Dakwah bukan tentang Usia, Harta dan Juga Kedudukan.

Bagikan Artikel ini

Oleh : M. Muhajirin ((Majlis Tsaqofah Islamiyah Al Muhajirin, Laren, Lamongan)

WacanaMuslim-Mafhum dalam syari’at Islam,bahwa aktivitas dakwah adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin tanpa kecuali. Definisi terkaiat Dakwah adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Aktivitas dakwah tidak lain dan tidak bukan hanya sekedar mengajak,menyampaikan dan meyeru kepada orang lain agar menjalankan seluruh ketentuan ALLAH ﷻ. Sebab suatu kema’rufan hanyalah hal hal yang berkesesuaian dengan syari’ah.

Dakwah memiliki segmen yang berkesesuaian atas kewajiban nya. Misalnya dakwah Individu,ini hanya sebatas menyerukan kepada orang lain secara individu,begitupun materinya hanya sebatas amalan amalan ibadah mahdhoh semisal sholat,puasa,zakat dst. Lain halnya dengan dakwah yang diemban oleh kelompok, dakwah berkelompok atau berjama’ah memiliki segmen yang lebih luas dan juga dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. misalnya dakwah menghimpun dana umat untuk kepentingan infaq dan pembangunan masjid. ini memerlukan jama’ah serta dakwah dalam menyadarkan Umat secara kolektif. inipun tidak akan bisa dilakukan sendirian. Namun ada dakwah yang diemban oleh sebuah negara yang akan mewujudkan Rahmatan lil Alamin,tentunya dengan metodologi Dakwah keseluruh penjuru dunia serta jihad fii sabilillah.

Permasalahan dakwah yang sering terjadi

Manusia dibekali naluri mempertahankan diri (ghorizatu baqo’), naluri ini muncul tatkala manusia merasa harga dirinya direndahkan atau sesuatu hal yang dicintai mendapatkan ancaman. Secara otomatis naluri ini akan muncul dan merespon fakta yang dihadapinya kemudian melakukan proteksi agar kepuasan batinnya tetap utuh.

Dalam dakwah juga demikian, ada yang merasa memiliki kedudukan diatas yang lainnya kemudian merasa pekerjaan tertentu tidak layak dia kerjakan, padahal dirinya mampu. Begitu juga sebaliknya, merasa tidak punya kedudukan dari pada yang lain, maka menolak amanah dakwah karena merasa tidak pantas atau juga merasa tinggi dari sisi financial akhirnya menyepelekan rekan lainnya untuk melaksanakan pekerjaan dakwah yang berat berat saja, sementara dirinya cukup berkacak pinggang. Atau juga merasa dirinya memiliki kualitas akademis yang tinggi akhirnya mudah menyepelekan rekan lainnya atau juga sebaliknya merasa tidak memiliki kualitas akademisi yang setara dengan lainnya maka selalu menolak untuk diberikan amanah.

Begitulah fakta hambatan dakwah saat ini. Sebenarnya sangat mudah memecahkan problem tersebut dengan melakukan suport kesuksesan dakwah dengan kapasitas masing-masing. Maka hakikatnya seorang orator tidak mungkin bisa menyampaikan pesan ditengah tengah umat tanpa ada seorang yang menyiapkan panggung. Begitupun sebaliknya. Artinya dalam dakwah adalah saling mengisi dan menguatkan, bukan menonjolkan diri sendiri. Tidak boleh antara satu dengan lainnya saling meremehkan apalagi merendahkan. Sebab kelemahan saudara kita sesama muslim adalah sebab kewajiban kita untuk menguatkanya.

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ تَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ (صحيح البخاري ، رقم: ٦٤٨٤).

Artinya: Dari Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Tolonglah saudaramu, yang berbuat zalim maupun yang dizalimi.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, ini (kami paham) menolong orang yang dizalimi. Tetapi, bagaimana menolong orang yang justru menzalimi?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Ambil tangannya (agar tidak berbuat zalim lagi).” (HR Bukhari)

Kesimpulan akhir.

Dakwah bukan perkara Usia, harta, kedudukan, status dll. Namun dakwah adalah perkara utama dalam melaksanakan kewajiban kepada ALLAH ﷻ yang ditaklifkan kepada manusia. Inilah kunci keberlanjutan kehidupan ISLAM yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Maksimal kan peran kita sesuai kapasitas kita masing-masing dalam membela Agama ALLAH ﷺ, jangan justru menjadi benalu dalam kelompok dakwah sehingga menghambat Nashrullah turun lantaran sebab perbuatan kita.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *