Kejahatan Anak Makin Menjadi Akibat Pornografi

Bagikan Artikel ini

Pemuda saat ini tidak akan bisa terselamatkan jika kita berdiam diri saja, mayarakat pun diam, dan negara tidak mengambil peran dalam upaya menyelamatkan mereka.


Oleh : Rahma Al-Tafunnisa

WacanaMuslim-Maraknya kasus pelecehan dan pembunuhan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat yang sekuler dan liberal. Sekularisme menyebabkan remaja tidak mengenal agamanya dan tidak mengetahui pula standar halal dan haram menurut syariat. Agama tidak mereka jadikan pedoman dalam bertingkah laku.

Jakarta, tvOnenews.com – Pihak kepolisian telah melakukan pemeriksaan maraton terhadap pelaku, tersangka utama pemerkosaan dan pembunuhan gadis 13 tahun di Palembang, Sumatera Selatan.

Salah satunya mendatangi psikolog untuk mengecek kejiwaanya. Lelaki yang sebentar lagi berusia 17 tahun itu diyakini berpola pikir berbeda dibandingkan anak seusianya. Ia hanya bergaul dengan anak yang lebih muda dan agar bisa mengendalikan. Pihak kepolisian juga tengah menyelidiki apakah ada ketertarikan antara aksi kejam IS terhadap kebiasaan menonton film dewasa. Total pelaku sebanyak empat pelajar laki-laki. Empat pelajar tersebut masih duduk di bangku SMP dan SMA. Mereka terbukti merencanakan pemerkosaan hingga menyebabkan korban meninggal dunia.

Saat salah satu pelaku sudah ditahan. Namun tiga pelaku lain dititipkan ke lembaga penyelenggara kesejahteraan sosial karena undang-undang mengamanatkan demikian. Undang-undang melindungi mereka dari penahanan, mengingat usia dan status mereka sebagai anak-anak. Sedangkan keluarga korban memohon bantuan pihak kepolisian untuk menitipkan ketiga pelaku di panti rehabilitasi anak, demi keselamatan mereka.

Potret generasi makin suram adalah realita hari ini. Hal ini tampak dari perilaku pelaku yang kecanduan pornografi dan bangga dengan kejahatan yang dilakukannya. Diakui atau tidak, sudah terjadi normalisai perzinaan dikalangan remaja. Banyak remaja yang menganggap perilaku memerkosa atau melakukan seks sebelum nikah adalah wajar. Apalagi saat ini tontonan mereka tidak terbatas, tontonan pornografi sudah menjadi makanan sehari-hari. Akibat dari tontonan tersebut lah yang menjadi salah satu faktor maraknya perzinaan dikalangan remaja.

Zina adalah dosa besar, pun memerkosa dan membunuh. Imam Asy-Syaukani menyatakan bahwa tidak ada khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama bahwa zina termasuk dosa besar. Hal ini diantaranya berdasarkan firman Allah Swt., “Orang-orang yang tidak beribadah kepada tuhan lain beserta Allah, tidak membunuh jiwa yang telah Allah haramkan (untuk dibunuh), kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Siapa saja yang melakukan hal demikian, niscaya ia mendapat (pembalasan) dosa-nya.” (QS Al-Furqan : 68).

Fenomena ini juga menggambarkan anak-anak kehilangan masa kecil yang bahagia, bermain dan belajar dengan tenang, sesuai dengan fitrah anak dalam kebaikan. Mereka tersibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan haram, mereka tidak tahu jati diri mereka sebagai seorang muslim. Semakin hari bukan justru semakin bertambah ilmu yang didapatkan, tapi semakin hari semakin merusak diri mereka dengan sesuatu hal yang bisa merugikan mereka, seperti ternela dengan tontonan. Hal ini tentu juga berkaitan dengan media yang semakin liberal, sementara tidak ada keseriusan dari negara menutup konten-konten pornografi demi melindungi generasi. Serta ditambah dengan gagalnya sistem pendidikan tampak dari kasus ini.

Imam atau kepala negara bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada rakyatnya, seperti hadits Rasulullah berikut : “Imam (kepala negara) adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyatnya (HR. Bukhari).” Jadi, tidak hanya karena perilaku dan akhlak remaja saja yang rusak. Tapi, kurangnya pembekalan dari orangtua mereka terkait penanaman akidah dan pendidikan yang diberikan hanya seadanya, tidak berfokus kepada agama. Bahkan untuk menyelesaikan persoalan mereka pun banyak yang tidak mampu.

Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/anak-tega-habisi-ibu-sendiri-apa-yang-perlu-dibenahi/

Kurangnya peran masyarakat juga turut andil menjadi pemicu kerusakan remaja pada saat ini, amar ma’ruf yang menjadi kewajiban sudah tidak lagi menjadi perhatian mereka. Saat ini kita hidup dalam kondisi individualis dan masa bodoh terhadap kerusakan remaja khsusunya, “yang terpenting bukan anak mereka yang menjadi pelaku atau korban.” Bahkan negara tidak banyak memberikan andil dalam membina dan memelihara akhlak generasi saat ini.

Melihat potret menyedihkan pemuda hari ini, umat Islam harus bersegera menyelamatkan mereka agar tidak terus menerus menjadi korban sistem kapitalisme. Aktivitas dakwah Islam harus terus berupaya mengembalikan akal dan kesadaran mereka sebagai hamba Allah. Umat Islam harus bersatu membangun visi politik bersama dengan pemuda mewujudkan generasi khayru ummah. Umat harus mampu menggambarkan bahwa Islam itu sebuah tawaran dan solusi, bukan beban. Tentu agar pemuda bisa berubah menjadi lebih baik, lebih kritis dan tidak mudah terbawa arus penjajahan ideologi Kapitalisme.

Inilah kondisi di mana semakin rusaknya pemuda kita, gempuran dari berbagai sudut terus dilakukan. Pemuda saat ini tidak akan bisa terselamatkan jika kita berdiam diri saja, mayarakat pun diam, dan negara tidak mengambil peran dalam upaya menyelamatkan mereka.

Islam memandang manusia secara utuh dan menyeluruh. Karena itu pembangunan manusia tidak hanya pada aspek fisik saja, namun juga mental dan menjadikan akidah Islam sebagai asas sehingga menghasilkan manusia yang beriman, tangguh dan berakhlak mulia. Disisi lain negara juga menjamin keselamatan terhadap warga negaranya baik muslim maupun nonmuslim, mereka diperlakukan sama.

Wallahua’lam bishawab[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *