Lemahnya Iman Membawa Kerusakan

Bagikan Artikel ini

Tekanan kehidupan yang sulit ini sebenarnya akan mampu dilalui jika masyarakat memiliki bekal pemahaman, khususnya pemahaman akidah Islam yang benar dan penerapan syariat yang sempurna

Oleh : Dira Fauzah Syamsiar
Ibu Rumah Tangga

WacanaMuslim-Secara fitrah, manusia memiliki sifat kasih dan melindungi. Apalagi kepada anggota keluarganya, naluri menjaga dan mengayomi akan tampak dalam setiap interaksi kehidupannya. Kehangatan dan welas asih menjadi gambaran pokok kehidupan keluarga. Tapi, kehidupan materialistik dan jauhnya masyarakat dari nilai nilai agama yang menjadi pengontrol emosi, kemarahan, dan pelampiasan kebebasan saat ini menjadi jamak kita jumpai di kehidupan masyarakat.

Pertengkaran, perselisihan, dari mulai lisan hingga fisik sampai menyebabkan hilangnya nyawa, menjadi fenomena yang biasa di kehidupan saat ini. Masyarakat mulai menipis kepekaan terhadap kerusakan interaksi kehidupan, karena banyak terjadi, serta pembiaran dan sikap permisif yang mulai muncul di tengah tengah masyarakat. Di penghujung bulan Agustus 2024 saja, masyarakat terhenyak dengan tiga berita hilangnya nyawa anggota keluarga oleh anggota keluarga yang lain.

Di Kalimantan Barat, seorang anak yang diduga mengidap gangguan jiwa, tega menebas leher ibunya (Prokal, 2024). Begitu juga di Pontianak Kalimantan Barat, seorang ibu tiri membunuh anak tirinya yang berusia 6 tahun setelah sebelumnya sering mengalami penyiksaan (sindonews,2024). Tidak hanya itu, di Depok Cirebon seorang laki laki membunuh Bapak dan melukai adik perempuannya (MetroTVnews, 2024).

Menurut data Kemenppa, selama 2024 angka kekerasan yang meningkat terjadi pada lingkup rumah tangga atau keluarga , yaitu sebanyak 10495 kasus (https://kekerasan.kemenpppa.go.id/ringkasan ). Dominasi kekerasan yang terjadi di keluarga atau rumah tangga membuat kita miris, mengingat secara fitrah, keluarga harusnya menjadi tempat ter aman yang diperoleh manusia.
Penyebab munculnya kekerasan hingga pembunuhan diantara anggota keluarga jika kita telusuri cukup beragam. Mulai dari masalah ekonomi, stress, hingga konflik emosional yang tidak terkontrol atau tidak menemukan solusi.

Penyebab ini sebenarnya bukanlah akar masalah. Fenomena ini hanyalah dampak dari akar masalah yaitu rendahnya pemahaman masyarakat terhadap nilai nilai agama yang diyakini sebagai alat control perilakunya. Masyarakat saat ini hingga tataran keluarga memiliki pandangan pemisahan agama dari kehidupan. Perilaku nya tidak lagi dikontrol dengan nilai nilai baik dan buruk berdasarkan pemahaman agama, tapi sekedar pemanfaatan saja.

Munculnya sikap pengabaian nilai nilai agama ini disebabkan karena rendahnya keyakinan terhadap Allah sebagai pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. Keyakinan Allah sebagai pencipta dan pengatur ini, nantinya akan berpengaruh pada control perilakunya. Kesadaran terhadap kelemahan diri manusia, serta keyakinan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, akan mengokohkan kontrol perilaku nya sebagai konsekuensi keyakinan ini.

Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/kapitalisme-merusak-bangunan-keluarga/

Memang benar, saat ini tekanan kehidupan sangat berat. Baik dari aspek ekonomi sehingga berdampak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok, sempitnya lapangan kerja yang menyebabkan para ayah kesulitan memenuhi kebutuhan nafkah keluarga, dan lain sebagainya.
Tekanan kehidupan yang sulit ini sebenarnya akan mampu dilalui jika masyarakat memiliki bekal pemahaman, khususnya Islam. Islam sebagai agama yang paripurna dan mengatur seluruh aspek kehidupan, memberi seperangkat tata cara mengatasi berbagai permasalahan kehidupan. Mulai dari masalah ibadah, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, termasuk memiliki seperangkat aturan bagaimana seharusnya seorang manusia mengatur dirinya, baik dari aspek tata cara berpakaian, aturan seputar makanan dan minuman, serta adab berperilaku.

Tidak hanya itu, Islam juga memiliki seperangkat aturan yang mengatur hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lain. Termasuk disini adalah pengelolaan ekonomi, baik terkait sumber sumber kekayaan, tata cara kepemilikannya, hingga distribusi nya agar tercapai keadilan. Tidak hanya itu, sistem politik, pemerintahan, pendidikan, pergaulan, hingga penegakan hukum juga dijelaskan secara komprehensif.

Di dalam kasus pembunuhan di Kalimantan Barat, Islam tidak membiarkan seorang anak laki laki yang sudah baligh stress hingga tega membunuh ibu kandungnya. Kalaupun terjadi gangguan jiwa, masyarakat dan negara akan segera merawat, bahkan menyembuhkannya. Termasuk pembunuhan seorang anak oleh ibu tirinya, akan bisa dicegah jika sang ibu memiliki pemahaman kewajiban merawat anak dan pahala besar mengasuh dan mendidik anak anaknya, meski bukan anak kandungnya. Keyakinan agama yang dimiliki juga akan mencegahnya menyakiti, mendzalimi, karena Allah Pencipta nya melarang keras melakukannya.

Sungguh, menjadi tanggung jawab umat terbaik ini untuk bersama sama memperbaiki kerusakan saat ini. Butuh penancapan pemahaman Islam, keyakinan Allah sebagai pencipta dan pengatur hakiki kehidupan ini, serta kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini akan membuat individu warga dan masyarakat secara umum memiliki alat kontrol dalam berperilaku dan beraktifitas. Masyarakat bersama sama menjaga agar interaksi di kalangan Masyarakat sesuai dengan nilai nilai agama nya.

Tidak hanya itu, negara berperan menerapkan hukum yang bersumber dari standard Islam, agar aturan terbaik ini mampu diterapkan dalam kehidupan dan secara nyata terwujud keteraturan. Ini semua hanya akan terjadi jika negara menggunakan asas Islam.
Tidakkah kita merindukan kehidupan berkah seperti ini ? []

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *