Meneladani Metode Perjuangan Nabi ﷺ di Balik Semarak Peringatan Maulid

Bagikan Artikel ini

Tatanan kehidupan global dan domestik saat ini dicengkeram kuat oleh ideologi sekularisme yang melahirkan sistem demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme


Poppy Kamelia P. BA(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)

WacanaMuslim-Gempita peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ senantiasa hadir memenuhi pelosok negeri setiap tahunnya dengan penuh kehangatan dan rasa haru yang mendalam. Jutaan umat Islam berkumpul melantunkan shalawat, menghadiri tabligh akbar, hingga menyelenggarakan pawai obor di jalanan kota sebagai wujud rasa cinta yang membuncah kepada sang baginda Nabi. Kementerian Agama bahkan mengajak jutaan umat bershalawat bersama demi keselamatan dan kedamaian negeri (Sindonews.com, 23/08/2026). Peringatan tahunan ini terus diseru sebagai momentum utama untuk menumbuhkan kecintaan serta meneladani akhlak mulia Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari (rri.co.id, 22/08/2026). Namun di balik semua kemegahan dan keharuan ritual tersebut, perayaan Maulid kerap berhenti sebatas panggung emosional yang melupakan hakikat substansi kenabian.

Pembahasan tentang makna meneladani atau ittiba’ kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam ruang publik senantiasa disempitkan hanya pada aspek moralitas pribadi dan kelembutan akhlak semata. Umat diajak untuk meniru kesabaran, kedermawanan, serta kesantunan beliau, tetapi secara sengaja dijauhkan dari fakta sejarah perjuangan beliau dalam meruntuhkan tatanan jahiliyah Makkah. Kesadaran untuk mengubah sistem kehidupan yang berasaskan pada penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu menuju tatanan Islam kaffah hampir tidak pernah disentuh. Kerinduan umat yang membara saat melantunkan shalawat seolah terputus dari kenyataan pahit bahwa hukum-hukum Allah saat ini diabaikan dalam panggung tata kelola negara.

Rasa cinta yang diekspresikan setiap tahun akhirnya mengalami reduksi yang sangat memprihatinkan karena dilepaskan dari konsekuensi ideologis. Cinta kepada Rasulullah ﷺ yang sejati tidak boleh sekadar berhenti pada bait-bait pujian yang menentramkan jiwa, melainkan harus melahirkan keterikatan bulat pada risalah dan metode perjuangan yang beliau wariskan. Ketika peringatan Maulid hanya diposisikan sebagai agenda seremoni keagamaan biasa, umat menjadi alpa bahwa kerusakan dan penderitaan hidup yang mereka alami hari ini berakar dari absennya hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ketidaktahuan ini membuat umat kehilangan kesadaran kritis bahwa penghambaan kepada selain Allah sesungguhnya sedang berlangsung secara masif dan sistemik. Tatanan kehidupan global dan domestik saat ini dicengkeram kuat oleh ideologi sekularisme yang melahirkan sistem demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme. Sistem-sistem buatan manusia ini menempatkan hawa nafsu dan kesenangan duniawi sebagai pembuat hukum serta orientasi tertinggi dalam hidup. Manusia berani mengambil hak Allah sebagai pembuat hukum, sementara syariat yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ dicampakkan dan dianggap tidak relevan lagi dalam mengurus tata kelola publik.

Tuntutan akan adanya perubahan dan perbaikan kehidupan sebenarnya terus menguat di tengah masyarakat yang makin terhimpit oleh beban ekonomi dan ketidakadilan. Namun sayangnya, arah dan metode perubahan yang ditempuh oleh sebagian besar elemen umat masih sangat jauh dari garis perjuangan kenabian. Banyak pihak terjebak dalam arus perubahan kompromistis dengan ikut serta dalam permainan politik demokrasi kapitalistik, atau sekadar melakukan perbaikan parsial yang tidak menyentuh akar masalah. Mereka lupa bahwa memperbaiki bangunan yang lapuk tidak bisa dilakukan hanya dengan mengecat dindingnya, melainkan harus mengganti fondasinya yang rusak secara menyeluruh.

Di sisi lain, para pemangku kepentingan dalam sistem kapitalisme sekuler akan terus berusaha keras mempertahankan eksistensinya dari ancaman kebangkitan Islam. Berbagai narasi penyesatan, pelabelan negatif, hingga kriminalisasi ajaran Islam terus diproduksi untuk menghalangi suara kebangkitan umat yang menuntut perubahan sistemik. Para pemilik modal dan penguasa sekuler sangat paham bahwa jika umat Islam menyadari hakikat perjuangan Nabi Muhammad ﷺ secara utuh, maka tatanan kapitalisme yang memeras dan merugikan rakyat banyak ini akan segera runtuh dan digantikan oleh keadilan Islam. Umat dituntun untuk menerima keadaan tanpa menyadari betapa sistemik ketidakadilan yang sedang menindas kehidupan mereka sehari-hari.

Sudah saatnya umat Islam mengembalikan makna ittiba’ yang hakiki sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 31, yaitu keterikatan penuh pada seluruh perintah syariat dan metode perjuangan Nabi ﷺ, bukan sekadar menjadikannya ritual tahunan tanpa makna ideologis. Menerapkan syariat Islam secara kaffah merupakan kewajiban syar’i yang tidak bisa ditawar. Penerapan sistem kapitalisme sekuler yang merusak di negeri-negeri Muslim saat ini memanggil seluruh umat untuk berjuang mengembalikan kehidupan Islam melalui kepemimpinan Islam Khilafah, sebagaimana dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ sewaktu membina para sahabat di Makkah hingga mendirikan negara Islam di Madinah. Kesadaran ideologis ini harus dihembuskan kembali ke dalam jiwa setiap muslim agar peringatan Maulid tidak menguap begitu saja.

Metode perjuangan Rasulullah ﷺ untuk menegakkan Islam merupakan tata cara yang baku dan wajib diikuti oleh seluruh umatnya. Perjuangan politik tanpa kekerasan ini ditempuh melalui tiga tahapan jelas (marhalah). Tahap pertama adalah tatsqif, yaitu pembinaan dan pembentukan kader-kader dakwah yang berkepribadian Islam serta berpemikiran ideologis. Tahap kedua adalah tafa’ul ma’al ummah, yaitu berinteraksi dengan masyarakat luas untuk membongkar kebobrokan sistem jahiliyah sekaligus menyampaikan ide-ide Islam hingga tumbuh kesadaran umum di tengah rakyat. Tahap ketiga adalah istilamul hukmi, yaitu penerimaan kekuasaan secara syar’i melalui penyerahan mandat dari para pemilik kekuatan (ahlun nushrah).

Hanya dengan mengikuti metode perjuangan kenabian yang linier dan teruji sejarah inilah, kehidupan Islam yang agung akan dapat ditegakkan kembali di muka bumi. Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam wujud Khilafah Islamiyah, maka rahmat Allah akan tercurah secara nyata bagi seluruh alam semesta sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Anbiya ayat 107. Peringatan Maulid Nabi harus dijadikan sebagai pijakan awal untuk mengobarkan kembali semangat perjuangan menegakkan syariat, agar rasa cinta kepada sang Nabi terbukti dalam tindakan nyata memperjuangkan cita-cita mulia beliau. Kesungguhan melangkah dalam jalur dakwah kenabian ini kelak akan menjadi saksi pengabdian diri di hadapan Allah pada hari pembalasan.Wallahu A’lam Bishshawab[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *