Oleh: Nadia Husna Chasnan
WacanaUmat-Beberapa hari ini kita dihadapkan pada maraknya aksi tawuran remaja. Di antaranya adalah aksi tawuran antara geng motor yang kembali terjadi di Ciomas. Sebanyak 8 pelaku yang masih usia remaja itu kini ditangkap Polsek Ciomas. Polisi melakukan patrol dan berhasil mengamankan 3 remaja yang diduga hendak terlibat dalam tawuran, 6 buah clurit, dan 13 kendaraan sepeda bermotor. (Rador Bogor, 30 Juni 2024)
Aksi tawuran juga terjadi di jalan Basuki Rahmat, Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Diduga sengaja membuat tawuran untuk mencari cuan melalui medsos pun muncul di balik terjadinya aksi tawuran. (radarindonesianews.com, 4-7-2024)
Begitulah potret rusak dan buramnya generasi masa kini. Gaya hidup materialis tertanam sangat dalam di benak mereka. Bahagia hanya diukur dari kepuasan materi. Cuan di atas segala-galanya. Di era internet seperti ini bermain medsos adalah cara yang digandrungi banyak orang, khususnya remaja. Demi konten yang berefek pada melimpahnya cuan, semua rela dilakukan termasuk aksi tawuran. Halal haram sudah tidak lagi menjadi standar perbuatan remaja saat ini.
Kondisi ini tidak lepas dari sistem pendidikan yang belum berhasil mencetak generasi saleh yang siap membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Jangankan memikirkan masa depan negeri, untuk bisa berpikir apa yang terbaik untuk dirinya saja mereka tidak mampu. Saat ini pendidikan kita berkiblat pada ideologi kapitalis sekular. Pendidikan hanya bertujuan untuk menciptakan lulusan yang siap berkompetisi di dunia kerja, sehingga yang ada di benak siswa adalah bagaimana bisa menghasilkan uang yang banyak. Ya hanya itu yang memenuhi benak mereka.
Ini sangat berbeda dengan lulusan sistem pendidikan Islam. Di dalam Islam tujuan pendidikan adalah membentuk generasi yang berkepribadian Islam, tafaqquh fiddin, terdepan dalam sains dan teknologi, serta berjiwa pemimpin. Sistem pendidikan Islam akan melahirkan para lulusan yang menjadikan halal haram sebagai standar perbuatannya. Akan melahirkan lulusan yang paham akan tuntunan fiqih yang harus dilakukannya. Akan melahirkan lulusan yang menguasai sains dan teknologi, termasuk ilmu kehidupan yang dibutuhkan ketika terjun ke masyarakat. Dan yang penting juga adalah melahirkan lulusan yang siap jadi pemimpin peradaban Islam.
Pendidikan Islam akan melahirkan lulusan yang unggul, yang kuat, yang mampu bertahan hidup dalam situasi apapun, dengan tetap terikat dengan syari’at Allah SWT. Tidak mudah goyah oleh kerasnya kehidupan yang dihadapi. Generasi yang senantiasa berpegang teguh pada agamanya.. Generasi yang ikut serta memikirkan masa depan bangsanya, dan berjuang untuk memperbaiki kondisi yang terjadi. Generasi yang memahami bahwa tujuan hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Langkah awal yang harus ditanamkan adalah bab aqidah dan syariat sejak usia dini. Dimulai dari pendidikan dalam rumah oleh kedua orang tuanya, terutama ibu yang berfungsi sebagai Madrasatul Ula bagi anak-anaknya. Penanaman aqidah yang diberikan adalah kesadaran bahwa Allah adalah pencipta manusia dan alam semesta, serta keharusan kita sebagai manusia menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Penanaman aqidah disertai dengan pengenalan hukum syarak secara bertahap sesuai dengan usia anak. Keteladanan juga hal penting yang harus disertakan dalam pendidikan. Keteladan dari orang tua, guru, dan lingkungan.
BACA JUGA : Menteri Baru Kurikulum Baru, Kapan Pendidikan Kita Maju?
Orang tua yang sibuk mengejar materi menjadikan waktunya sempit untuk bisa mendidik putra – putrinya, lingkungan yang serba permisif, hedonis, dan materialis tentu tidak bisa menghasilkan generasi unggul seperti yang diharapkan Islam
Di samping itu negara seharusnya memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, termasuk di bidang pendidikan. Dukungan untuk pendidikan harus benar-benar diberikan. Biaya sekolah mulai PG sampai Perguruan Tingi harus murah bahkan kalau memungkinkan bisa gratis. Sarana prasarana sekolah juga harus mendukung. Suasana sekolah yang nyaman, asri, rindang, serta koleksi buku-buku di perpustakaan juga harus memadai baik yang buku cetakan maupun buku digital.
Selain itu negara juga harus memberikan sanksi yang tegas bagi individu maupun kelompok semacam gangster yang meresahkan masyarakat. Segala macam tindakan kriminal termasuk tawuran harus ditindak tegas. sanksi yang tegas bisa membuat pelaku dan masyarakat akan berpikir seratus kali bahkan lebih jika akan melakukan tindakan kriminal. Hanya negara yang menerapkan sistem Islam yang bisa menerapkan ini semua. Wallahu A’lam Bish Showab []
Sumber Foto : Canva

