Bencana Datang, Saatnya Berubah dan Muhasabah

Bagikan Artikel ini

Tidak sedikit korban jiwa berjatuhan, kerugian materi yang mencapai angka fantastis, serta trauma yang terus membayangi masyarakat yang terdampak.

Oleh : Hanny N

WacanaMuslim-Dari laman jawapos.com, Senin, 9 Desember 2024, JawaPos.com-Banjir bandang di Sukabumi dipastikan akibat pendangkalan sungai. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berupaya melakukan pengerukan terhadap sejumlah sungai di Sukabumi. 12 alat berat dikerahkan menormalkan berbagai sungai.

Bencana alam seolah tak henti melanda negeri ini. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga kebakaran hutan terjadi silih berganti. Tidak sedikit korban jiwa berjatuhan, kerugian materi yang mencapai angka fantastis, serta trauma yang terus membayangi masyarakat yang terdampak. Namun, di balik semua ini, ada baiknya kita berhenti sejenak untuk merenung dan bertanya: mengapa bencana ini terus terjadi?

Banyak orang mungkin langsung menunjuk alam sebagai penyebab utama. Hujan deras, pergerakan lempeng bumi, atau angin kencang dianggap menjadi alasan logis di balik bencana. Tapi, apakah benar hanya itu penyebabnya? Al-Qur’an dan sunnah memberikan perspektif yang lebih mendalam. Bencana alam tidak hanya dipandang sebagai fenomena alamiah, tetapi juga sebagai tanda dari Allah kepada manusia agar mereka muhasabah dan kembali ke jalan yang benar.

Bencana Akibat Ulah Manusia

Allah telah menciptakan bumi ini dengan segala kesempurnaannya. Alam semesta berfungsi dengan harmonis sesuai dengan hukum-hukum-Nya. Namun, manusia sering kali lupa akan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi. Dalam QS. Ar-Rum:41, Allah berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Eksploitasi alam yang berlebihan atas nama pembangunan adalah salah satu penyebab utama bencana. Penebangan hutan secara liar, penggalian tambang yang tidak memperhatikan dampak lingkungan, serta alih fungsi lahan tanpa perencanaan matang telah merusak keseimbangan ekosistem. Ketika pohon-pohon yang seharusnya menahan air hujan ditebang, banjir dan longsor menjadi konsekuensinya. Ketika perbukitan diratakan demi proyek properti, risiko gempa menjadi lebih besar.

Sayangnya, semua ini terjadi karena sistem kehidupan yang diterapkan saat ini jauh dari nilai-nilai Islam. Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan membiarkan manusia bertindak sesuka hati tanpa mempertimbangkan aturan Allah. Hukum syariat yang mengatur pengelolaan alam dengan bijaksana diabaikan, digantikan dengan kebijakan yang sering kali hanya mengutamakan keuntungan segelintir pihak.

Saatnya Muhasabah dan Bertobat

Bencana yang terjadi seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk muhasabah. Apa yang telah kita lakukan selama ini? Apakah kita sudah menjalankan hidup sesuai dengan aturan Allah, atau justru sebaliknya? Muhasabah bukan hanya dilakukan secara individu, tetapi juga secara kolektif sebagai sebuah bangsa.

Tobat dan kembali kepada Allah adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Namun, tobat yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk ibadah ritual semata. Tobat juga berarti berupaya sungguh-sungguh untuk memperbaiki sistem kehidupan agar sesuai dengan syariat Islam. Ini mencakup semua aspek, mulai dari cara kita mengelola alam hingga bagaimana kita membuat kebijakan publik. Karena hanya dengan syariat Islam, keberkahan dari langit dan bumi akan tercurah kepada kita, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf:96, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”

Kepemimpinan Islam: Solusi untuk Mencegah Bencana

Islam memberikan panduan yang sangat jelas tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam. Dalam Islam, alam adalah amanah yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Kepemimpinan Islam, atau khilafah, memiliki tanggung jawab besar dalam hal ini. Pemimpin dalam Islam disebut raa’in, yaitu pengurus dan pelindung rakyat. Salah satu tugasnya adalah memastikan bahwa pembangunan dilakukan tanpa merusak alam.

Dalam sistem Islam, pengelolaan sumber daya alam dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Segala bentuk pembangunan harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. Negara juga akan memastikan bahwa hasil kekayaan alam digunakan untuk kemaslahatan rakyat, bukan untuk kepentingan asing atau segelintir elit. Dengan cara ini, keseimbangan ekosistem tetap terjaga, dan risiko bencana dapat diminimalkan.

Selain itu, Islam juga mengatur bahwa rakyat harus dilibatkan dalam menjaga kelestarian alam. Pendidikan tentang pentingnya menjaga lingkungan menjadi bagian integral dari kurikulum. Media dan kampanye publik juga digunakan untuk menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah.

Berkah Hidup di Bawah Syariat

Kehidupan di bawah naungan syariat Islam membawa keberkahan, baik secara material maupun spiritual. Alam akan kembali harmonis, dan manusia dapat hidup dengan lebih tenang tanpa ancaman bencana yang terus menghantui. Sejarah panjang peradaban Islam membuktikan hal ini. Ketika syariat diterapkan secara kaffah, keseimbangan antara manusia dan alam terjaga, sehingga bencana jarang terjadi.

Kini saatnya kita bersama-sama berjuang agar syariat Islam dapat tegak kembali. Ini bukan hanya demi menyelamatkan alam, tetapi juga demi masa depan umat manusia. Mari kita jadikan setiap bencana sebagai pengingat untuk kembali kepada Allah, memperbaiki diri, dan bekerja keras untuk menegakkan aturan-Nya di muka bumi. Karena hanya dengan cara inilah, hidup yang penuh berkah dan damai dapat terwujud.[]

Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/derita-rakyat-demi-cuan-negara/

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *