Oh Ibu! Dimanakah Nuranimu ?

Bagikan Artikel ini

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah.

Intan
(Pemerhati Keluarga)

WacanaMuslim-Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah. Dari peribahasa di atas menjelaskan bahwa kasih Ibu itu tidak terbatas, dia akan berusaha sekuat mungkin untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan anaknya. Tapi saat ini yang terjadi, ada kasus yang di luar nalar kita sebagai manusia. Secara fitrah seorang ibu adalah penyayang, tapi dalam keadaan sadar telah menjual darah dagingnya sendiri. Hilangkah nuraninya?.

Baru-baru ini Polda Jawa Barat berhasil mengungkap sindikat jual beli bayi yang telah menjual sebanyak 24 bayi ke Singapura dengan harga Rp. 11-16 juta. (BeritaSatu.com, Selasa, 15/7/2025 ).

Fenomena ini terjadi karena beberapa alasan. Antara lain karena persoalan kemiskinan yang bersifat struktural. Bagaikan puncak gunung es yang siap memuntahkan batu-batu es. Yang selama ini mengendap ingin mencari jalan keluarnya.

Masalah lemahnya perlindungan terhadap wanita dan anak-anak dari cengkraman kriminalitas, serta kurangnya pendidikan fundamental yang menanamkan akidah bagi setiap Muslim.

Fakta yang telah terungkap belakangan ini tentang kasus penjualan bayi yang marak, setidaknya menggugah hati nurani kita sebagai manusia, makhluk yang paling mulia diantara makhluk lain Ciptaan Alloh SWT.

Dan dibalik kasus ini ternyata adanya oknum-oknum Penjabat yang juga ikut menfasilitasi untuk mempermudah penjualan bayi ini dan membuat data-data yang diperlukan. Lalu dimanakah Peran Negara untuk melindungi Rakyatnya?.

Inilah kenyataan hidup di sistem kapitalisme, sekulerisme, dan liberalisme. Semua dihitung berdasarkan nilai manfaat dan jumlah besarnya uang yang didapat. Nurani nomor bontot untuk dilirik!. Dapat kita rasakan kerusakan makin menjadi, karena kita makin jauh dari aturan Sang Pencipta Alloh SWT. Dan dari ketiga masalah diatas ditambah lagi adanya oknum-oknum, semua itu saling berkaitan dan berdampak makin rusaknya kehidupan saat ini.

Kemiskinan disebabkan banyaknya pengangguran karena negara tidak berperan ikut menyediakan lapangan pekerjaan sehingga kemiskinan dan tindak kriminal makin meningkat. Hal ini menyisir juga ke masalah perlindungan wanita dan anak-anak yang lebih mudah dieksploitasi oleh oknum-oknum tersebut. Dan yang paling dasar dari terjadinya masalah itu karena tidak adanya pendidikan dan pemahaman tentang Akidah Islam. Bagaimana keyakinan kita akan konsep rezeki. Bahwa Allah SWT yang telah menjamin rezeki setiap makhluk ciptaannya. Sehingga tidak akan mudah tergoda dengan iming-iming uang dari penjualan buah hatinya yang seharusnya dia lindungi dan kasihi.

Dalam sistem Islam, wanita dan anak-anak, lansia dan orang berkebutuhan khusus benar-benar mendapatkan perhatian serta perlindungan besar dari negara.

Dalam sistem Islam semua dijalankan sesuai Syariat Islam yang mana negara menjamin semua kebutuhan pokok masyarakatnya : sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Aturan Islam sangat sempurna dalam mengatur perekonomian. Apabila terjadi beberapa masalah, negara langsung mencari solusi hingga ke akarnya.

Seperti masalah kemiskinan, diupayakan apa saja penyebabnya. Negara akan membuka lapangan pekerjaan, yang tidak punya modal akan diberi bantuan dana bisa berupa uang atau alat-alat yang dibutuhkan, jika ada yang ingin mengelola pertanian/perkebunan akan diserahi untuk mengelola tanah-tanah yang terlantar. Dalam hal perdagangan pun tidak boleh menimbun, semua harus didistribusikan sesuai kapasitas di dalam masyarakat tersebut. Penipuan juga diminimalisir sehingga mafia-mafia tidak akan bisa memonopoli jual beli dalam masyarakat. Masalah penggajian harus secara adil sesuai dengan jasa bukan berdasar UMR (Upah Minimum Regional).

Seperti Sistem Ekonomi di masa Khalifah Umar. Dengan pendirian dan pengoperasian Baitul Maal ditambah pengoptimalan pendapatan dari zakat, jizyah, ghanimah dll. Serta pengelolaan sumber daya alam yang nantinya benar-benar untuk kesejahteraan masyarakatnya. Terutama wanita dan anak-anak. Mereka dijamin kebutuhan pokoknya. Anak-anak dan ibu hamil akan dipenuhi kebutuhan nutrisinya, bayi hingga dewasa akan dijamin biaya pendidikannya, dll.

Tidakkah kita menginginkan hal itu terjadi?.

Dengan adanya peran negara, seorang ibu bisa menjalankan perannya sebagai UMMU WA ROBBATUL BAIT dan AL UMMU MADRASATUL ULA. Dimana seorang ibu berperan utama bagi anak-anaknya untuk bertanggungjawab membentuk karakter dan kepribadian sesuai Syariat Islam. Sehingga akan mencetak generasi-generasi berkualitas untuk melanjutkan estafet perjuangan dan pengokoh barisan Pejuang Dakwah. Karena rusaknya wanita terutama seorang ibu maka rusak pula peradaban saat itu.
Wallahu a’lam bishshawab.[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *