Gagasan ini sekilas tampak seperti solusi damai antara Palestina dan Israel, namun jika dicermati lebih dalam, justru tampak sebagai upaya penyesatan opini public untuk melegitimasi agenda politik yang lebih besar.
Oleh : Azzah Labibah
Agenda Penjajagan Baru atas Gaza
Tragedy kemanusiaan yang masih memprihatinkan di Gaza Strip masih terjadi, kehancuran akibat agresi militer terus menyisakan penderitaan mendalam. Ribuan rumah rata dengan tanah, ratusan ribu warga hidup di tenda pengungsian, bahkan aktivitas pendidikan yang terhenti.Sementara itu di West Bank, kekerasan terus terjadi berupa penembakan, pembunuhan, dan pnggusuran yang dilakukan oleh tentara Israel Defense Forces maupun pemukiman illegal Israel terhadap warga Palestina.
Di tengah kondisi ini, muncul wacana pembentukan Board of Peach (BoP) yang diprakarsai oleh Donald Trump dari United States. Bersamaan dengan itu dibentuk pula National Committee for the Administration of Gaza (NCAG) yang terdiri dari 15 teknorat Gaza. Komite ini disebut akan mengawasi proses pelucutan senjata, menjaga satu sistem hukum dan rantai komando, serta mengintegrasikan atau membubarkan kelompok bersenjata di Gaza setelah proses verifikasi.
Gagasan ini sekilas tampak seperti solusi damai antara Palestina dan Israel, namun jika dicermati lebih dalam, justru tampak sebagai upaya penyesatan opini public untuk melegitimasi agenda politik yang lebih besar.
Krisis yang terus terjadi di Gaza dan Tepi Barat tidak dapat dilepaskan dari agresi berulang yang dilakukan oleh Israel. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai perjanjian damai yang pernah dibuat berkali-kali dilanggar oleh Israel sendiri. Bahkan setelah kesepakatan internasional, pembangunan pemukiman illegal, penggusuran warga Palestina, dan operasi militer tetap dilakukan.
Hal ini membuat warga Palestina sangat skeptis terhadap gagasan BoP. Selama ini, United States selalu berada di belakang Israel, baik secara politik maupun militer. Dalam forum internasional seperti United Nations, Amerika Serikat berkali-kali menggunakan hal veto untuk melindungi Israel dari kecaman dunia. Dengan rekam jejak seperti itu, wajar jika banyak pihak yang menilai bahwa BoP bukanlah solusi damai dalam perselisihan ini, melainkan alat politik untuk melenggengkan dominasi Israel.
BoP dan Agenda “New Gaza”
Kekhawatiran terbesar dari rencana BoP adalah kemungkinan digunakan sebagai legitimasi untuk agenda yang lebih berbahaya yang dimana mecakup pembersihan etnis, genosida, serta perampasan tanah Palestina.
Dengan dalih rekontruksi dan stabilitas keamanan, proses pelucutan senjata terhadap kelompok perlawanan Palestina bisa membuka jalan bagi kontrol penuh Israel atas Gaza. Jika kelompok perlawanan dilucuti sementara Israel tetap mempertahankan kekuatan militernya, maka keseimbangan kekuatan akan hilang sepenuhnya.
Dalam konteks ini, pembentukan NCAG juga dipandang bukan sebagai representasi perjuangan rakyat Palestina, tetapi sebagai bagian dari arsitektur BoP untuk mengendalikan Gaza dari dalam. Komite teknorat semacam ini dapat dijadikan alat administrative untuk menjalankan agenda politik yang sebenarnya dirancang oleh kekuatan ekstrenal.
Dengan kata lain, penunjukan lembaga semacam itu berpotensi menjadi upaya penyesatan opini, seolah-olah proses ini merupakan inisiatif rakyat Palestina, padahal berada dalam kerangka kepentingan geopolitik Amerika dan Israel.
Bahaya Dukungan Penguasa Negeri Muslim
Tidak sampai disitu saja, kekhawatiran yang besar adalah sebagian penguasa negeri-negeri muslim justru mendukung atau terlibat dalam skema BoP. Dukungan ini dapat memberikan legitimasi politik bagi agenda yang sebenarnya merugikan rakyat Palestina.
sejarah menunjukkan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel atau berbagai kesepakatan damai yang dimediasi kekuatan Barat tidak pernah benar-benar menghentikan penjajahan. Akibatnya, umat Islam justru terpecah, sementara Israel semakin memperkuat posisinya di kawasan.
Islam memandang terhadap Permusuhan Israel
Islam telah memberikan peringatan tentang sikap permusuhan terhadap kaum muslim. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa pihak yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orangn beriman adalah kaum Yahudi dan orang-orang musyrik (QS. Al-Maidah: 82)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kaum muslim tidak boleh mudah percaya pada janji perdamaian yang justru digunakan untuk melemahkan umat. Selain itu, Allah SWT juga menegaskan bahwa kaum yang melakukan kerusakan di muka bumi tidak boleh dijadikan sandaran atau sekutu. Karena itu, bergantung pada solusi politik yang dirancang oleh kekuatan penjajah justru akan memperpanjang penderitaan umat.
Saatnya Umat sadar dan bersatu Melawan Penjajahan
Penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina tidak akan berakhir hanya dengan kesepakatan diplomatik seperti BoP. Selama struktur kekuasaan globa; masih berpihak pada penjajah, maka solusi semacam ini hanya akan memperpanjang konflik.
Karena itu umat Islam harus menyadari bahwa pembebasan Palestina membutuhkan persatuan umat secara global. Islam melarang memberikan jalan bagi ornag kafir untuk menguasai kaum muslim (QS. An-Nisa: 141). Prinsip ini menegaskan pentingnya kemandirian politik dan kekuatan umat.
Dalam perspektif Islam, pembebasan wilayah yang dijajah tidak cukup dengan diplomasi semata. Islam memiliki konsep jihad sebagai upaya mempertahankan dan membebaskan tanah kaum muslim dari penjajahan. Namun jihad bukan tindakan sporadis, melainkan dilakukan dalam kerangka kepemimpinan politik Islam yang sah. Dalam literatur fiqih siyasah dijelaskan bahwa jihad dipimpin oleh Amirul Jihad di bawah kepemimpinan negara Islam.
Karena itu, solusi mendasar bagi persoalan Palestina menurut perspektif Islam adalah:
- Membangun kesadaran politik umat bahwa konflik Palestina adalah persoalan penjajahan terhadap umat Islam.
- Menyatukan kekuatan kaum muslim di seluruh dunia untuk melawan dominasi politik dan militer Barat
- Mengakhiri ketergantungan pada solusi Barat yang terbukti hanya menguntungkan penjajah
- Menegakkan kembali kepemimpinan politik Islam (Khilafah Rasyidah) yang mampu menyatukan umat dan mengerahkan kekuatan militer untuk membebaskan wilayah yang dijajah.
Sejarah menunjukkan bahwa selama berabad-abad wilayah Palestina berada dalam keamanan ketika berada di bawah pemerintahan Islam. Perlindungan terhadap penduduk muslim maupun non muslim dijamin oleh syariat. Sebab, Islam merupakan Rahmatat Lil Aalamin, yang merupakan rahmat bagi seluruh alam tanpa terkecuali.
Dengan demikian, pembentukan BoP dan NCAG bukanlah solusi hakiki bagi penderitaan rakyat Palestina, melainkan berpotensi menjadi alat legitimasi agenda politik United States dan Israel untuk memperkuat dominasi mereka atas Gaza Strip dan West Bank. Karena itu, umat Islam harus bersikap kritis terhadap setiap narasi perdamaian yang justru menguntungkan penjajah, Pembebasan Palestina tidak cukup dengan diplomasi yang sarat kepentingan, tetapi membutuhkan persatuan umat dan kekuatan politik Islam yang mampu menghentikan penjajahan secara nyata hingga kemerdekaan Palestina benar-benar terwujud. Wallahua’lam[] Sumber Foto : Canva

