Sesungguhnya saat ini Palestina tidak butuh BoP ataupun bantuan dari Amerika Serikat, yang dibutuhkan saat ini oleh Palestina adalah pembebasan dan kemerdekaan dari pendudukan zionis
Oleh : Yeni Ummu Alvin
Aktivis Muslimah
WacanaMuslim-Presiden Prabowo Subianto mengumumkan keputusan Indonesia untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) dalam kunjungannya ke Davos,Swiss, pada 22 Januari 2026, keputusan ini menimbulkan kontroversi dan memunculkan pertanyaan tentang di mana posisi Indonesia dalam konflik Gaza. Bop merupakan dewan perdamaian yang dibentuk untuk menyelesaikan persoalan di Gaza, namun yang menginisiasi terbentuknya BoP adalah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sontak hal ini menimbulkan berbagai macam pertanyaan akan tujuan yang sesungguhnya, ditambah lagi dalam BoP, sama sekali tidak melibatkan negara Palestina. Diketahui pula lebih dari 20 negara telah bergabung dengan Board of Peace (BoP), diantaranya Albania, Azerbaijan, Belarus, Mesir, Hungaria, Arab Saudi, Pakistan, Kosovo dan Vietnam.
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa buka suara terkait iuran yang harus dibayarkan Indonesia secara sukarela setelah bergabung ke dalam BOP, yakni mencapai US$ 1 miliar atau setara Rp16,7 triliun. Dan pembayaran ini kemungkinan akan dibayarkan melalui APBN. Di tempat terpisah, Menteri Luar Negeri Sugiono menyebutkan bahwa iuran dewan perdamaian akan digunakan untuk melakukan rekonstruksi di Gaza. Diketahui juga jika membayar iuran maka keuntungannya adalah, Indonesia tercatat menjadi anggota tetap dewan perdamaian.(Sumber, CNBC Indonesia)
Melihat dari tujuan dibentuknya BoP yang katanya untuk menyelesaikan konflik di Palestina, seharusnya Palestina dilibatkan dalam badan perdamaian tersebut, namun kenyataannya tidak dilibatkan sama sekali, hal ini menunjukkan bahwasannya ada kepentingan geopolitik dan ekonomi dari Amerika Serikat. BoP merupakan badan penjajahan yang diketuai oleh Donald Trump, yang bertujuan untuk menguasai Gaza, mengusir penduduknya dan membangun Gaza baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara dan menara apartemen. Keberadaan negeri-negeri muslim termasuk Indonesia dalam BoP bentukan Amerika hanya menjadi pelengkap legitimasi, BoP juga adalah alat untuk merealisasikan 20 poin rencana Donald Trump atas Gaza. Keikutsertaan negeri-negeri muslim dalam BoP merupakan penghianatan terhadap muslim Gaza,Palestina.
Bagaimana mungkin negeri-negeri muslim bekerja sama dengan Amerika Serikat yang notabenenya diketahui merupakan pendukung utama dari zionis Israel untuk mencaplok Gaza, tercatat sejak peristiwa 7 Oktober 2023 sudah lebih dari 72.027 orang menjadi korban sedangkan 171 651 orang lainnya luka-luka dan Palestina mengalami kehancuran infrastruktur yang tidak terhingga, dalam jangka tersebut juga sudah beragam solusi diambil, berbagai perundingan bahkan gencatan senjata juga sudah berulang kali dilakukan namun tidak mampu untuk menghentikan konflik yang terjadi, apalagi dengan solusi dari BoP yang gagasannya berasal dari Amerika Serikat, sang biang kerok yang menjadi sekutu utama zionis Israel. Ditambah lagi struktur kepemimpinan dalam BoP yang menetapkan Donald Trump sebagai ketua seumur hidup (chairman of life) hal ini semakin memperkuat kedudukan penjajahan yang sesungguhnya serta memperjelas tujuan utama dibentuknya badan perdamaian ini sesungguhnya adalah untuk melanggengkan penjajahan atas Palestina dengan dukungan dari penguasa negeri-negeri muslim di dalam.
Sesungguhnya saat ini Palestina tidak butuh BoP ataupun bantuan dari Amerika Serikat, yang dibutuhkan saat ini oleh Palestina adalah pembebasan dan kemerdekaan dari pendudukan zionis, kemungkaran dan kezaliman harus segera dihentikan, perdamaian yang hakiki tidak mungkin diberikan oleh mereka yang memerangi umat Islam, haram hukumnya bekerja sama dengan negara kafir harbi fi’lan, perdamaian hakiki bagi rakyat Palestina hanya akan terwujud jika zionis hengkang dari wilayah Palestina dan satu-satunya cara untuk mewujudkan hal ini adalah dengan jihad. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang akan mengomandoi jihad Akbar untuk pembebasan Palestina.
Secepatnya negeri-negeri muslim dan para penguasa muslim keluar dari perjanjian perdamaian yang semu, yang berbeda dengan fakta yang terjadi di lapangan, saat ini Palestina khususnya Gaza semakin merana, umat Islam harus segera menyadari kekuatan yang mereka miliki, sebagai umat yang terbaik, yang menjadi pemimpin di muka bumi, dengan total kaum muslim yang melampaui 2,1 miliar, negeri-negeri muslim harus bersegera menegakkan Khilafah, dengan menjadikan Khilafah sebagai qadhiyah masiriyah (agenda utama) dan bersegera dalam merealisasikannya.
Keberadaan Khilafah sebagai institusi politik global yang akan melindungi kehormatan, darah dan nyawa kaum muslim, serta akan menghancurkan kekuatan dan penjajahan atas negeri-negeri muslim terutama di Palestina, dengan Khilafah maka kekuatan kaum muslim akan dipersatukan dengan satu komando, bersatunya kekuatan militer negeri-negeri muslim dengan komando jihad dari seorang Khalifah maka akan membebaskan Palestina dari penjajahan kafir penjajah, zionis laknatullah ‘alaik.
Hanya dengan Khilafah maka potensi umat Islam yang melimpah akan menjadi satu kekuatan yang tidak terkalahkan, Khilafah juga adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah dan menyebarkannya ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. Wallahu a’lam bishowab.[] Sumber Foto : Canva

