Rangkaian tindakan biadab yang menimpa anak-anak Palestina ini bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan bukti nyata dari kejahatan yang terstruktur dan menjijikkan
Poppy Kamelia P. BA(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)
WacanaMuslim-Jeritan kesakitan dan penderitaan mendalam kembali menggema dari tanah Tepi Barat yang diduduki. Bumi Palestina yang berkali-kali dibasahi air mata kini menyaksikan tragedi kemanusiaan yang sangat menyayat hati, di mana jiwa-jiwa muda yang tak berdosa menjadi korban utama dari kesadisan tanpa henti. Berdasarkan data resmi yang diverifikasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, tercatat kematian setidaknya seratus tujuh puluh empat anak Palestina di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur dalam kurun waktu Januari dua ribu dua puluh empat hingga Juli dua ribu dua puluh enam (Republika, 18/07/2026). Angka memilukan ini menegaskan kenyataan pahit bahwa lebih dari satu nyawa anak melayang setiap minggunya akibat kebrutalan mesin perang yang tiada ampun.
Luka fisik dan trauma mendalam yang dirasakan oleh generasi muda Palestina melukiskan betapa kejamnya takdir yang harus mereka jalani di bawah kungkungan jajahan. Laporan PBB mengungkapkan bahwa lebih dari seribu lima ratus anak mengalami luka-luka, dengan hampir separuh di antaranya menderita cedera parah akibat tembakan peluru tajam yang diarahkan secara sengaja (Republika, 18/07/2026). Tidak berhenti pada kekerasan fisik di jalanan, hak kemerdekaan mereka pun dirampas secara paksa. Saat ini terdapat sedikitnya tiga ratus lima puluh lima anak Palestina dari Tepi Barat yang meringkuk di dalam sel tahanan militer Israel dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi (Antara News, 19/07/2026). Masa muda mereka yang seharusnya dihiasi canda tawa, mimpi indah, serta pendidikan yang layak justru direnggut oleh rasa takut di balik dinginnya tembok penjara.
Rangkaian tindakan biadab yang menimpa anak-anak Palestina ini bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan bukti nyata dari kejahatan yang terstruktur dan menjijikkan. Penjajah zionis secara sengaja meningkatkan eskalasi teror melalui ribuan kali serangan brutal, tindakan pengusiran paksa, perampasan tanah milik warga, serta praktik genosida dalam senyap untuk menguasai Tepi Barat secara utuh (Antara News, 19/07/2026). Strategi sistematis ini dilancarkan guna melenyapkan masa depan Palestina dengan cara merusak mental dan fisik generasi penerusnya sejak dini. Mereka berharap penderitaan dan trauma mendalam yang ditanamkan secara terus-menerus akan memadamkan semangat perlawanan rakyat Palestina dalam mempertahankan tanah air tercinta hingga generasi mendatang.
Sayangnya, di tengah gelombang kejahatan kemanusiaan yang teramat mengerikan ini, dunia internasional justru mempertontonkan kepalsuan nurani yang sangat mengecewakan. Lembaga-lembaga global yang selalu mengagungkan hak asasi manusia tampak tak berdaya dan hanya mampu melontarkan kecaman retoris belaka tanpa tindakan nyata di lapangan. Hal yang jauh lebih menyakitkan hati adalah sikap para penguasa di negeri-negeri muslim yang justru memilih untuk bungkam, berdiam diri, dan enggan mengerahkan kekuatan militer untuk melawan zionis. Kepasifan para pemimpin dunia Islam ini seolah memberikan lampu hijau bagi penjajah untuk terus membantai anak-anak tanpa takut akan adanya pembalasan fisik yang berarti dari tentara muslim.
Islam sebagai syariat yang sempurna secara tegas mengharamkan segala bentuk pembiaran terhadap kejahatan kemanusiaan, terlebih yang menimpa anak-anak yang lemah dan tidak berdaya. Setiap tetes darah muslim yang tertumpah adalah kehormatan yang sangat berharga dan wajib dilindungi oleh seluruh umat dengan segala daya dan upaya. Membiarkan anak-anak Palestina dibantai, disiksa, dan dipenjara tanpa ada pembelaan nyata merupakan sebuah dosa besar yang sangat berat di hadapan Allah SWT. Rasa kemanusiaan dan keimanan kita seharusnya bergolak menyaksikan penderitaan saudara seiman yang terus dibiarkan berjuang sendirian melawan kedzaliman yang sangat melampaui batas ini.
Penyelesaian tuntas atas tragedi berkepanjangan di tanah Palestina memerlukan langkah konkrit dan berani yang berakar pada ajaran Islam yang ideologis. Rasa ukhuwah Islamiyah harus diwujudkan secara nyata melalui persatuan seluruh negeri-negeri muslim dalam satu kepemimpinan politik global yaitu institusi Khilafah. Hanya dengan penyatuan kekuatan politik, ekonomi, dan militer di bawah naungan Khilafah, umat Islam akan memiliki posisi tawar yang sangat kuat untuk menghentikan kebrutalan zionis secara seketika. Batas-batas sekat nasionalisme yang selama ini memecah belah kekuatan umat harus diruntuhkan demi mewujudkan perlindungan yang hakiki bagi seluruh warga yang teraniaya di mana pun mereka berada.
Dalam pandangan Islam, pembebasan tanah Palestina dari belenggu penjajahan tidak akan pernah bisa dicapai melalui meja perundingan yang penuh tipu daya dan kompromi palsu. Seruan jihad fi sabilillah dan pengiriman militer secara masif untuk mengusir penjajah merupakan satu-satunya solusi syari yang wajib dilaksanakan tanpa ragu. Partai politik ideologis memiliki peran vital untuk terus-menerus menyuarakan dorongan ini kepada para pemilik kekuasaan dan angkatan bersenjata di negeri-negeri muslim. Kesadaran umat harus terus dikobarkan agar mereka tidak berhenti menuntut pengiriman tentara Islam hingga tanah syam terbebas secara nyata dari cengkeraman penjajah.
Ketika kekuatan militer gabungan umat Islam bergerak di bawah satu komando yang adil dan berani, maka kebrutalan penjajah akan segera berakhir dan anak-anak Palestina dapat kembali meraih kemerdekaan mereka yang sejati. Keamanan, kedamaian, dan kebahagiaan akan kembali menaungi tanah para nabi sebagaimana yang pernah terukir indah dalam sejarah peradaban Islam di masa lalu. Sudah saatnya seluruh elemen umat bersatu membuang keraguan dan melangkah bersama mewujudkan janji Allah bagi kemenangan Islam serta keselamatan seluruh manusia dari kejahatan sistemik yang merusak. Wallahu A’lam Bishshawab[] Sumber Foto : Canva

