Deflasi: Ekonomi Merosot, Rakyat Tak Sejahtera

Bagikan Artikel ini

Dalam kapitalisme, negara cenderung melepaskan tanggung jawab pemenuhan kebutuhan dasar rakyat kepada pasar dan sektor swasta,inilah salah satu penyebab deflasi

Oleh: Hanny N

WacanaMuslim-Dikutip dari voaindonesia.com (03-10-2024) , Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami deflasi selama lima bulan berturutan. Sejumlah ekonom mengatakan kondisi ini menandakan bahwa daya beli masyarakat melemah.

Selama lima bulan berturut-turut, Indonesia mengalami deflasi, yang menjadi tanda bahwa perekonomian negara semakin merosot. Deflasi ini mencerminkan penurunan daya beli masyarakat, di mana harga barang dan jasa turun akibat melemahnya permintaan. Ini bukanlah pertanda positif, justru sebaliknya, karena penurunan harga yang berkelanjutan dapat menyebabkan pengurangan produksi di sektor industri dan jasa, yang pada akhirnya berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Dampaknya, tidak hanya ekonomi yang terpuruk, tetapi juga kesejahteraan rakyat yang semakin terancam.

Deflasi dan Ekonomi Merosot

Kondisi deflasi sering kali diartikan sebagai penurunan harga-harga barang, yang mungkin dianggap menguntungkan bagi konsumen. Namun, dalam kenyataannya, deflasi bukanlah sesuatu yang diinginkan dalam ekonomi modern. Dalam lima bulan terakhir, deflasi di Indonesia menjadi tanda bahwa konsumsi rumah tangga, yang menjadi motor utama perekonomian, mengalami penurunan yang signifikan. Ini berarti masyarakat semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena pendapatan mereka tidak mencukupi. Rumah tangga lebih banyak menahan pengeluaran, bahkan untuk barang-barang pokok seperti pangan.

Deflasi ini secara langsung berdampak pada penurunan kesejahteraan keluarga. Dalam konteks ini, keluarga, khususnya ibu dan anak, adalah kelompok yang paling rentan terkena dampak negatif. Banyak keluarga di Indonesia harus menyesuaikan anggaran mereka, mengorbankan konsumsi kebutuhan pokok seperti cabai, telur, daging ayam, dan tomat, untuk bisa bertahan. Jika keluarga sudah harus mengurangi konsumsi sembako, maka pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan yang lebih mahal sangat mungkin akan dikorbankan.

Dampak Deflasi Terhadap Kesejahteraan

Jika daya beli terus menurun, keluarga di Indonesia akan semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar mereka, terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan kesehatan. Saat ini, sebagian besar anggaran rumah tangga diketahui dihabiskan untuk dua kebutuhan ini. Namun, dengan menurunnya daya beli, kemungkinan besar keluarga harus memilih antara memenuhi kebutuhan pangan atau membiayai pendidikan dan kesehatan anak-anak mereka.

Penurunan dalam akses terhadap pendidikan dan kesehatan akan berdampak jangka panjang terhadap kualitas generasi mendatang. Ketidakmampuan keluarga untuk membayar biaya pendidikan dan kesehatan dapat menyebabkan generasi muda tumbuh dengan kualitas kesehatan yang buruk dan pendidikan yang tidak memadai. Ini bukan hanya masalah ekonomi rumah tangga, tetapi masalah besar yang dapat memengaruhi masa depan bangsa. Sebuah generasi yang tidak memiliki akses yang cukup terhadap pendidikan dan kesehatan akan sulit bersaing di masa depan.

Krisis Sistem Kapitalisme

Penyebab utama deflasi yang berkepanjangan ini sebenarnya lebih dalam dari sekadar penurunan daya beli. Sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan di Indonesia telah gagal memberikan solusi bagi kesejahteraan masyarakat. Dalam kapitalisme, negara cenderung melepaskan tanggung jawab pemenuhan kebutuhan dasar rakyat kepada pasar dan sektor swasta. Ini menyebabkan ketergantungan besar pada utang dan pajak untuk menjalankan roda pemerintahan, sementara kebutuhan rakyat sering kali diabaikan.

Ketika daya beli masyarakat menurun, sektor bisnis pun terpukul karena konsumsi yang rendah. Sementara itu, pemerintah yang terjebak dalam kebijakan ekonomi kapitalis justru lebih banyak berfokus pada upaya menjaga stabilitas ekonomi makro dan investasi daripada menjamin kesejahteraan rakyat secara langsung. Pada akhirnya, rakyatlah yang menjadi korban, karena sistem ini tidak memberikan perlindungan yang cukup bagi mereka, terutama dalam kondisi krisis ekonomi.

Islam Menjamin Kesejahteraan

Berbeda dengan kapitalisme, Islam memiliki sistem ekonomi yang memastikan kesejahteraan setiap individu. Dalam Islam, negara bertanggung jawab penuh atas pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, termasuk pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Negara dalam sistem Islam, yang disebut Khilafah, akan berfungsi sebagai pelindung dan pengatur kesejahteraan rakyat, tanpa tergantung pada pajak dan utang.

Islam menetapkan bahwa negara harus mengelola sumber daya alam dan sumber-sumber pemasukan lainnya seperti zakat, jizyah, kharaj, dan lain-lain untuk membiayai kebutuhan rakyat. Dengan sistem ekonomi yang adil ini, kebutuhan pokok setiap individu dapat terpenuhi tanpa harus mengandalkan mekanisme pasar bebas yang sering kali hanya menguntungkan segelintir orang.

Layanan pendidikan dan kesehatan dalam sistem Islam juga dijamin sepenuhnya oleh negara, sehingga setiap individu memiliki akses yang sama terhadap dua kebutuhan vital tersebut. Negara bertanggung jawab untuk menyediakan pendidikan berkualitas yang membentuk generasi yang cerdas dan berakhlak mulia, serta layanan kesehatan yang baik untuk menjamin kualitas hidup masyarakat.

Solusi Holistik Islam

Solusi atas persoalan ekonomi seperti deflasi dan penurunan daya beli yang terus terjadi hanya bisa ditemukan dalam penerapan Islam secara kaffah (menyeluruh). Islam tidak hanya menawarkan solusi ekonomi, tetapi juga sistem politik dan sosial yang komprehensif. Negara yang menerapkan Islam secara kaffah akan memiliki mekanisme yang kuat untuk memastikan setiap individu mendapatkan hak-haknya, tanpa harus berjuang di bawah sistem yang mengutamakan keuntungan segelintir elit.

Dalam sistem ini, negara akan fokus pada pengelolaan sumber daya yang adil dan merata, memprioritaskan kebutuhan rakyat daripada kepentingan pasar. Sistem Islam juga tidak akan membebani rakyat dengan pajak yang mencekik atau utang luar negeri yang merugikan. Sebaliknya, negara akan menggunakan kekayaan alam dan sumber daya yang dikelola secara syariat untuk membiayai kebutuhan rakyat.

Kesimpulan

Deflasi yang berkepanjangan bukanlah tanda baik bagi perekonomian Indonesia. Ini adalah bukti bahwa sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini tidak mampu menjamin kesejahteraan rakyat. Penurunan daya beli, yang berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga dan masa depan generasi mendatang, adalah tanda bahwa perubahan besar diperlukan dalam sistem ekonomi negara.

Islam memberikan solusi yang komprehensif untuk mengatasi masalah ini. Dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah, negara akan mampu memenuhi kebutuhan pokok rakyat dan memberikan jaminan atas pendidikan dan kesehatan yang berkualitas. Inilah yang diperlukan untuk membangun masyarakat yang sejahtera dan berdaya. Sistem Islam tidak hanya mengatasi persoalan ekonomi, tetapi juga memastikan kesejahteraan individu per individu, menuju kehidupan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Wallahu’alam bish shawab.[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *