Jika hari ini umat masih terbelenggu oleh sistem yang melahirkan kemiskinan, kerusakan moral, dan ketidakberdayaan di hadapan penjajah, maka sudah saatnya hijrah dimaknai lebih dalam, yaitu ukan sekadar berpindah halaman kalender, melainkan berpindah dari sistem sekularisme kapitalisme menuju Islam kaffah agar umat kembali menjadi khairu ummah yang menebarkan keadilan dan rahmat bagi seluruh alam.
Poppy Kamelia P. B.A(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS.
Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah
WacanaMuslim-Tahun baru Islam kembali datang membawa harapan. Bulan Muharram selalu mengingatkan kaum muslimin pada peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ yang bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan dari kegelapan menuju cahaya, dari penindasan menuju kemuliaan, dan dari aturan manusia menuju aturan Allah. Namun ketika 1 Muharram 1448 H tiba, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan. Sudahkah umat benar benar berhijrah atau justru masih berjalan di jalan yang sama dengan berbagai luka yang terus berulang.
Realitas yang tersaji justru memperlihatkan wajah yang memilukan. Di dalam negeri rakyat masih bergulat dengan kemiskinan struktural yang tak kunjung usai. Judi daring merusak masa depan generasi muda. Prostitusi anak dan eksploitasi seksual terus memakan korban. Kasus bullying serta berbagai bentuk kekerasan semakin sering menghiasi pemberitaan. Kerusakan perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa sehingga kepekaan masyarakat semakin memudar.
Luka umat tidak berhenti di dalam negeri. Di Palestina genosida masih berlangsung tanpa henti. Gaza berubah menjadi hamparan reruntuhan, kelaparan, dan tangisan anak anak yang kehilangan orang tua, rumah, serta masa depan mereka. Ribuan warga sipil menjadi korban sementara bantuan kemanusiaan hanya mampu memperpanjang napas mereka yang tersisa. Lebih menyakitkan lagi, negeri negeri Muslim yang memiliki kekuatan militer besar tidak juga bergerak mengirim pasukan untuk menghentikan penjajahan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Padahal Allah Swt menyebut umat Islam sebagai khairu ummah, umat terbaik yang dihadirkan untuk menegakkan amar makruf dan nahi mungkar. Predikat mulia itu seharusnya tampak dalam kehidupan umat yang kuat dan mampu melindungi sesama muslim. Akan tetapi hari ini umat justru menjadi pihak yang paling sering menjadi korban, baik di negerinya sendiri maupun di panggung internasional. Jumlah yang besar belum mampu berubah menjadi kekuatan yang menjaga kehormatan umat.
Berbagai kenestapaan tersebut bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Kemiskinan, kriminalitas, kerusakan moral, hingga lemahnya posisi politik umat memiliki akar yang sama yaitu penerapan sistem sekularisme kapitalisme. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan manfaat materi sebagai ukuran utama dalam menentukan kebijakan. Standar halal dan haram tergeser oleh ukuran untung dan rugi sehingga kerusakan tumbuh di hampir seluruh aspek kehidupan.
Dalam sistem seperti ini pendidikan lebih mengejar prestasi daripada ketakwaan. Ekonomi lebih mengutamakan keuntungan daripada keadilan. Politik lebih sibuk menjaga kepentingan kekuasaan daripada mengurus rakyat. Tidak mengherankan jika judi terus berkembang, eksploitasi manusia menjadi bisnis yang menguntungkan, kekerasan semakin meningkat, dan kemiskinan tetap menjadi persoalan yang tak kunjung selesai. Kerusakan yang tampak hanyalah buah dari pohon yang akarnya memang telah rusak.
Di tingkat global sekularisme kapitalisme juga melahirkan tatanan dunia yang dibangun di atas kepentingan negara negara kuat. Palestina menjadi bukti paling nyata. Puluhan tahun penjajahan berlangsung, tetapi dunia hanya menghadirkan kecaman dan bantuan kemanusiaan yang tidak pernah menyentuh akar persoalan. Umat Islam yang berjumlah lebih dari satu miliar jiwa tetap tidak mampu menghentikan penderitaan saudara saudaranya karena terpecah oleh batas nasionalisme dan kepentingan politik masing masing.
Kondisi ini menunjukkan bahwa umat kehilangan institusi politik yang dahulu menjadi pelindung mereka. Tidak adanya Khilafah membuat negeri negeri Muslim berjalan sendiri sendiri dan tunduk pada tekanan kekuatan global. Ketika satu bagian tubuh umat terluka, bagian yang lain hanya mampu menyampaikan simpati tanpa memiliki kekuatan nyata untuk menghentikan kezaliman. Persatuan yang diperintahkan Islam pun berubah menjadi sekadar slogan.
Muharram seharusnya menjadi momentum untuk merenungkan kenyataan tersebut. Hijrah tidak cukup dimaknai sebagai perubahan pribadi seperti memperbaiki ibadah atau meninggalkan maksiat individual. Hijrah juga harus dimaknai sebagai kesadaran untuk meninggalkan sistem kehidupan yang menjauhkan manusia dari aturan Allah menuju kehidupan yang diatur sepenuhnya oleh syariat Nya.
Inilah makna hijrah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak hanya membina individu yang bertakwa, tetapi juga membangun masyarakat dan memperjuangkan tegaknya pemerintahan Islam di Madinah. Hijrah menjadi titik awal lahirnya peradaban yang menjadikan wahyu sebagai sumber hukum, menghadirkan keadilan, menjaga kehormatan manusia, dan menyatukan kaum muslimin di bawah satu kepemimpinan.
Karena itu perubahan hakiki tidak lahir dari pergantian tahun atau semangat sesaat. Perubahan membutuhkan perjuangan yang panjang dan terorganisir sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka membina akidah umat, membangun kesadaran politik Islam, dan terus berdakwah hingga Islam tegak sebagai sistem kehidupan.
Atas dasar itulah perjuangan menegakkan Islam kaffah menjadi bagian dari makna hijrah yang sesungguhnya. Umat Islam tidak cukup menjadi penonton atas berbagai kerusakan yang terjadi, tetapi wajib mengambil bagian dalam perjuangan mengembalikan syariat Allah sebagai aturan kehidupan. Perjuangan itu dilakukan bersama jamaah dakwah Islam ideologis yang meneladani metode dakwah Rasulullah ﷺ untuk menegakkan kembali Daulah Khilafah sebagai institusi yang menyatukan, melindungi, dan mengurus seluruh urusan umat.
Muharram datang setiap tahun membawa pesan perubahan. Jika hari ini umat masih terbelenggu oleh sistem yang melahirkan kemiskinan, kerusakan moral, dan ketidakberdayaan di hadapan penjajah, maka sudah saatnya hijrah dimaknai lebih dalam. Bukan sekadar berpindah halaman kalender, melainkan berpindah dari sistem sekularisme kapitalisme menuju Islam kaffah agar umat kembali menjadi khairu ummah yang menebarkan keadilan dan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bishshawaab.[] Sumber Foto : Canva

