Sistem kesehatan Gaza kini lumpuh total, menyisakan tubuh-tubuh kecil yang tak sanggup lagi melawan dingin, lapar, dan sakit yang tak terperi
Poppy Kamelia P. BA(Psych), CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS.
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)
WacanaMuslim-Hati siapa yang tidak hancur melihat penderitaan anak-anak Gaza? Setiap jam, seorang anak kehilangan nyawa akibat agresi Israel yang tak berkesudahan (Beritasatu.com, 25-12-2024). Bagi mereka yang masih bertahan hidup, neraka dunia menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi setiap hari. Dimana mereka merindukan pelukan orang tua yang telah tiada, menahan pedihnya perut kosong yang tak pernah terisi, dan hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang terus menghantui.
Rumah sakit, tempat yang seharusnya menjadi pelita terakhir bagi yang terluka, kini berubah menjadi puing-puing. RS Kamal Adwan di Gaza Utara, simbol harapan bagi ribuan jiwa, telah hancur lebur dihantam serangan. Sistem kesehatan Gaza kini lumpuh total, menyisakan tubuh-tubuh kecil yang tak sanggup lagi melawan dingin, lapar, dan sakit yang tak terperi (Republika.co.id, 28-12-2024).
Musim dingin kali ini, menurut laporan UNRWA, menjadi salah satu yang paling memilukan bagi anak-anak Gaza. UNICEF bahkan menyebut tahun ini sebagai salah satu tahun terburuk dalam sejarah bagi mereka (CNN Indonesia, 28-12-2024). Tapi, di tengah kepedihan ini, apa yang dilakukan dunia internasional?
Dunia internasional sekali lagi membuktikan kebisuannya. Pemimpin negara-negara muslim, yang seharusnya menjadi garda terdepan melindungi Gaza, hanya menjadikan Palestina alat politik untuk membangun citra. Di depan publik, mereka menyuarakan dukungan, tetapi di balik layar, mereka tunduk pada solusi dua negara yang sejatinya hanya memperpanjang derita Palestina.
Kapitalisme, sistem yang mengutamakan kekuasaan dan keuntungan di atas segalanya, menjadi mesin yang melanggengkan penjajahan. Sistem ini memberikan jalan bagi Zionis untuk terus menindas, sementara dunia hanya mampu mengutuk tanpa tindakan nyata. Ketidakadilan ini terus berulang karena dunia memilih terikat pada sistem yang sama, sistem yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan demi menjaga status quo.
Anak-anak Gaza tidak butuh simpati tanpa arti, tidak butuh kata-kata indah yang berakhir menjadi abu. Mereka butuh tindakan nyata, sebuah langkah besar yang mampu menghentikan penderitaan ini. Dan tugas itu ada di tangan kita, umat Islam.
Kita tidak bisa lagi menunggu keajaiban dari mereka yang justru menjadi sumber penderitaan ini. Sudah saatnya kita menyadari bahwa tanggung jawab ini adalah milik kita, saudara seiman yang dipanggil oleh nurani untuk membela yang lemah.
Kita butuh kebangkitan, sebuah pergerakan yang lahir dari hati dan pikiran yang bersatu. Pemuda-pemuda Muslim di Timur Tengah harus bangkit melawan rezim yang menjadi perpanjangan tangan penjajahan. Mereka harus bergerak, bukan hanya untuk Gaza, tetapi untuk seluruh umat Islam yang tertindas.
Namun, perjuangan ini tidak bisa dilakukan tanpa arah yang jelas. Kita butuh kepemimpinan sejati, sebuah sistem yang memimpin dengan keadilan berdasarkan wahyu, bukan kepentingan semata. Kaum Muslim harus menuntut tegaknya Khilafah, sebuah sistem yang selama berabad-abad telah menyatukan umat dan melindungi mereka dari penindasan.
Khilafah inilah yang akan melahirkan seorang Khalifah, pemimpin umat yang tak hanya membebaskan Gaza tetapi juga mengembalikan kehormatan umat Islam. Dengan itu, mimpi kebebasan Palestina akan menjadi kenyataan.
Anak-anak Gaza memanggil kita. Mereka tidak meminta banyak—hanya hak untuk hidup tanpa rasa takut, untuk bermain tanpa suara bom, dan untuk bermimpi tanpa ancaman kematian. Mereka bertanya dalam tangis, Apakah kita, saudara mereka, akan terus diam?
Jika kita tidak bergerak sekarang, kapan lagi? Jika air mata anak-anak Gaza tidak menggugah hati kita, apalagi yang akan? Gaza adalah ujian bagi nurani kita, bagi kepedulian kita sebagai umat terbaik yang dipilih untuk menegakkan keadilan di muka bumi.
Mari buktikan bahwa kita peduli. Mari bergerak dengan seluruh kekuatan, menyatukan hati, pikiran, dan langkah hingga Gaza bebas dari penjajahan. Karena anak-anak Gaza adalah anak-anak kita, dan mereka berhak atas masa depan yang lebih baik. Kita tidak boleh gagal, sebab kegagalan kita adalah kematian mereka. Wallahu A’lam Bisshawaab[]
Sumber Foto : Canva

