Tawuran antar kelompok, tindakan kekerasan, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya seringkali menghiasi berita harian kita.
Oleh : Hanny N
WacanaMuslim-Dari laman metrotvnews (20-9-2024), sebuah video diduga aksi tawuran beredar viral di media sosial dan grup percakapan. Sejumlah pelaku tawuran tersebut terlihat membawa senjata tajam jenis klewang.
Fenomena kriminalitas di kalangan pemuda terus berulang dan semakin mengerikan. Tawuran antar kelompok, tindakan kekerasan, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya seringkali menghiasi berita harian kita. Ironisnya, pelakunya adalah pemuda, generasi yang seharusnya menjadi harapan masa depan bangsa. Apa yang sebenarnya menjadi pemicu terjadinya masalah ini?
Kriminalitas pemuda sering kali dipicu oleh berbagai faktor, seperti lemahnya kontrol diri, krisis identitas, disfungsi keluarga, dan tekanan ekonomi yang berat. Banyak pemuda yang hidup di tengah lingkungan rusak—baik karena pengaruh media, kegagalan sistem pendidikan, maupun lemahnya penegakan hukum.
Situasi ini semakin diperparah dengan tidak adanya arah hidup yang jelas bagi mereka, serta minimnya dukungan keluarga dan masyarakat.
Namun, semua faktor ini hanyalah permukaan dari masalah yang lebih mendalam. Akar dari krisis moral yang menimpa generasi muda adalah penerapan sistem sekuler kapitalis, yang gagal memanusiakan manusia. Sistem ini merusak pemikiran dan budaya, serta mengabaikan tugas penting negara dalam membentuk generasi yang berperadaban mulia. Alih-alih mengembangkan potensi besar pemuda, sistem kapitalis justru menyia-nyiakannya, membiarkan mereka terjebak dalam jurang kehancuran moral.
Sistem sekuler kapitalis hanya menekankan materi dan kesenangan duniawi tanpa menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual yang kuat. Akibatnya, generasi muda tumbuh dalam krisis identitas, terombang-ambing antara nilai-nilai materialisme dan individualisme yang menyesatkan. Pendidikan yang seharusnya membentuk karakter justru gagal memberikan panduan hidup yang benar. Sementara itu, lingkungan sosial yang dikuasai oleh budaya pop dan pengaruh media semakin memperburuk situasi.
Di tengah realitas ini, negara hanya berperan sebagai fasilitator, bukan sebagai pembentuk generasi mulia. Negara abai terhadap tanggung jawabnya dalam menjaga moralitas dan membangun generasi yang memiliki visi kehidupan yang tinggi. Pemuda kehilangan arah dan mudah terjebak dalam perilaku destruktif, seperti tawuran, geng motor, dan tindakan kriminal lainnya.
Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/stop-tawuran-remaja/
Islam menawarkan solusi yang komprehensif untuk mencegah terulangnya siklus kriminalitas di kalangan pemuda. Dalam Islam, sistem pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga membentuk kepribadian yang mulia. Pendidikan dalam Islam dirancang untuk menumbuhkan ketakwaan, mendorong produktivitas, dan mengarahkan pemuda untuk menggunakan potensinya dalam kebaikan.
Islam juga memberikan lingkungan yang kondusif melalui pengaturan yang baik dalam keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga menjadi institusi pertama yang mendidik anak-anak dengan nilai-nilai moral dan agama. Masyarakat berperan sebagai kontrol sosial yang menjaga moralitas bersama, sementara negara bertanggung jawab dalam menegakkan aturan-aturan yang mendorong ketakwaan serta menyejahterakan rakyat.
Negara Islam memiliki peran yang signifikan dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia. Negara akan menerapkan kebijakan yang menguatkan fungsi keluarga, seperti menyediakan aturan yang menjamin kesejahteraan ekonomi dan sosial, sehingga keluarga dapat menjadi lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak-anak. Kurikulum pendidikan yang dirancang oleh negara juga akan memasukkan nilai-nilai Islam yang memperkuat keimanan dan ketakwaan, baik di sekolah maupun di dalam keluarga. Selain itu, negara juga memastikan bahwa masyarakat berfungsi sebagai kontrol sosial yang kuat. Lingkungan yang baik akan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama untuk menjaga generasi muda dari pengaruh buruk.
Dalam Islam, keluarga adalah institusi pertama dan terpenting dalam membentuk kepribadian anak. Orang tua diberi tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anak dengan ajaran Islam dan menjaga mereka dari pengaruh negatif luar.
Negara Islam mendukung keluarga dengan kebijakan-kebijakan yang memudahkan orang tua memberikan pendidikan yang baik, seperti jaminan pendidikan yang bagus dan berkualitas dengan harga terjangkau atau gratis, memastikan orang tua memiliki waktu bersama anak dengan sistem kerja yang adil, dan dukungan ekonomi agar mereka fokus membangun keluarga yang sehat.
Kontrol Sosial oleh Masyarakat
Masyarakat dalam Islam memiliki peran penting dalam menjaga moralitas dan keamanan. Setiap individu diharapkan menjadi pengawas (hisbah) terhadap sesama untuk mencegah kemungkaran dan menegakkan kebaikan.
Islam mendorong pembentukan lembaga hisbah yang berfungsi sebagai kontrol sosial di tingkat masyarakat. Jika ada perilaku menyimpang, seperti tawuran atau kriminalitas lainnya, masyarakat bersama-sama menangani masalah ini dengan dialog, teguran, atau bantuan sosial yang diperlukan.
Hukum Islam dikenal karena penegakan yang tegas namun adil. Islam menerapkan hukum hudud, qisas, dan ta’zir yang dirancang untuk mencegah kejahatan serta menjaga ketertiban sosial. Hukuman dalam Islam tidak hanya bertujuan menghukum pelaku kejahatan, tetapi juga memberikan efek jera dan mencegah tindakan serupa di masa depan.
Dalam kasus kriminalitas berat seperti perampokan atau pembunuhan, Islam menerapkan hukum qisas (balasan setimpal) atau hudud (hukuman yang ditentukan dalam syariah). Penegakan hukum ini dilakukan dengan proses yang adil dan transparan, serta menekankan rehabilitasi bagi pelaku untuk kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif.
Sistem Islam memiliki kebijakan ekonomi yang menjamin kesejahteraan rakyat, termasuk pemuda. Negara bertanggung jawab dalam menyediakan lapangan pekerjaan yang layak dan memudahkan pemuda untuk mengembangkan keterampilan mereka, sehingga mereka tidak terdorong untuk melakukan kriminalitas karena tekanan ekonomi.
Negara Islam memberikan modal usaha melalui program wakaf produktif atau zakat kepada pemuda yang ingin membuka usaha. Selain itu, ada kebijakan yang memastikan distribusi kekayaan yang adil sehingga kesenjangan ekonomi dapat diminimalkan.
Lingkungan sosial dalam Islam dijaga agar tetap sehat dan kondusif. Islam mengharamkan segala bentuk aktivitas yang dapat merusak moralitas pemuda, seperti peredaran narkoba, perjudian, atau pornografi. Negara memastikan lingkungan yang aman dan bersih dari pengaruh buruk tersebut.
Negara Islam mengatur media dan hiburan agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Media yang menyebarkan konten negatif atau memicu kekerasan dan imoralitas dilarang. Sebaliknya, media didorong untuk menyebarkan konten yang mendidik, membangun, dan menginspirasi pemuda.
Dengan penerapan Islam secara kaffah, generasi muda akan diarahkan untuk mengkaji dan mendakwahkan Islam, serta terlibat dalam perjuangan untuk membangun peradaban yang mulia. Sistem Islam tidak hanya menuntun pemuda menjauhi kriminalitas, tetapi juga membentuk mereka menjadi individu yang berkontribusi positif bagi umat dan bangsa.
Wallahua’lam bish shawab[]
Sumber Foto : Canva

