Screen time yang berlebihan membuat generasi muda semakin malas berpikir, mudah kesepian meskipun terus terhubung, serta kehilangan daya analisis yang kuat. Mereka hidup dalam ilusi interaksi tanpa kedalaman.
Oleh : Henise
WacanaMuslim-Di tengah kemajuan teknologi yang begitu cepat, Indonesia justru menghadapi ancaman serius, kerusakan mental generasi muda akibat paparan dunia digital yang tak terkendali. Hampir setiap anak dan remaja kini hidup berdampingan dengan layar, dari bangun tidur hingga kembali memejamkan mata. Gadget bukan lagi alat bantu, tetapi telah menjadi bagian dari tubuh sosial mereka.
Fakta menunjukkan bahwa banyak generasi muda di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental, mulai dari kecemasan kronis, depresi, kehilangan fokus, hingga digital dementia—penurunan kemampuan berpikir karena ketergantungan gadget. Indonesia bahkan mencatatkan diri sebagai salah satu negara dengan tingkat kecanduan gadget tertinggi di dunia.
Screen time yang berlebihan membuat generasi muda semakin malas berpikir, mudah kesepian meskipun terus terhubung, serta kehilangan daya analisis yang kuat. Mereka hidup dalam ilusi interaksi tanpa kedalaman. Lebih mengkhawatirkan lagi, tidak ada pembatasan usia dalam penggunaan media sosial. Anak-anak dibiarkan masuk ke ruang yang seharusnya hanya untuk orang dewasa. Padahal berbagai riset menunjukkan bahwa platform sosial—yang didukung algoritma dan AI—nyata berbahaya bagi kesehatan mental remaja.
Semua ini terjadi bukan tanpa sebab. Teknologi hari ini tumbuh dalam rumah besar bernama kapitalisme.
Fakta: Generasi Muda Terjebak dalam Ruang Digital yang Liar
Ruang digital yang mestinya menjadi sarana belajar dan berjejaring berubah menjadi labirin yang menghisap waktu dan energi generasi muda. Mereka dipuaskan oleh hiburan instan yang tidak ada habisnya. Naluri mempertahankan diri justru melemah karena mereka terbiasa mencari pelarian, bukan menghadapi persoalan. Naluri cinta diarahkan ke relasi virtual yang dangkal. Sementara naluri beragama tersisih karena hidup mereka dipimpin notifikasi, bukan nilai.
Tidak mengherankan jika banyak remaja merasa hidupnya kosong meski dikelilingi teknologi canggih. Mereka terlihat aktif di layar, tetapi pasif dalam kehidupan nyata. Mereka punya banyak teman daring, tetapi kesepian dalam hati.
Inilah wajah generasi yang dibentuk oleh kapitalisme digital, cerdas secara teknologi, tetapi lemah secara mental dan spiritual.
Kritik Ideologis: Kapitalisme Menjadikan Generasi Kita Korban
Masalah terbesar dari ruang digital saat ini bukan pada teknologinya, tetapi pada ideologi yang berada di baliknya. Dalam sistem kapitalisme, media digital bukanlah alat untuk mendidik masyarakat, tetapi alat untuk menambang keuntungan.
Semakin lama pengguna menghabiskan waktu di platform digital, semakin besar keuntungan perusahaan. Maka tidak mengherankan jika desain aplikasi dibuat adiktif, algoritma dirancang untuk memicu emosi negatif, dan konten yang merusak dibiarkan menyebar demi menjaga keterlibatan.
Masalah kesehatan mental tidak pernah benar-benar dipedulikan. Ketika perusahaan digital menemukan bukti bahwa platform mereka merusak mental remaja, riset itu justru dihentikan demi menjaga citra dan keuntungan.
Indonesia pun hanya dijadikan pasar—bukan pihak yang dilindungi atau dihormati. Negara sekuler tidak memiliki visi melindungi generasi, apalagi komitmen membangun peradaban. Negara bertindak longgar terhadap perusahaan digital asing, tidak membuat aturan tegas, dan tidak punya upaya sistematis membatasi akses anak-anak terhadap konten berbahaya.
Generasi muda menjadi korban sistem yang hanya peduli pada perputaran uang, bukan kualitas manusia.
Sementara para orang tua dibuat bingung, mereka ingin melindungi anak-anaknya, tetapi tidak punya dukungan kebijakan. Mereka ingin mengatur penggunaan gadget, tetapi lingkungan digital terlalu kuat untuk dilawan sendiri. Inilah bukti bahwa persoalan generasi tidak bisa diselesaikan oleh individu, tetapi memerlukan sistem yang benar-benar berpihak pada manusia.
Solusi Islam: Negara dan Masyarakat Bersatu Menjaga Generasi
Islam memiliki visi besar untuk membangun generasi unggul—bukan sekadar cerdas secara teknologi, tetapi kuat secara mental, spiritual, dan karakter. Dalam sistem Islam, negara berfungsi sebagai râ’in wa junnah—pelindung dan perisai bagi rakyatnya. Negara memiliki misi mewujudkan generasi terbaik sekaligus pemimpin peradaban, sehingga memiliki komitmen kuat terhadap kualitas anak-anak muda.
Negara Islam mengambil langkah preventif untuk membentengi generasi dari pengaruh buruk media digital. Sistem pendidikan Islam menjadikan aqidah sebagai fondasi berpikir, sehingga generasi tumbuh dengan akal yang tajam dan hati yang bersih. Orang tua diberdayakan sebagai madrasah pertama dan utama, bukan sekadar penonton di tengah arus digital. Masyarakat pun berperan aktif dalam amar makruf nahi mungkar, menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan mendukung tumbuhnya kepribadian kuat.
Selain langkah preventif, negara juga mengambil langkah khusus. Konten digital diawasi dengan ketat—hanya yang sesuai Islam yang boleh beredar. Platform yang memuat tayangan merusak diberi sanksi. Tidak semua media sosial diizinkan beroperasi dalam negara Islam, hanya yang membawa manfaat dan tidak merusak akhlak rakyat yang akan diizinkan. Pembatasan usia diterapkan secara sistematis, bukan sekadar imbauan. AI pun diatur agar tidak berdampak buruk pada akal dan akhlak generasi.
Negara tidak membiarkan teknologi tumbuh liar, negara mengarahkannya agar menjadi alat untuk membangun umat, bukan merusaknya.
Dengan sistem seperti ini, ruang digital bukan lagi ancaman, tetapi sarana pendidikan dan dakwah yang melahirkan generasi pemimpin peradaban.
Sistem Islam Kaffah adalah Pelindung Generasi
Kerusakan mental generasi muda hari ini bukan kesalahan mereka. Mereka hanyalah korban dari sistem kapitalisme digital yang kejam, yang menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas.
Karena itu, solusi tidak cukup dengan membatasi penggunaan gadget di rumah. Solusi tidak cukup dengan seminar kesehatan mental. Solusi tidak cukup dengan kampanye literasi digital.
Solusi sejati hanya akan lahir dari penerapan Islam secara kaffah—sistem yang menempatkan manusia, bukan keuntungan, sebagai pusat kebijakan. Sistem yang menjadikan negara, masyarakat, dan keluarga bersatu menjaga generasi. Sistem yang membangun peradaban berbasis aqidah yang kuat.
Jika kita ingin menyelamatkan generasi, kita harus menyelamatkan sistem yang mengatur hidup mereka. Dan hanya Islam yang mampu melakukannya. Wallahu a’lam[] Sumber Foto : Canva

