Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
( Institut Literasi dan Peradaban)
WacanaMuslim-Ada pernyataan ambigu dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama (Kemenag) RI Kamaruddin Amin tentang cara mewujudkan Indonesia yang damai dan tanpa keributan, yaitu dengan membiasakan sikap moderasi beragama (republika.co.id, 24/5/2024).
Menurut Kamaruddin, moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan perilaku beragama yang anti-kekerasan, menghargai perbedaan, menghargai budaya lokal, dan memiliki komitmen kebangsaan Indonesia.
Dengan kata lain, masyarakat Indonesia wajib menjadi umat beragama yang sekaligus menjadi warga negara yang baik. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Sebab keduanya merupakan substansi moderasi beragama.
Kamarudin menegaskan dari sisi visi kebangsaan untuk meniadakan kekerasan, terlebih pada kasus kekerasan yang dilakukan atas nama agama tertentu. Selanjutnya, toleransi, yang diwujudkan dengan menghargai perbedaan, pendapat, bahkan keyakinan orang lain. Kamaruddin menilai sikap moderasi beragama di Indonesia sudah kian membaik.
Dibuktikan dengan tidak adanya sentimen atas agama tertentu dalam gelaran Pilpres yang berlangsung beberapa waktu yang lalu demikian juga semakin berkualitas diukur dari suasana kita berbangsa, bernegara selama ini yang terasa lebih tenang, lebih peaceful, lebih damai, lebih toleran, lebih saling menghargai.
Moderasi Beragama Racun Mematikan
Moderasi beragama sesungguhnya ide usang yang mematikan. Ini adalah ide sesat, yang menjadikan agama (Islam) seolah-olah biang keributan. Sehingga moderasi sebagai jalan tengah dan sarana menumbuhkan toleransi terus digaungkan. Moderasi beragama tak akan bisa menjadikan warga negara sekaligus umat beragama yang baik dalam satu pribadi.
Sebab moderasi beragama justru mengkampanyekan sekulerisme, dengan kata lain, jika anda muslim maka jangan jadikan Islam itu sebagai solusi. Contoh, ketika sebagai warga negara diwajibkan untuk membayar BPJS, sedangkan dalam Islam sebagai agama yang ia anut, BPJS adalah asuransi, salah satu muamalah yang diharamkan. Sebab ada dua akad dalam satu transaksi, juga bentuk pelalaian kewajiban negara menjamin kesehatan rakyatnya.
Faktanya lagi, apa yang membuat masyarakat ribut dan baku hantam, apakah karena persoalan agama? Bukan! Melainkan karena faktor ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, keamanan yang sudah rusak karena dibuat sekuler ( pemisahan agama dari kehidupan). Bahkan semua pelayanan negara untuk rakyatnya sudah dikapitalisasi, dijadikan komoditas. Seolah barang dagangan, dimana rakyat harus membeli, padahal kemampuan rakyat tak sama.
Moderasi dijadikan barang dagangan yang ditawarkan serta dikampanyekan seolah benar-benar hanya itu solusinya. Inilah realitas peribahasa lempar batu sembunyi tangan, berbagai upaya digunakan sebagai tameng, menutupi ketidakmampuan negara menciptakan perdamaian dan kesejahteraan hakiki.
Gagal paham menyikapi akar persoalan masyarakat ini memang sebuah keniscayaan dalam sistem kapitalisme sekuler hari ini, sebab, penguasa bukan murni meriayah atau mengurusi urusan umat, melainkan hanya melayani pesanan majikan berduitnya dan siap menggelar karpet agar sang majikan leluasa mendapatkan setiap keinginannya.
Para penguasa kita sibuk mengamankan perut masing-masing. Karena moderasi beragama bukan ide asli mereka, melainkan barat yang bersumber dari cara pandang mereka terhadap Islam. Hal ini terlihat dari empat indikatornya, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi (yang tidak selaras dengan cara pandang Islam).
Hal ini terus menerus digaungkan sehingga membuat kaum muslim sendiri berada dalam kebingungan, terlebih jauhnya masyarakat kekinian dari abad kejayaan Islam yang sukses memberikan peradaban cemerlang sekaligus mulia sepanjang 1300 tahun. Tak ada keributan yang dimaksud sebagaimana hari ini, padahal agama pun sudah berbilang sebagaimana hari ini.
Islam Way of Live Hakiki
Dalam sistem Islam, semua warga negara (muslim maupun nonmuslim) memiliki kedudukan yang sama. Dalam ranah kehidupan umum, diberlakukan sistem Islam secara menyeluruh, seperti ekonomi, pendidikan, hingga sanksi. Sistem ekonomi menjamin kesejahteraan rakyat dengan pengelolaan sumber daya alam sepenuhnya untuk rakyat.
Seorang orientalis Inggris, T.W. Arnold, bahkan menuliskan dalam buku The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, bahwa perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa).
Maka tidak ada alasan yang bisa dibenarkan untuk terus percaya pada pendapat bahwa moderasi beragama solusi atas seluruh problem kehidupan, dan kemudian mereduksi ajaran Islam sedemikian rupa sehingga hanya terlihat sisi ibadahnya saja, padahal Islam sebagai sebuah ideologi juga mewajibkan pemeluknya untuk saling menjaga kerukunan, sejahtera, damai dan tanpa keributan.
Namun tentu hanya bisa diraih dengan mencabut kapitalisme sekuler terlebih dahulu kemudian menerapkan syariat, itu adalah harga mutlak, sebab tak bisa hal yang batil bercampur dengan yang Haq. Allah Swt berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (TQS Al Baqarah: 208). Wallahualam bissawab []
Photo : Canva

