Islam Menjamin Kesehatan Untuk Semua

Bagikan Artikel ini

Komersialisasi kesehatan di bawah sistem kapitalisme sekularisme telah mengubah sektor ini menjadi ladang bisnis yang sangat menguntungkan segelintir pihak saja

Oleh : Hanny N

WacanaMuslim-Dikutip dari finansial.bisnis.com (7 Desember 2024), Program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN menghadapi risiko beban jaminan kesehatan yang lebih tinggi dari penerimaannya. Muncul saran agar iuran naik, tetapi berdasarkan perhitungan terbaru, iuran BPJS naik hingga 10% pun tidak cukup dan masih berpotensi menyebabkan defisit dana jaminan sosial.

Kesehatan adalah kebutuhan dasar bagi setiap individu. Sayangnya, meskipun dunia semakin modern dan teknologi kesehatan kian canggih, akses layanan kesehatan masih menjadi problematika yang tak kunjung selesai. Di negeri ini, masyarakat sering kali dihadapkan pada kondisi layanan kesehatan yang tidak merata, biaya yang mahal, serta minimnya perhatian dari penguasa terhadap pemenuhan kebutuhan ini. Alih-alih mendapatkan layanan terbaik, banyak warga justru kesulitan untuk mengakses hak dasarnya.

Fasilitas kesehatan yang tidak merata menjadi salah satu persoalan utama. Di kota-kota besar, rumah sakit megah dan peralatan medis canggih memang mudah dijumpai. Namun, kondisi berbeda terjadi di daerah pelosok. Fasilitas kesehatan minim, tenaga medis yang tidak mencukupi, serta sulitnya akses menjadikan masyarakat di daerah terpencil kesulitan mendapatkan pengobatan. Sementara itu, di banyak tempat, biaya layanan kesehatan masih menjadi momok yang menakutkan. Mahal! Komersialisasi kesehatan di bawah sistem kapitalisme telah mengubah sektor ini menjadi ladang bisnis yang menguntungkan segelintir pihak. Layanan kesehatan yang seharusnya menjadi hak publik, kini hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mampu membayar.

Kepemimpinan Sekular Abai Terhadap Rakyat

Di bawah kepemimpinan sekular, negara hanya berperan sebagai regulator dan fasilitator. Artinya, negara lebih banyak membuat kebijakan dan peraturan yang justru memberi ruang kepada pihak swasta untuk mengambil alih peran layanan publik. Lihat saja, banyak rumah sakit swasta yang berdiri megah, tetapi dengan tarif yang sangat mahal. Sementara rumah sakit milik pemerintah, meskipun lebih murah, sering kali memiliki keterbatasan dari segi fasilitas maupun kualitas pelayanan. Situasi ini menunjukkan bahwa negara abai terhadap perannya sebagai raa’in, pemelihara rakyat.

Narasi pemerintah soal prioritas anggaran kesehatan pun sering kali hanya sekadar janji manis. Faktanya, anggaran yang digelontorkan untuk sektor kesehatan sering kali tidak memadai dan salah alokasinya. Bahkan, peningkatan standarisasi profesi kesehatan lebih sering diarahkan untuk kepentingan korporasi, bukan demi melayani rakyat secara keseluruhan. Di bawah sistem kapitalisme, kesehatan telah dikapitalisasi, menjadi industri yang dikendalikan oleh kepentingan pasar.

Islam Memandang Kesehatan sebagai Hak Dasar Publik

Dalam Islam, kesehatan adalah hak dasar yang harus dijamin oleh negara. Negara memiliki kewajiban untuk menyediakan layanan kesehatan berkualitas bagi seluruh rakyatnya, tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau wilayah tempat tinggal. Kepemimpinan Islam, yang dipimpin oleh seorang Khalifah, memiliki visi yang jelas dalam memenuhi kebutuhan rakyat, termasuk dalam bidang kesehatan.

Khalifah adalah raa’in, pemimpin yang bertanggung jawab atas urusan rakyatnya. Rasulullah SAW bersabda, “Imam (pemimpin) itu adalah pemelihara, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam sistem Islam, pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, termasuk kesehatan, adalah amanah yang harus ditunaikan oleh pemimpin. Khalifah akan memastikan layanan kesehatan tersedia hingga ke pelosok negeri dengan fasilitas yang memadai, tenaga medis berkualitas, dan yang paling penting: gratis.

Sejarah Khilafah dalam Jaminan Kesehatan

Sejarah mencatat bagaimana kepemimpinan Islam memberikan perhatian besar terhadap sektor kesehatan. Pada masa kekhilafahan, rumah sakit (bimaristan) dibangun di berbagai wilayah. Rumah sakit ini tidak hanya menyediakan layanan medis gratis, tetapi juga menjadi pusat penelitian dan pengembangan ilmu kedokteran. Bahkan, rumah sakit Islam pada masa itu memiliki fasilitas yang lengkap dan canggih untuk zamannya, seperti ruang isolasi, ruang rawat inap, dan apotek.

Sebagai contoh, pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah, dibangun rumah sakit yang dikenal dengan nama Bimaristan Al-Adudi. Rumah sakit ini melayani masyarakat tanpa memungut biaya sepeser pun. Tenaga medis yang bertugas pun dipilih dari kalangan terbaik di bidangnya. Tak hanya itu, negara juga memberikan gaji yang layak kepada para tenaga medis, sehingga mereka bisa fokus melayani rakyat dengan profesional.

Kisah serupa terjadi di masa Kekhilafahan Utsmaniyah. Sultan Muhammad Al-Fatih, yang dikenal sebagai penakluk Konstantinopel, mendirikan rumah sakit dengan fasilitas unggul yang mampu melayani seluruh lapisan masyarakat. Fasilitas ini tidak hanya melayani umat Islam, tetapi juga non-Muslim. Keadilan dalam memberikan layanan kesehatan benar-benar diwujudkan dalam sistem Islam.

Kesehatan Gratis dan Berkualitas, Solusi Hakiki

Jaminan kesehatan yang merata, berkualitas, dan gratis hanya mungkin terwujud dalam kepemimpinan Islam. Berbeda dengan sistem kapitalisme yang menjadikan kesehatan sebagai komoditas, sistem Islam menjadikannya sebagai tanggung jawab negara. Negara akan mengalokasikan anggaran yang memadai untuk sektor kesehatan dari sumber-sumber pemasukan yang halal, seperti pengelolaan kekayaan alam dan baitul mal.

Dalam sistem Islam, rakyat tidak akan dipusingkan dengan biaya berobat yang mahal. Mereka juga tidak perlu khawatir dengan kualitas layanan medis. Negara akan memastikan semua tenaga kesehatan mendapatkan pendidikan terbaik dan fasilitas kesehatan dipenuhi dengan teknologi yang mendukung.

Kepemimpinan Islam bukanlah utopia. Ini adalah sistem pemerintahan yang pernah diterapkan selama lebih dari 13 abad, dan terbukti mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, termasuk dalam bidang kesehatan. Maka, sudah saatnya kita membuka mata dan hati untuk melihat bahwa solusi atas problem kesehatan hari ini terletak pada penerapan syariat Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah.

Dengan kepemimpinan Islam, kesehatan untuk semua bukan lagi sekadar angan-angan, tetapi sebuah realitas yang bisa dinikmati oleh setiap individu, tanpa terkecuali, insyaallah. Wallahu’alam bish shawab.[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *