Wahai kaum Muslim, belumkah fakta kerusakan sistemik ini, membangunkan kesadaran kita semua, untuk bangkit dengan Aqidah Islamiyah yang kita imani, sebagai mabda’ atau Way of Life tanpa terjebak kesyirikan dengan mabda’ buatan manusia dari Ideologi demokrasi kapitalis dan sosialis komunis yang jelas-jelas mencampakkan aturan Allah?
Oleh : Arifah Azkia N.H., S.E
WacanaMuslim-Media tengah digemparkan dengan trendingnya unggahan “Peringatan Darurat” dengan Garuda Pancasila berlatar warna biru, warganet yang menaikkan tagar tersebut beramai-ramai ikut mengunggah simbol garuda biru dengan suara sirine tanda bahaya. Adapun Maksud peringatan darurat yang muncul di media sosial dan google merupakan ajakan dari warganet untuk bersama-sama mengawal putusan MK menjelang pilkada 2024 yang digelar serentak dalam waktu dekat. Sebab, langkah DPR yang berupaya merevisi UU Pilkada untuk melawan putusan MK dianggap hanya menguntungkan Presiden Jokowi dan kelompoknya. (Kompas.com 22-8-2024)
Alih-alih mendengar suara rakyat, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi malah merespon bahwasannya tagar “Peringatan Darurat Indonesia” merupakan bentuk kebebasan demokrasi. “Enggak ada tanggapan. Kan enggak apa-apa kan? Biarkan aja, itu bagian dari kebebasan berekspresi,” ujar Hasan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22-8-2024). Hasan juga menegaskan, tidak perlu takut jika tagar “Peringatan Darurat Indonesia” menjadi sorotan internasional. Ya kenapa kita harus takut disorot? Maksudnya itu perkembangan yang berkembang di Indonesia. Ada perbedaan pendapat, ada penyampai ekspresi, kita hormati aja. Enggak usah khawatir dengan itu. Kita juga enggak khawatir dengan itu,” tegasnya.
Beginilah sejatinya potret praktik politik demokrasi kapitalis hanya akan melahirkan kekuasaan dan penguasa yang memperturuti syahwat hawa nafsu untuk berkuasa dalam arogansi kepongahan atas harta dan dinasti kekuasaan yang ingin dimiliki dengan menghalalkan segala cara.
Kemarahan rakyat telah diubun-ubun melihat konspirasi permainan praktik politik Demokrasi kapitalis yang telah ditampilkan di depan kenestapaan dan penderitaan rakyat dengan telanjang tanpa ada rasa malu lagi, mengejar kekuasaan dinasti, kartelisasi partai politik, ormas dakwah yang terbeli hingga intelektual dan para akademisi yang hilang daya kritis dan sense belonging-nya.
Sementara KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) bak jamur di musim hujan, adapun hukum lancung atau penuh kecurangan sebatas parodi fragmen yang meredam kemarahan rakyat atas ketidakadilan dan kedzaliman yang dipertontonkan. Betapa banyak masalah-masalah kontroversional yang dibuat oleh penguasa. Dan seolah-olah dibatalkan, tetapi mendadak di sahkan dan di ketok palu dengan berbagai cara tipu daya, tanpa mengindahkan suara rakyat. Dan lagi-lagi rakyat dipaksa untuk menerima dan berpasrah.
Realitas ini harusnya membuka pikiran dan perasaan kaum muslim, untuk mencampakkan kefasadan demokrasi kapitalis untuk diganti dengan implementasi Islam Kaffah sebagai solusi sempurna dan paripurna, yang akan menjadikan muslim tunduk dan taat sebagai Kholifatul fil ardhi untuk mewujudkan tegaknya Keadilan, merealisasikan Kemakmuran serta mengundang hadirnya Keberkahan dari langit dan bumi.
Wahai kaum muslim, sungguh tiada keadilan, tiada tegaknya supremasi hukum, tiada kemakmuran dan kesejahteraan dan tiada hadirnya Keberkahan dari langit dan bumi, jika kita masih berharap pada kekuasaan dan penguasa produk politik demokrasi kapitalis, bersegeralah mengambil peran perubahan dalam aktivitas Dakwah Islam Kaffah dengan berittiba’ pada Rasulullah Muhammad Saw hingga nasrullah itu menjadi realitas ditengah kegelapan pratik politik demokrasi kapitalis yang fasad dan menyesatkan.
Wahai kaum Muslim, belumkah fakta kerusakan sistemik ini, membangunkan kesadaran kita semua, untuk bangkit dengan Aqidah Islamiyah yang kita imani, sebagai mabda’ atau Way of Life tanpa terjebak kesyirikan dengan mabda’ buatan manusia dari Ideologi Demokrasi Kapitalis dan Sosialis Komunis yang jelas-jelas mencampakkan aturan Allah?
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa’ : 59)
اَفَحُكْمَ الْجَـاهِلِيَّةِ يَـبْغُوْنَ ۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّـقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) Siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?”
(QS. Al-Maidah : 50)
Wallahu a’lam bissowab[]
Sumber Foto : Canva

