Oleh M. Muhajirin (Majlis Tsaqofah Islamiyah Al Muhajirin, Laren, Lamongan)
Wacana Muslim-Banyak diantara kita yang secara tidak sadar menjalani ibadah hanya setakat seremonial semata. Tanpa mampu memberikan Atsar (bekas kebaikan) bagi sikap kita. Usia semakin tua,ibadah semakin berkurang kualitas nya,celakanya diantara kekurangan fisik kita menjelang tua justru semakin nyaman dengan ibadah ala seremonial.
Kita rajin melaksanakan Sholat itu adalah amal sholeh,melaksanakan puasa pun amalan yang sangat baik,menyisihkan rezeki yang diberikan ALLAH ﷻ kepada yang berhak adalah bentuk kesyukuran. Akan tetapi jangan sampai kita melaksanakan ibadah itu semua justru tidak mampu memberikan dampak bertambahnya keberkahan dalam hidup kita, memang benar Neraka Saqor bagi siapapun yang meninggalkan sholat, juga neraka Sa’ir disiapkan bagi orang yang sombong,kikir,juga serakah. Bahkan neraka hutamah juga dikhususkan bagi orang-orang yang suka mengumpat, mencela, mengumpulkan harta lalu menghitung-hitungnya, dan menganggapnya akan kekal. Juga neraka jahannam tingkat pertama yang penghuninya memiliki sifat-sifat munafik dalam dirinya. Selain itu, penghuni neraka Jahannam juga selalu mengikuti langkah-langkah iblis dan setan, serta menentang kebenaran dan menyepelekan dakwah Rasul.
Namun ketahuilah bahwa ada yang luput dari perhatian kita semuanya,bahwasanya ada satu lembah yang terletak di dalam neraka Jahannam,lembah tersebut adalah lembah jubbul huzni. Lembah yang berada di dasar neraka Jahannam ini diperuntukkan bagi pembaca Alquran yang riya’ dengan niatan pamer dan tidak mampu merubah sikapnya menjadi lebih baik lantaran gagal mentadaburi makna nya, juga hanya sebatas dilakukan sebagai seremonial semata. Sebagaimana sholat,jika sholat hanya dilaksanakan sekedar seremonial dan tidak mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar,maka dikhawatirkan Iblis akan mudah menguasai diri kita dengan merasa cukup dalam beribadah,merasa baik dalam beribadah,merasa hebat dalam beribadah,Naudzubillah.
تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جُبِّ الْحُزْنِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا جُبُّ الْحُزْنِ قَالَ وَادٍ فِي جَهَنَّمَ تَعَوَّذُ مِنْهُ جَهَنَّمُ كُلَّ يَوْمٍ أَرْبَعَ مِائَةِ مَرَّةٍ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ يَدْخُلُهُ قَالَ أُعِدَّ لِلْقُرَّاءِ الْمُرَائِينَ بِأَعْمَالِهِمْ وَإِنَّ مِنْ أَبْغَضِ الْقُرَّاءِ إِلَى اللَّهِ الَّذِينَ يَزُورُونَ الْأُمَرَاءَ
Rasulullah ﷺ bersabda: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari Jubbul Huzn.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan Jubbul Huzn?” beliau menjawab: “Sebuah lembah di neraka jahanam. Dan jahanam berlindung darinya empat ratus kali setiap hari.” Beliau ditanya; “Ya Rasulullah, siapakah yang akan memasukinya?” beliau menjawab: “Ia dipersiapkan bagi para Qori’ yang berlaku riya` dengan amalan-amalannya. Dan Qori’ yang paling dimurkai Allah adalah orang-orang yang mengunjungi para penguasa.” Sunan Ibnu Majah No. 252 – Kitab Mukadimah.
Dapat kita ambil kesimpulan bahwa tergelincir nya ahli ibadah hanya memungkinkan melalui satu pintu,yakni tidak menjaga kualitas keikhlasan dalam beribadah,serta meningkatkan dengan menjalani kewajiban kewajiban lainnya.
Bahkan dalam kitan Kifayatul Akhyar, hlm 199, Kitab ini disusun oleh Syekh Al-Imam Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hisni ad-Dimasyi asy-Syafii, beliau menjelaskan
وليحذر كل الحذر أن يستغفر بلسانه وقلبه مصر على بقائه على الظلم والجور وعدم إقامة الحدود وبقائه على الغش للرعية فيبوء بغضب من الله سبحانه فإنها صفة اليهود وقد ذمهم الله تعالى على ذلك ولأنه نوع استهزاء وقد صرح العلماء بأن هذا الاستغفار ذنب . (كفاية الأخيار – ج 1 / ص 199)
“… hendaknya seorang hamba sangat berhati-hati untuk beristighfar dengan lisannya, sedang hatinya terus (ridha) dalam melakukan kezaliman, kedurhakaan, tidak melaksanakan hudud, dan terus dalam menipu rakyatnya sehingga dia mendapatkan murka dari Allah swt, sesungguhnya yang demikian itu adalah sifat yahudi. Allah swt telah mencela mereka atas perbuatan tersebut, karena tergolong istihza’ (mempermainkan Allah ﷻ). Para ulama secara jelas telah menyatakan bahwa istighfar semacam ini adalah DOSA!” .
Menguatkan dari pembahasan kali ini yakni tidak pernah mencukupkan amal amal kita dan tidak pula melaksanakan amal amal sholeh kita hanya setakat menjadi seremonial (menggugurkan kewajiban) semata,sebab dengan demikian maka besar kemungkinan kita akan menolak kebenaran lainnya yang juga memiliki derajat kewajiban yang sama atas ibadah ibadah yang selama ini kita lakukan dan kita yakini sebagai kewajiban. Misalnya saja kita sangat rajin membaca Alquran,namun menolak untuk berhukum dengan Alquran. Kita rajin melaksanakan Sholat,namun menolak untuk Dakwah penegakkan syari’at ALLAH ﷻ. Kita merasa Ahli dzikir,namun tidak sadar kita mempermainkan ALLAH ﷻ (Istihza) lantaran setelah berdzikir lalu bermaksiat kembali,berdzikir kembali dan bermaksiat kembali,istighfar lagi,lalu mengulangi kemaksiatan lagi. Menurut ulama amalan seperti ini adalah pepesan kosong yang tidak bernilai.
Olehnya mari kita upgrade kualitas ibadah kita,serius menambah ilmu kita agar terhindar dari aktivitas Istihza’, dan menundukkan baqo’ kita hanya karena berharap ridha ALLAH ﷻ,sebab dengan bertambahnya pengetahuan lah akan mampu menambah serta menjaga amal amal kita semuanya.Jangan sampai Baqo’ kita justru mengantarkan kita kepada apatisme akan keberlanjutan dakwah. Lebih celakanya lagi jika kita tidak serius akan dakwah ini (hanya setakat menggugurkan kewajiban semata),juga enggan menerima amanah serta kewajiban dakwah maka dikhawatirkan ALLAH ﷻ akan mencabut sedikit demi sedikit fasilitas yang telah diberikan oleh ALLAH ﷻ atas kita sebelumnya. Baik fasilitas tertanam nya keikhlasan,semangat,kekuatan,kesehatan,kecerdasan,rezeki,dll.
Wallahu A’lam Bi Showab
Saudaramu M.Muhajirin

