisa bersiap-siap untuk melakukan aktivitas Rukyatul hilal.

Nasionalisme Akar Masalahnya

Munculnya perbedaan perayaan Idulfitri di hari dan tanggal yang berbeda merupakan perkara yang akan terus muncul ketika penetapan hari raya diserahkan kepada penguasa setempat.
Sangat memprihatinkan, di zaman teknologi yang serba canggih di mana informasi mudah diakses bahkan dalam hitungan detik, masih terjadi perbedaan Idulfittri di antara negeri-negeri Islam.

Perbedaan ini bukan murni terjadi karena pemahaman rukyat global dan rukyat lokal, tetapi terjadi karena perbedaan wilayah negeri-negeri Islam yang disekat nasionalisme. Nasionalisme sengaja ditanamkan pada kaum muslimin agar mudah untuk dipecah belah dan dikuasai oleh kafir Barat. Nasionalisme atau paham ashabiyah (fanatisme kedaerahan) telah jelas diharamkan dalam Islam sebagaimana sabda Nabi, “Bukan termasuk umatku orang yang mengajak pada ashabiyah, dan bukan termasuk umatku orang yang berperang atas dasar ashabiyah, dan bukan termasuk umatku orang yang mati atas dasar ashabiyah,” (HR. Ibnu Majah)

Butuh Satu Kepemimpinan Untuk Menyatukan Umat

Menjadi sesuatu yang urgen saat ini memiliki satu kepemimpinan untuk mengakhiri terjadinya perbedaan hari raya, baik idulfitri ataupun iduladha di seluruh negeri-negeri muslim. Kepemimpinan Islam dengan seorang khalifah sebagai pemimpinnya bertugas menyelesaikan berbagai perselisihan ditengah masyarakat. Sesuai kaidah syara “Al Imamu yarfa’ul khilaf”. Al-Imamatau atau kepala negara yang mampu menyelesaikan berbagai perbedaan di tengah masyarakat.

Melalui teknologi informasi yang super cepat, khalifah akan berusaha sekuat tenaga untuk menyebarkan informasi tentang masuknya awal Ramadan dan awal Syawal. Dengan demikian terjadinya perbedaan Idulfitri maupun Iduladha akan bisa dihindari. Betapa bahagianya ketika seluruh kaum muslimin di dunia berhari raya pada waktu yang sama yaitu satu Syawal. Wallahualam bissawab.[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *