Viralnya siswa yang menghina guru di Purwakarta menegaskan krisis adab dalam pendidikan sekuler kapitalistik. Artikel ini membahas akar masalah, budaya viral, lemahnya sanksi, hingga solusi pendidikan Islam yang membangun generasi berakhlak mulia.
Oleh. Hanny N
WacanaMuslim-Peristiwa memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan Indonesia. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di dalam ruang kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek, bahkan melakukan gestur acungan jari tengah—sebuah simbol penghinaan yang jelas melecehkan sosok yang seharusnya dihormati.
Kejadian ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa. Ia adalah alarm keras tentang krisis moral yang tengah melanda generasi muda. Sekolah memang telah memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari. Namun, sebagaimana disampaikan oleh salah satu tokoh pendidikan, sanksi tersebut belum tentu menyentuh akar persoalan. Hukuman administratif semata tidak cukup untuk membentuk karakter jika sistem yang melahirkannya sendiri bermasalah.
Krisis Adab: Cerminan Gagalnya Sistem Pendidikan
Kasus pelecehan terhadap guru di Purwakarta sejatinya merupakan potret buram dari sistem pendidikan sekuler-liberal yang diterapkan saat ini. Sistem ini menitikberatkan pada pencapaian akademik dan keterampilan duniawi, tetapi mengabaikan pembentukan adab dan kepribadian mulia.
Dalam paradigma sekuler, pendidikan dipisahkan dari nilai-nilai agama. Akibatnya, peserta didik tumbuh tanpa fondasi akidah yang kokoh. Mereka mungkin cerdas secara intelektual, tetapi miskin secara moral. Tidak heran jika rasa hormat kepada guru—yang dalam Islam merupakan bagian dari adab yang sangat dijunjung tinggi—justru memudar.
Padahal, dalam Islam, menghormati guru adalah bagian dari keimanan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.” (HR. Tirmidzi)
Guru dalam Islam bukan sekadar pengajar, tetapi pewaris para nabi. Mereka memikul amanah besar dalam membentuk generasi umat. Ketika wibawa guru direndahkan, sesungguhnya yang diruntuhkan adalah fondasi peradaban itu sendiri.
Budaya Viral dan Rusaknya Orientasi Generasi
Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial. Banyak remaja hari ini terjebak dalam budaya “viralitas”—di mana pengakuan sosial diukur dari jumlah likes, views, dan komentar. Demi terlihat keren di mata teman sebaya, mereka rela melakukan tindakan yang melanggar norma, bahkan merendahkan orang lain.
Dalam konteks ini, guru tidak lagi dipandang sebagai sosok yang dihormati, melainkan objek konten. Ini adalah pergeseran nilai yang sangat berbahaya. Ketika rasa malu hilang, maka batas antara benar dan salah menjadi kabur.
Lebih parah lagi, negara seolah abai dalam menyaring konten digital yang beredar. Tayangan yang mengandung pembangkangan, kekerasan, dan pelecehan justru mudah diakses oleh generasi muda. Tanpa filter yang kuat, anak-anak menyerap nilai-nilai rusak tersebut dan menjadikannya sebagai standar perilaku.
Lemahnya Wibawa Guru dan Sistem Sanksi yang Tumpul
Pertanyaan penting yang harus diajukan adalah: mengapa siswa berani melakukan tindakan seperti itu? Apakah karena sanksi yang diberikan terlalu ringan? Ataukah karena guru tidak lagi memiliki otoritas dalam mendidik?
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak guru kini berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka dituntut untuk mendisiplinkan siswa. Namun di sisi lain, mereka dibatasi oleh berbagai regulasi yang membuat mereka takut untuk bertindak tegas. Tidak sedikit kasus di mana guru justru dilaporkan oleh orang tua murid karena dianggap melakukan kekerasan saat menegur.
Akibatnya, guru kehilangan wibawa. Siswa pun merasa tidak ada konsekuensi serius atas tindakan mereka. Inilah yang kemudian melahirkan keberanian untuk melawan, bahkan melecehkan.
Program seperti “Profil Pelajar Pancasila” yang sering digaungkan pemerintah pun tampak belum memberikan dampak nyata. Nilai-nilai yang diusung masih sebatas jargon administratif, belum menyentuh pembentukan karakter secara mendalam.
Islam: Solusi Mendasar dalam Membangun Generasi Beradab
Islam memiliki konsep pendidikan yang komprehensif dan terbukti melahirkan generasi unggul sepanjang sejarah. Pendidikan dalam Islam tidak hanya bertujuan mencetak individu yang cerdas, tetapi juga berkepribadian mulia (syakhshiyah Islamiyyah), yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat.
Allah SWT berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang berilmu, termasuk guru. Dalam sejarah Islam, para ulama dan guru mendapatkan penghormatan luar biasa dari masyarakat dan negara.
Imam Syafi’i رحمه الله pernah berkata, “Aku membalik lembaran buku dengan sangat pelan di hadapan guruku, karena aku takut suaranya mengganggunya.” Ini adalah contoh nyata bagaimana adab terhadap guru dijunjung tinggi.
Peran Negara dalam Sistem Pendidikan Islam
Dalam sistem Islam, negara memiliki peran sentral dalam menjaga kualitas pendidikan dan moral generasi. Beberapa langkah strategis yang harus dilakukan, Pertama, pendidikan harus berlandaskan akidah Islam. Semua mata pelajaran diarahkan untuk membentuk keimanan dan ketakwaan, bukan sekadar kecerdasan intelektual.
Kedua, negara wajib menyaring konten digital yang merusak moral. Media tidak boleh dibiarkan bebas tanpa kontrol, karena ia memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat.
Ketiga, penerapan sistem sanksi Islam yang tegas dan adil. Dalam Islam, sanksi berfungsi sebagai jawabir (penebus dosa) dan zawajir (pencegah). Hukuman tidak hanya memberikan efek jera, tetapi juga mendidik dan menjaga masyarakat dari kerusakan.
Keempat, negara wajib memuliakan guru, baik secara materi maupun non-materi. Guru harus diberikan penghidupan yang layak agar mereka dapat fokus menjalankan tugasnya. Dengan demikian, wibawa mereka akan terjaga di mata siswa dan masyarakat.
Penutup: Saatnya Kembali pada Sistem yang Benar
Kasus pelecehan terhadap guru bukanlah insiden tunggal, melainkan gejala dari kerusakan sistemik. Selama sistem pendidikan masih berlandaskan sekularisme dan kapitalisme, maka krisis moral akan terus berulang.
Sudah saatnya umat menyadari bahwa solusi parsial tidak akan cukup. Diperlukan perubahan mendasar yang menyentuh akar persoalan, yaitu sistem pendidikan itu sendiri. Islam telah menawarkan solusi yang jelas dan terbukti dalam sejarah.
Jika kita ingin melihat generasi yang beradab, menghormati guru, dan berkontribusi positif bagi peradaban, maka tidak ada jalan lain selain kembali kepada sistem pendidikan Islam yang menyeluruh.
Karena sejatinya, peradaban besar tidak dibangun oleh orang-orang yang sekadar cerdas, tetapi oleh mereka yang memiliki adab. Wallahu’alam bish shawab.[] Sumber Foto : Canva

