Pendidikan Islam berfokus pada pembentukan syakhsiyah Islamiyah, yaitu keselarasan pola pikir dan pola sikap, pelajar tidak hanya pintar, tetapi juga jujur, bertanggung jawab, beradab, dan peduli sesama.
Poppy Kamelia P. BA(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)
WacanaMuslim-Setiap tahun Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan upacara, slogan, dan pidato penuh harapan. Nama Ki Hadjar Dewantara kembali disebut sebagai simbol perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun di balik seremoni itu, tersimpan kenyataan yang sulit dibantah. Dunia pendidikan justru tampak semakin suram. Sekolah dan kampus yang semestinya menjadi tempat lahirnya ilmu, akhlak, dan peradaban, kini berulang kali muncul dalam berita karena kekerasan, kecurangan, narkoba, hingga runtuhnya adab terhadap guru. Hardiknas pun terasa bukan sekadar perayaan, tetapi alarm keras tentang rusaknya arah pendidikan hari ini.
Suramnya wajah pendidikan tampak dari maraknya kekerasan di kalangan pelajar. Seorang pelajar di Bantul tewas setelah dikeroyok lalu dilindas (kumparan.com, 21/4/2026). Di Bandung, kematian seorang pelajar SMA menyeret enam tersangka yang juga masih berstatus pelajar. Sementara itu, dua pelajar SMA di Bogor menjadi korban penyiraman air keras hingga mengalami luka pada wajah (detiknews.com, 22/4/2026). Rentetan tragedi ini menunjukkan sebagian generasi muda lebih memilih amarah dan kekerasan daripada akal sehat. Ruang belajar yang seharusnya aman berubah menjadi tempat yang menakutkan.
Tidak berhenti pada kekerasan fisik, dunia pendidikan juga dibayangi pelecehan seksual yang kian mengkhawatirkan. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan hanya dalam tiga bulan terakhir. Kasus terbaru mencuat di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, ketika 16 mahasiswa diduga terlibat pelecehan seksual di dalam grup aplikasi pesan. Sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi ruang aman justru menjadi tempat korban memendam trauma (kompas.id, 14/4/2026).
Jika keamanan runtuh, kejujuran pun ikut tergerus. Praktik joki UTBK SNBT kembali terungkap di Surabaya dan daerah lain. Pelaku memakai identitas palsu, memalsukan dokumen, hingga menggunakan alat komunikasi tersembunyi. Panitia bahkan menemukan ribuan data anomali peserta. Semua ini menandakan bahwa bagi sebagian orang, keberhasilan tak lagi diraih dengan kerja keras, tetapi dengan jalan pintas. Budaya plagiat pun masih marak, membuat gelar akademik kehilangan makna karena diraih tanpa integritas. (detik.com, 23/4/2026)
Persoalan belum berhenti di sana. Peredaran narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa juga semakin mengkhawatirkan. Generasi yang seharusnya dipersiapkan menjadi penerus bangsa justru dijadikan pasar dan alat distribusi barang haram. Akal yang semestinya diasah dengan ilmu malah dirusak oleh zat memabukkan. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi tragedi besar bagi masa depan bangsa. (Kompas.com, 22/2/2023)
Di saat yang sama, hubungan murid dan guru pun mengalami pergeseran. Pelajar semakin berani menghina guru, bahkan ada kasus guru dipolisikan karena menegur atau mendisiplinkan siswa. (Liputan6.com, 28/1/2026) Tentu kekerasan tidak dibenarkan, tetapi hilangnya wibawa guru adalah tanda rusaknya adab dalam pendidikan. Ketika guru takut mendidik dan murid tak lagi menghormati, pembinaan karakter menjadi lumpuh.
Seluruh fakta ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan hari ini bukan sekadar kurang fasilitas atau lemahnya kurikulum teknis. Yang rusak adalah arah dasar pendidikan itu sendiri. Sistem pendidikan sekuler kapitalistik lebih menekankan nilai angka, kompetisi, peluang kerja, dan pencapaian materi, tetapi gagal membangun kepribadian. Akibatnya lahir generasi yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral. Mereka didorong mengejar sukses instan, pragmatis, dan menghalalkan segala cara demi hasil cepat.
Minimnya pendidikan agama yang benar juga memperlebar ruang kebebasan tanpa batas. Ketika manusia tidak lagi terikat pada halal dan haram, benar dan salah menjadi relatif. Dari sinilah kecurangan, pergaulan rusak, narkoba, dan kekerasan mudah tumbuh. Ditambah lagi longgarnya sanksi negara bagi pelajar pelaku kejahatan, sehingga banyak tindakan kriminal dianggap sekadar kenakalan remaja. Padahal korban yang ditinggalkan menanggung luka nyata.
Dalam kondisi seperti ini, Islam menawarkan arah yang berbeda. Pendidikan dipandang sebagai kebutuhan mendasar yang wajib dijamin negara. Tujuannya bukan sekadar mencari kerja, tetapi membentuk manusia bertakwa, berilmu, dan bermanfaat. Berasaskan akidah, sistem pendidikan Islam melahirkan insan kamil, cerdas serta takut berbuat curang karena sadar Allah selalu mengawasi.
Pendidikan Islam berfokus pada pembentukan syakhsiyah Islamiyah, yaitu keselarasan pola pikir dan pola sikap, pelajar tidak hanya pintar, tetapi juga jujur, bertanggung jawab, beradab, dan peduli sesama.
Islam juga menerapkan sanksi tegas bagi pelaku kejahatan, termasuk pelajar, agar memberi efek jera dan menjaga masyarakat. Kekerasan, narkoba, pelecehan, dan kriminalitas tidak dibiarkan tumbuh.
Negara Islam membangun suasana hidup penuh ketakwaan. Media, lingkungan, dan kebijakan diarahkan pada akhlak mulia. Keluarga menjadi madrasah pertama, masyarakat menjalankan amar makruf nahi mungkar, dan negara memastikan pendidikan berdiri di atas aqidah serta syariat Islam.
Inilah solusi utuh, bukan tambal sulam kebijakan. Melalui penerapan Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah, pendidikan akan kembali melahirkan generasi berilmu, beradab, dan bertakwa.
Maka Hardiknas seharusnya menjadi momen muhasabah, bukan sekadar seremoni tahunan. Jika sekolah melahirkan kekerasan, kampus dicemari kecurangan, dan generasi terseret narkoba, maka ada yang salah secara mendasar. Bangsa ini tidak cukup hanya mengganti kurikulum atau slogan. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistem pendidikan yang mengembalikan ilmu kepada tujuan mulianya, membentuk manusia beradab dan bertakwa. Tanpa itu, pendidikan akan terus kehilangan cahaya, dan masa depan bangsa ikut menjadi gelap. Wallahu A’laam Bisshawaab[] Sumber Foto : Canva

