Eksploitasi lingkungan tanpa batas, yang dilandasi oleh keserakahan dan ketiadaan rasa takut kepada Allah, telah membawa malapetaka.
Oleh : Hanny N
WacanaMuslim-Baru-baru ini, Kota Bandung kembali dikepung banjir. Kawasan Arcamanik dan Antapani menjadi sorotan karena terdampak cukup parah. Fenomena ini semakin menjadi alarm serius akan buruknya tata kelola lingkungan di kota besar. Meski hujan adalah rahmat dari Allah, di tangan manusia yang abai, ia berubah menjadi bencana.
Penyebab Banjir: Masalah yang Berlapis
Banjir di Bandung bukanlah kejadian baru, tetapi akar masalahnya tampak terus diabaikan. Salah satu penyebab utama adalah sistem drainase yang buruk. Saluran-saluran air sempit dan tak mampu menampung debit air saat hujan deras. Parahnya lagi, perilaku sebagian masyarakat yang membuang sampah sembarangan memperburuk kondisi ini. Sampah yang menyumbat aliran air mempercepat terjadinya genangan.
Selain itu, sedimentasi sungai yang dibiarkan tanpa pengerukan rutin turut menyumbang masalah. Namun, faktor yang paling mengkhawatirkan adalah hilangnya daerah resapan air. Perkembangan kota yang pesat telah mengorbankan wilayah resapan demi membangun perumahan, kafe, vila, dan resort mewah. Paradigma pembangunan yang mengutamakan keuntungan ekonomi ini jelas tidak memperhatikan keseimbangan ekologi.
Di sisi lain, pabrik-pabrik masih menjadi “kontributor setia” pencemaran lingkungan. Limbah-limbahnya dengan mudah dibuang ke sungai tanpa pengolahan memadai. Sampah yang menumpuk di berbagai sudut kota juga menunjukkan lemahnya pengelolaan limbah, sekaligus budaya masyarakat yang belum sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.
Allah Sudah Memperingatkan
Fenomena ini sejatinya telah diingatkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Surah Ar-Rum ayat 41 menegaskan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“
Hujan yang seharusnya menjadi rahmat berubah menjadi bencana karena ulah manusia yang lalai dan serakah. Eksploitasi lingkungan tanpa batas, yang dilandasi oleh keserakahan dan ketiadaan rasa takut kepada Allah, telah membawa malapetaka. Manusia tidak lagi taat pada aturan Allah yang mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan, termasuk dalam hal menjaga alam.
Pembangunan Kapitalis yang Zalim
Paradigma pembangunan dalam sistem kapitalis adalah sumber dari kerusakan ini. Dalam kapitalisme, pembangunan sering kali hanya fokus pada keuntungan finansial tanpa peduli dampaknya pada lingkungan. Lahan hijau yang seharusnya menjadi resapan air diubah menjadi perumahan elit atau pusat komersial. Tak heran, air hujan yang seharusnya terserap ke dalam tanah malah meluap menjadi banjir.
Pembangunan yang tidak terencana ini justru membawa bencana bagi masyarakat luas. Bukan hanya banjir, tetapi juga berbagai dampak lain seperti polusi air, udara, dan meningkatnya suhu kota akibat berkurangnya area hijau. Ironisnya, mereka yang paling menderita akibat kerusakan lingkungan ini adalah rakyat kecil, sementara para pelaku pembangunan kapitalis terus meraup keuntungan.
Paradigma Pembangunan dalam Islam
Islam menawarkan paradigma pembangunan yang berbeda. Dalam Islam, pembangunan tidak sekadar mengejar keuntungan material, tetapi juga memperhatikan kemaslahatan umat dan menjaga keseimbangan alam. Rasulullah SAW bersabda: “Kaum Muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud). Hadis ini menegaskan bahwa sumber daya alam adalah hak bersama dan harus dikelola dengan adil.
Dalam sistem Islam, negara wajib memastikan pembangunan berjalan sesuai syariat. Beberapa prinsip penting dalam paradigma pembangunan Islam antara lain:
- Memelihara Keseimbangan Alam
Pembangunan harus dirancang dengan memperhatikan daya dukung lingkungan. Lahan resapan air tidak boleh dihilangkan, dan kawasan hijau wajib dipertahankan untuk menjaga ekosistem. - Pengelolaan Sampah dan Limbah yang Ketat
Islam menekankan kebersihan sebagai bagian dari iman. Pengelolaan sampah dan limbah harus dilakukan secara sistematis, dengan negara bertanggung jawab menyediakan infrastruktur yang memadai. - Tidak Merusak Alam
Allah melarang perbuatan zalim terhadap alam. Pembangunan yang merusak lingkungan termasuk dalam kategori kezaliman. Negara harus tegas melarang aktivitas seperti penebangan hutan liar, pembuangan limbah sembarangan, atau alih fungsi lahan yang merugikan masyarakat. - Keberlanjutan dan Keadilan
Pembangunan dalam Islam harus berorientasi pada keberlanjutan dan keadilan. Setiap keputusan pembangunan harus membawa manfaat nyata bagi masyarakat tanpa mengorbankan generasi mendatang.
Baca juga : https://wacanamuslim.web.id/muliakan-gurumu-berkahlah-ilmumu/
Mengembalikan Kehidupan Berlandaskan Islam
Masalah banjir di Bandung, atau di daerah lain, hanyalah salah satu contoh dari kerusakan akibat paradigma pembangunan kapitalis. Selama sistem ini tetap menjadi acuan, berbagai bencana lingkungan akan terus terjadi. Umat Islam perlu menyadari bahwa solusi atas permasalahan ini hanya bisa dicapai dengan menerapkan aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk tata kelola lingkungan.
Kembali kepada Islam sebagai sistem hidup yang sempurna adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia dan alam dari kerusakan. Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Sudah saatnya kita berubah, dimulai dengan mengubah paradigma pembangunan yang kita anut. Islam adalah solusi yang membawa rahmat bagi seluruh alam.[]
Sumber Foto : Canva

