Nasib Sekolah Negeri yang Kekurangan Murid, Apa yang Terjadi?

Bagikan Artikel ini

Islam memandang bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar yang harus di peroleh oleh manusia dan merupakan pilar penting peradaban


Oleh: Tri Idayanti

WacanaMuslim-Memasuki tahun ajaran baru tahun 2026, sekolah akan disibukkan dengan penerimaan siswa baru. Tetapi hal itu tidak terjadi pada tiga SD di Kabupaten Blitar, alias tidak mendapat murid sama sekali. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Agus Santosa membenarkan adanya tiga SD yang tidak mendapatkan murid sama sekali. Ketiga SD tersebut adalah SD N Kalimanis 4 di Kecamatan Doko, SD N Ringinrejo 3 di Kecamatan Wates, dan SD N Sumberboto di Kecamatan Wonotirto. (Kompas, 13-7-2026).

Dinas Pendidikan Agus Santosa menyatakan bahwa penyebab sekolah yang tidak mendapatkan murid karena potensi murid di daerah tersebut sedikit dan ada sekolah lain di sekitarnya. “Akan kami pelajari penyebab pastinya apa, akan di dalami dulu.” Ucapnya. (Kompas, 13-7-2026).

Menurut pakar pendidikan Universitas Negeri Malang Djoko Saryono mengatakan bahwa fenomena sekolah kekurangan murid merupakan masalah yang kompleks, perlu dilihat satu per satu akar permasalahan yang melingkupi, termasuk keseimbangan antara jumlah anak dan sekolah ketika ada sekolah yang kekurangan murid atau tidak mendapatkan murid sama sekali, sedangkan jumlah sekolah dan lulusan seimbang, maka kemungkinan ada pergeseran. (Kompas, 13-7-2026). Dalam hal ini adalah orang tua yang tidak lagi menyekolahkan anaknya ke SD Negeri, tetapi ke MI atau sekolah swasta lain. “Bisa jadi karena swasta sekarang memberikan banyak layanan tambahan. Apalagi yang boarding, sampai keterampilan yang populer, trendi, dan memiliki akar spiritual. Di kota kecil saja fenomena ini sudah tampak,” katanya. (Kompas, 13-7-2026).

Selain itu juga, faktor lainnya juga dipicu oleh kondisi lingkungan sekitar yang tidak lagi berkembang sehingga banyak penduduk muda berpindah ke tempat lain (urbanisasi). Akibatnya SD setempat tidak mendapatkan sumber memadai. (Kompas, 13-7-2026).
Menurut beliau jika tindakan preventif tidak bisa dipertahankan, maka dilakukan tindakan kuratif dengan penggabungan (regrouping). Namun solusi ini pun masih belum menjadi solusi terbaik, sebab masih memiliki kemungkinan memberatkan satu dua murid lantaran jarak yang semakin jauh. Hal itu juga tidak akan menyelesaikan persoalan jika di dekat situ terdapat sekolah lain (MI atau swasta). (Kompas, 13-7-2026).

Sekolah Negeri Kekurangan Murid; Buah dari Masalah Sistemik

Potensi murid yang sedikit pada suatu wilayah bukanlah masalah tanpa sebab. Masalah ini berkaitan dengan perubahan struktur demografi (penduduk menua) akibat kebijakan penerintah sehingga menjadikan jumlah kelahiran mengalami penurunan. Beratnya biaya hidup yang harus ditanggung membuat kesejahteraan sulit untuk di raih. Hal ini membuat pasangan muda enggan memiliki anak. Akibat kebijakan ekonomi yang gagal ini pula berdampak pada kesenjangan pendapatan antara desa dengan kota, sehingga sebagian dari masyarakat memilih untuk melakukan urbanisasi.

Minimnya murid di sekolah negeri juga dipicu oleh bergesernya minat orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke dalam sekolah. Para orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah yang mengajarkan agama lebih banyak bila dibandingkan memasukkan anaknya ke sekolah negeri. Tentu, mereka memiliki alasan mengapa lebih memilik memasukkan anaknya ke sekolah yang mengajarkan ajaran agama yang lebih banyak.

Di tengah berbagai kerusakan moral, pergaulan bebas, kenakalan remaja, dan berbagai permasalahan yang menimpa gemerasi hari ini, tentu menjadi kekhawatiran yang besar bagi para orang tua jika anaknya mengikuti arus permasalahan generasi hari ini yang begitu nampak kerusakannya. Orang tua hanya bisa menyekolahkan anaknya ke sekolah yang mengajarkan materi keislaman lebih banyak, sebagai bentuk menyelamatkan anaknya dari arus yang rusak hari ini.

Berbagai permasalahan yang menimpa generasi hari ini adalah akibat dari diterapkannya sistem kapitalisme-sekuler-liberal. Diterapkannya sistem sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) menjadikan agama hanya diterapkan di ranah pribadi atau tempat ibadah saja, sedangkan untuk mengatur kehidupan dunia menggunakan aturan buatan manusia yang memiliki keterbatasan. Islam yang seharusnya menjadi panduan untuk mengatur kehidupan manusia, harus dihilangkan dari kehidupan dan digantikan dengan sistem kapitalisme liberal.

Berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki keadaan termasuk upaya menggati kurikulum. Namun, tetap saja permasalahan yang ada tidak kunjung selesai dan semakin luas kerusakannya. Maka perlu adanya tata aturan yang komprehensif agar masalah dibidang pendidikan bisa teratasi.

Islam Mengatur Pendidikan

Islam memandang bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar yang harus di peroleh oleh manusia dan merupakan pilar penting peradaban. Maka, di dalam Islam negara memiliki peran untuk menyediakan pendidikan yang layak dan berkualitas untuk setiap warga negaranya. Semua berhak mendapatkan akses pendidikan dengan mudah termasuk warga negara non-muslim.

Negara Khilafah Islamiyah menggunakan kurikulum berbasis akidah Islam untuk mewujudkan output berkepribadian Islam dan mahir dalam iptek. Maka disinilah peran negara untuk menyediakan SDM guru, infrastruktur, sarana dan prasarana untuk mendukung pendidikan yang berkualitas. Dengan pendidikan yang berkualitas lahirlah generasi yang memiliki keperibadian Islam, memiliki kecerdasan intelektual, kemampuan berfikir kritis, kematangan karakter, kedalaman spiritual, bertanggung jawab, mengembanbkan sains dan teknologi sekaligus berdakwah untuk melakukan amar makruf nahi munkar.

Maka masyarakat harus mampu memahami bahwa untuk menyelamatkan anak-anak, tidak cukup hanya dengan memilihkan sekolah terbaik. Tetapi perlu ada upaya yang serius dan komprehemaif untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas sehingga anak dapat terselamatkan dari bahaya kerusakan generasi hari ini. Bahwa berbagai kerusakan yang terjadi adalah kerusakan sistemik akibat diterapkannya sistem sekuler liberal.

Terciptanya pendidikan yang mampu menyelamatkan generasi dari bahaya kerusakan generasi hanya bisa terwujud di dalam sistem kehidupan Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Maka perlu adanya upaya yang serius yaitu dengan melakukan dakwah amar makruf nahi munkar sebagaimana yang di contohkan oleh Rasulullah saw. sehingga dapat mengganti sistem sekuler liberal yang sedang diterapkan hari ini dan menghadirkan kembali Khilafah Islamiyan yang pernah berdiri dan menjadikan Islam sebagai rahmatan lil’alamiin.

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan,”(TQS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 21)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *