Oleh : Tutik Indayani
( Pejuang Pena Pembebasan )
WacanaMuslim-Hari ini jutaan umat di seluruh penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci Makkah untuk menjalankan ibadah haji dan di mana sehari sebelumnya mereka telah melaksanakan ibadah wukuf di Arofah sebagai puncak serangkaian ritual ibadah haji.
Seperti yang Rasulullah ﷺ Sabdakan::
الْحَجُّ عَرَفة َ ُ
“(Inti) ibadah haji adalah wukuf di Arafah” (HR. at-Tirmidzi)
Untuk tahun ini penetapan hari Raya Idul Adha berbeda lagi dan ini juga sudah sering terjadi, akibatnya umat terbiasa dengan perbedaan ini dan mengabaikan apa yang sudah Rasulullah ﷺ sabdakan :
عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ لَمْ نَرَهُ، وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا
“Kami telah diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk mengerjakan manasik (ibadah haji) karena melihat hilal (Bulan Dzulhijjah). Jika kami tidak melihat hilal, lalu ada dua orang saksi yang adil melihat hilal, maka kamipun akan mengerjakan manasik haji berdasarkan kesaksian mereka berdua (HR Abu Dawud dan ad-Daraqothni).
Bukankah perbedaan ini harus menjadi keprihatinan bersama bagi umat Islam, bukan malah menganggap perbedaan ini adalah hal yang wajar karena masing-masing merasa memiliki pendapat yang paling benar, mengikuti pendapat ulama yang mereka percaya. Bahkan sampai ada yang berpendapat tidak apa-apa berbeda, asal umat Islam masih tetap bersatu dan saling menjaga kerukunan.
Pemikiran seperti ini justru sangat membahayakan dan melemahkan bagi umat Islam. Persatuan yang semu di mana terlihat bersatu, tetapi nyatanya umat Islam tercerai-berai dengan pemikiran masing-masing individu ataupun kelompok.
Kalau umat Islam memahami bahwa ibadah haji adalah simbol persatuan umat Islam. Berbagai bangsa, budaya, warna kulit dan bahasa semua melebur jadi satu dalam suasana kekhusyukan menjalankan ritual ibadah haji. Tidak ada lagi perbedaan antara bangsa yang satu dengan yang lain, antara yang kaya dan miskin, yang memiliki pangkat kedudukan ataupun orang biasa. Semua tunduk dan patuh pada satu aturan dengan berbalut kain ihram, sembari mengumandangkan kalimat talbiyah, sembari mengharapkan mendapatkan pahala dan keridhoan dari Allah ﷻ.
Inilah persatuan umat yang sesungguhnya, umat Islam harus bangga dan ini semestinya menjadi tolak ukur bangkitnya umat Islam untuk bersatu, bukan hanya sebatas pada pelaksanaan ibadah haji.
Kekuatan Islam terletak pada persatuan umat, karena dengan bersatunya umat Islam, perbedaan dalam hal ibadah, hukum, bermuamalah dan menjalin hubungan antar negara dapat dengan mudah diselesaikan.
Ibadah haji seharusnya juga dapat menjadi tolak ukur dalam menolong saudara sesama Muslim yang saat ini sedang mengalami diskriminisasi, pelecehan dan penindasan oleh orang-orang kafir, seperti yang dialami oleh saudara kita di Palestina, yang saat ini mereka sangat membutuhkan pertolongan dari saudara-saudaranya sesama Muslim.
Allah ﷻ telah berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
” Sungguh kaum mukmin itu bersaudara ( TQS al-Hujurat : 10)
Dan dikuatkan lagi dengan yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
” Perumpamaan kaum mukmin itu dalam hal saling mengasihi, mencintai dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh ya!g sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakan sakit. (HR al-Bukhari dan muslim).
Inilah sejatinya puncak persatuan umat Islam, saling memiliki empati dan kepedulian terhadap saudara seiman, terutama kepada saudara yang sedang mengalami kemalangan, seperti Palestina.
Bagaimana dengan kondisi umat Islam saat ini? Umat berjalan sendiri-sendiri, bukan lagi satu tubuh. Umat tidak memiliki imam yang mampu memberikan satu komando, satu aturan dalam menjalankan hukum syariat-Nya. Ritual haji hanya sebatas saat menjalankan ibadah haji saja, tidak sampai pada keyakinan untuk di terapkan dalam kehidupan.
Ini akibat umat Islam sudah terpecah belah menjadi beberapa negara dengan konsep Nation-state, di mana konsep ini yang menghambat persatuan umat.
Bukti nyata apa yang terjadi dengan Palestina adalah gambaran bagaimana umat Islam tidak bisa melakukan tindakan yang berarti yang dapat membebaskan Palestina dari cengkraman Israel. Negeri-negeri yang mayoritas penduduknya Muslim tidak memiliki keberanian atau nyali untuk melawan zionis Yahudi Israel, mereka hanya bisa mengecam dan mengutuk di setiap event pertemuan tingkat Internasional.
Bukan hanya tidak berani melawan, yang lebih menyakitkan malah pemimpin-pemimpin Muslim menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan. Contoh seperti Mesir pintu perbatasan ditutup dan menolak kehadiran pengungsi Gaza serta melarang untuk dilalui pemberian bantuan.
Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan :
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzalimi dan tidak menelantarkan saudaranya (HR Muslim).
Karena itu persoalan yang dialami oleh Palestina, juga di Myanmar, India, Cina dan penjuru dunia hanya bisa tuntas dengan persatuan umat di bawah kepemimpinan seorang khalifah dalam naungan khilafah.
Khalifah akan melindungi dan menjaga semua kepentingan umat. Ini karena khalifah adalah perisai umat, sebagaimana Sabda Rasulullah ﷺ :
إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sungguh Imam (Khalifah) adalah perisai, Orang-orang berperang di belakang dia dan menjadikan dirinya pelindung (HR. Muslim).
Dengan persatuan umat Islam dalam naungan khilafah, umat akan sanggup memimpin dunia setelah menyingkirkan dominasi negara-negara barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya. Dapat menciptakan tatanan kehidupan dunia yang harmonis di bawah syariah Islam.
Wallahu a’lam bi Ash shawab []

