Nilai-nilai sekular ini menyusup halus ke ruang keluarga melalui hegemoni media kapitalisme global, ia mengikis obrolan hangat antara ibu dan anak, menggantikannya dengan kesibukan menatap layar masing-masing
Oleh: Imtinana Nafilah
WacanaMuslim-Malam ini sebuah kamar yang terkunci rapat. Di dalamnya, seorang anak remaja duduk meringkuk di sudut tempat tidur. Cahaya dari layar gawainya menerangi wajahnya yang sembap. Di media sosial, ia mungkin terlihat ceria melalui foto-foto estetik yang diunggahnya. Namun, di dunia nyata, jemarinya gemetar menahan sesak, menanggung beban perundungan siber (cyberbullying) atau tekanan nilai rapor yang tak kunjung memuaskan standar orang-orang di sekitarnya.
Pemandangan memilukan ini bukan lagi fiksi ilmiah. Ini adalah kenyataan pahit yang hari-hari ini mengetuk pintu rumah-rumah kita. Kita sering terhenyak saat membaca berita tentang anak usia sekolah dasar yang nekat mengakhiri hidup, atau saat melihat fenomena self-harm (menyakiti diri sendiri) jadi tren di kalangan pelajar. Kasus-kasus aktual ini mencuat ke permukaan seperti puncak gunung es yang mengerikan.
Jika kita membedah data dari healing119.id dan KPAI, alasan di balik jeritan minta tolong anak-anak kita ini sungguh kompleks. Konflik internal di dalam rumah mendominasi sebesar 24-46%, disusul oleh gangguan psikologis (8-26%), jerat perundungan (14-18%), hingga beban akademik yang menghimpit (7-16%). Angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas; mereka adalah akumulasi rasa sepi, cemas, dan keputusasaan dari generasi yang jiwanya rapuh sebelum waktunya.
Mengapa Generasi Serba Ada Ini Justru Paling Merana?
Kita mungkin sering heran: mengapa generasi yang lahir di era fasilitas serba mudah dan teknologi serba ada ini justru menjadi generasi yang paling terluka mentalnya? Sekolah sudah menyediakan ruang konseling, satgas antiperundungan dibentuk di mana-mana, dan seminar mental health diadakan setiap pekan. Tapi mengapa gelombang depresi ini tak kunjung surut?
Mari kita jujur melihat sekeliling. Anak-anak kita hari ini tumbuh dalam ekosistem kehidupan yang sekuler-liberal—sebuah sistem yang memisahkan nilai-nilai langit (agama) dari rutinitas bumi (kehidupan). Sejak kecil, anak-anak disodori standar kesuksesan materialistik. Mereka baru dianggap “berharga” jika angka di rapornya sempurna, jika prestasinya bisa menghasilkan materi, atau jika jumlah pengikutnya di media sosial melimpah.
Nilai-nilai sekular ini menyusup halus ke ruang keluarga melalui hegemoni media kapitalisme global. Ia mengikis obrolan hangat antara ibu dan anak, menggantikannya dengan kesibukan menatap layar masing-masing. Ketika sekolah dan lingkungan tidak lagi menjadikan akidah sebagai pondasi, anak-anak kehilangan jangkar spiritualnya. Begitu ujian hidup datang menjemput, mereka langsung tumbang karena tidak pernah diajarkan untuk apa sebenarnya mereka diciptakan di dunia ini. Mereka merasa berjalan sendirian di tengah kompetisi dunia yang melelahkan.
Islam: Memeluk Jiwa dari Akar hingga Pucuk
Mengatasi darurat mental anak tidak bisa hanya dengan jurus “pemadam kebakaran“—baru sibuk mendampingi dan membuat kebijakan darurat saat sebuah kasus sudah terlanjur viral. Islam memandang kesejahteraan mental anak sebagai satu kesatuan yang utuh, yang harus dilindungi secara sistemik melalui tiga pilar utama:
Pertama, Negara sebagai Pelindung Utama (Ra’in dan Junnah) . Negara dalam pandangan Islam tidak boleh absen atau hanya menjadi pengawas pasif. Negara bertindak sebagai benteng yang menyaring ruang digital dari konten-konten merusak, sekaligus memastikan roda ekonomi berputar dengan adil agar tidak ada lagi ayah dan ibu yang bertengkar di depan anak hanya karena himpitan finansial. Rumah harus dikembalikan fungsinya sebagai madrasah pertama yang penuh kasih sayang.
Kedua, Sistem Pendidikan yang Memanusiakan. Islam mengintegrasikan politik pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Sekolah bukan pabrik yang mencetak buruh industri, melainkan tempat menyemai manusia-manusia beradab. Layanan edukasi dan kesehatan mental pun harus disediakan secara mudah dan cuma-cuma, tanpa hitung-hitungan untung-rugi ala bisnis kapitalis.
Ketiga, Akidah sebagai Perisai Jiwa. Ini adalah obat penawar yang paling mendasar. Sejak dini, anak-anak ditiupkan pemahaman bahwa hidup ini adalah ruang ujian yang sementara, dan setiap manusia dinilai mulia di hadapan Allah karena ketakwaannya, bukan karena validasi manusia atau tumpukan materi. Pemahaman inilah yang melahirkan jiwa yang tangguh (resilien), yang tidak mudah patah saat badai kehidupan menerpa.
Menembus Badai, Menyelamatkan Generasi
Kita tidak bisa terus-menerus sibuk menambal perahu yang bocor sambil membiarkan badai sekuler-liberal terus mengombang-ambingkan anak-anak kita. Segala upaya teknis berupa ruang aman dan pendampingan psikologis saat ini tentu patut diapresiasi, namun itu hanyalah perban kecil untuk luka dalam yang terus menganga.
Saatnya kita melawan arus. Tugas kita sekarang adalah merajut kembali kesadaran bersama di tengah masyarakat untuk kembali pada sistem Islam yang komprehensif—sebuah tatanan yang tidak hanya menjaga fisik anak, tapi juga melindungi jiwanya (hifzhun nafs) dan memuliakan akalnya (hifzhul ‘aql).
Wahai para orang tua, pendidik, dan pemuda pembawa perubahan; mari kita sudahi kepasrahan ini. Anak-anak kita berhak mendapatkan lingkungan yang mendekatkan mereka pada Sang Pencipta, tempat di mana jiwa mereka dipeluk dengan syariat, bukan sistem sekuler yang mengejar dunia namun mematikan jiwa.[] Sumber Foto : Canva

