Generasi muda hari ini tumbuh dalam kondisi biaya hidup yang jauh lebih tinggi dibanding pendapatan mereka, harga rumah melonjak jauh di atas kenaikan gaji, kebutuhan sehari-hari semakin mahal dan biaya pendidikan melambung tanpa kendali.
Oleh : Ghooziyah
WacanaMuslim-Di tengah meningkatnya usia menikah dan menurunnya angka kelahiran, muncul satu fenomena yang semakin banyak diakui generasi muda, mereka takut menikah. Narasi “marriage is scary” bertebaran di media sosial, menjadi semacam pembenaran bagi keresahan yang tumbuh dari kondisi hidup yang semakin sulit. Pernikahan, yang dahulu dipandang sebagai pintu kebaikan dan awal kehidupan baru, kini berubah menjadi momok yang menakutkan.
Fakta menunjukkan bahwa kekhawatiran ini tidak muncul tiba-tiba. Banyak anak muda menilai kestabilan ekonomi jauh lebih penting daripada segera menikah. Bagi mereka, membangun keluarga terasa berat di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok, biaya hunian yang tak terjangkau, serta persaingan kerja yang semakin ketat. Ketika gaji tetap stagnan dan pekerjaan mudah hilang, wajar bila pernikahan dianggap sebagai beban tambahan.
Pada titik ini, ketakutan bukan lagi soal kesiapan mental semata. Ketakutan itu lahir dari luka yang ditorehkan oleh ekonomi kapitalisme.
Fakta: Pernikahan Menjadi Korban Ketidakstabilan Ekonomi
Generasi muda hari ini tumbuh dalam kondisi biaya hidup yang jauh lebih tinggi dibanding pendapatan mereka. Harga rumah melonjak jauh di atas kenaikan gaji. Kebutuhan sehari-hari semakin mahal. Biaya pendidikan melambung tanpa kendali.
Dalam situasi seperti ini mendorong naluri mereka untuk berhati-hati. Mereka lebih memilih menunda pernikahan daripada mengambil risiko hidup miskin setelah menikah. Naluri cinta yang seharusnya mendorong mereka membangun keluarga, justru dibatasi oleh kecemasan ekonomi. Sementara kebutuhan jasmani yang semakin mahal membuat pernikahan terlihat sebagai penambah beban, bukan solusi kehidupan.
Rasa takut itu semakin ditegaskan oleh lingkungan digital. Konten-konten viral memuat kisah kegagalan rumah tangga karena ekonomi, pasangan stres akibat biaya hidup, dan anak muda yang bangga hidup bebas tanpa komitmen. Narasi negatif ini membuat pernikahan kehilangan citra sucinya.
Akibatnya, lahirlah generasi yang menganggap menikah terlalu berisiko. Mereka dibentuk oleh kondisi ekonomi yang mencengkeram dan wacana liberal yang mereduksi keluarga menjadi sekadar pilihan, bukan kebutuhan kemanusiaan dan ibadah.
Kritik Ideologis: Kapitalisme Akar Ketakutan Ini
Jika dicermati lebih dalam, ketakutan menikah adalah gejala dari penyakit besar bernama kapitalisme. Sistem ini menciptakan biaya hidup yang tinggi, lapangan kerja yang sempit, upah rendah, dan persaingan tidak sehat. Remaja dan pemuda tidak kalah mumpuni, tetapi ruang hidup mereka dipersempit oleh mekanisme pasar yang rakus.
Negara sekuler, yang hanya berperan sebagai regulator pasar, cenderung lepas tangan. Ia tidak menjamin kesejahteraan rakyat, tidak mengendalikan harga, tidak menciptakan lapangan kerja memadai. Akibatnya, beban hidup harus dipikul sendiri oleh setiap individu.
Di saat yang sama, pendidikan sekuler dan media liberal menanamkan gaya hidup materialis—bahwa kebahagiaan diukur dengan barang, status, dan kenyamanan finansial. Naluri cinta akhirnya dikalahkan oleh gengsi dan obsesi hidup mewah. Pernikahan dianggap sebagai hal yang menghambat kebebasan, bukan sebagai sarana membangun masa depan umat.
Paradoks pun terjadi, generasi muda ingin dicintai, ingin berkeluarga, ingin membangun kehidupan yang bermakna—tetapi mereka hidup dalam sistem yang membuat semua itu terasa mustahil. Ketakutan menikah adalah jeritan sunyi dari generasi yang dikecewakan oleh sistem yang mengatur mereka.
Solusi Islam: Mengembalikan Keberanian Generasi untuk Menikah
Islam memandang pernikahan sebagai bagian penting dari kehidupan manusia. Ia bukan sekadar ikatan cinta, tetapi ibadah yang menjaga keturunan, memperkuat masyarakat, dan melahirkan generasi kuat. Karena itu, Islam tidak membiarkan rakyat berjuang sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab langsung menjamin kebutuhan pokok rakyat—pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Kesejahteraan tidak diserahkan kepada mekanisme pasar, tetapi dijamin melalui pengelolaan ekonomi yang adil.
Sumber daya alam, energi, hutan, pertambangan, air, dan aset milik umum lainnya tidak boleh dimiliki swasta atau asing. Semua itu dikelola negara, dan hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat. Dengan mekanisme ini, biaya hidup dapat ditekan, lapangan kerja terbuka luas, dan ketakutan miskin setelah menikah tidak lagi menghantui generasi.
Islam juga membangun pendidikan berbasis aqidah. Pendidikan ini tidak hanya menguatkan kecerdasan akal, tetapi juga membentuk karakter. Generasi tumbuh dengan mental yang sehat, tidak terjebak hedonisme, tidak menjadi budak materialisme. Naluri cinta diarahkan dengan benar, bukan melalui hubungan bebas, tetapi melalui ikatan pernikahan yang terhormat. Naluri mempertahankan diri diarahkan pada keberanian memimpin keluarga, bukan lari dari tanggung jawab.
Negara Islam juga memperkuat institusi keluarga. Pernikahan didorong, bukan dipersulit. Mahar tidak dipatok tinggi, biaya resepsi tidak dibebankan pada gengsi, dan masyarakat dibangun di atas norma-norma islami yang memuliakan keluarga.
Islam bukan hanya menawarkan solusi teoritis. Ia menyediakan sistem lengkap yang menjadikan pernikahan mudah, terhormat, dan penuh keberkahan.
Kesimpulan: Sistem Islam Kaffah Adalah Obat Luka Ini
Selama sistem kapitalisme masih memimpin kehidupan manusia, ketakutan menikah akan terus menghantui generasi muda. Sebab akar dari masalah ini bukan pada keberanian individu, tetapi pada sistem yang membuat hidup semakin sulit.
Karena itu, memperjuangkan penegakan syariat Islam secara kaffah bukan hanya agenda politik—tetapi kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan masa depan generasi. Islam satu-satunya sistem yang mampu menurunkan biaya hidup, membuka lapangan kerja, menenangkan kecemasan generasi, dan menjadikan pernikahan sebagai jalan kebaikan yang mudah ditempuh.
Generasi muda tidak takut menikah karena mereka lemah. Mereka takut karena sistem hari ini membuat pernikahan tampak mustahil. Dan hanya Islam yang mampu menghilangkan luka itu. Wallahu a’lam[] Sumber Foto : Canva

