Sistem pendidikan sekular mencetak generasi yang minim adab, krisis identitas, materialisme, individualisme, hedonis dan pragmatis.
Oleh : Hanif Eka Meiana
WacanaMuslim-Mengutip dari akun instagram @palembangkeras, seorang guru SMP berinisial NM, nyaris diperkosa siswanya sendiri, LS di rumah dinas korban di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, pada Kamis (14/11) lalu, pukul 01.00 WIT. Peristiwa bermula saat LS mendatangi rumah dinas gurunya sekitar pukul 01.00 WIT kemudian memutus aliran listrik rumah dan mencoba membuka pintu rumah NM menggunakan sebatang kayu. NM yang menyadari listrik di rumahnya tiba-tiba padam lalu memeriksa situasi dari balik jendela. Namun tiba-tiba, LS menyerang NM dengan membekap tubuhnya dan berusaha menyeretnya keluar rumah.
Korban sempat berteriak, tetapi suaranya tidak direspon oleh tetangga karena hanya dikira angin lalu. Tak pasrah begitu saja, sang guru pun kemudian berusaha melakukan perlawanan terhadap perbuatan muridnya hingga akhirnya NM berhasil melepaskan diri, sementara LS melarikan diri dari lokasi kejadian. Pelaku yang masih di bawah umur itu lalu ditangkap dan diamankan di Polsek Waigeo Utara untuk diproses lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan sementara, LS diduga pernah melakukan hal serupa dan kembali mengulangi perbuatannya.
Miris mendengar berita diatas. Murid yang seharusnya menghormati seorang guru, kita dapati hari ini banyak tingkah laku murid yang tidak pantas terhadap gurunya. Bahkan melewati batas seperti kasus diatas. Bagaimana bisa seorang murid bertindak asusila terhadap gurunya? Apa yang menjadikannya melakukan perbuatan tersebut? Mengapa banyak anak muda hari ini yang gampang mengumbar hawa nafsunya?
Sesungguhnya ada yang bermasalah dalam sistem pendidikan kita hari ini. Termasuk juga kondisi masyarakat yang kian hari tidak makin sejahtera melainkan terbebani dengan berbagai problem kehidupan. Bila kita mencari akar persoalan dari hal ini tidak lain akibat jauhnya umat dari penerapan hukum yang benar. Hukum yang berlaku pada hampir sebagian besar masyarakat di Indonesia dan di dunia adalah hukum hasil pemikiran manusia.
Padahal sejatinya manusia itu tak luput dari salah dan dosa. Alhasil bila manusia diberikan kewenangan untuk membuat hukum, maka ia akan membuat aturan sesuai dengan kehendaknya, sesuai dengan nafsunya jika tanpa diatur oleh agama. Inilah yang sering kita sebut sebagai sekular, yakni pemisahan antara agama dengan kehidupan yang menjadi asas dari sistem kapitalisme.
Sistem kapitalisme memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi manusia untuk membuat hukum, mengekspresikan keinginannya tanpa ada larangan/berperilaku, beragama, berpendapat, dan sebagainya. Dampaknya aturan buatan manusia selalu akan ada cacatnya. Seperti halnya sistem pendidikan kita saat ini.
Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/pornografi-anak-kian-marak-buah-sistem-rusak/
Sistem pendidikan sekular mencetak generasi yang minim adab, krisis identitas, materialisme, individualisme, hedonis dan pragmatis. Hal ini dikarenakan landasan dari pendidikan sekuler bukanlah aqidah Islam melainkan materi. Kurikulum yang ada tidak betul-betul mampu mendidik siswa menjadi insan yang mulia tetapi mendidik mereka menjadi buruh/pekerja dan jikapun mampu mencerdaskan, kecerdasan yang ada tidak memberikan manfaat secara luas bagi umat.
Di sisi lain, sistem sosial dan budaya dalam kapitalisme yang sekuler membawa dampak buruk bagi masyarakat dan generasi. Tanpa adanya aturan, kehidupan sosial masyarakat dipenuhi dengan aktivitas mubadzir, gaul bebas, narkoba, mabuk-mabukan, hingga mengarah pada kesyirikan. Generasi muda menjadi konsumen yang terbesar dalam mengakses media sosial, hal ini dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis dalam menjual produk mereka.
Iklan-iklan maksiat bertebaran di media sosial, konten-konten fulgar dan penuh sensasi menjadi perbincangan, maraknya film-film juga industri musik yang yang memproduksi hal-hal berbau pornografi menjadi konsumsi di masyarakat. Wajar jika hal ini membangkitkan nafsu dikalangan anak muda. Belum lagi pemerintah mendorongnya dengan kebijakan yang membolehkan penggunaan alat kontrasepsi pada remaja.
Tak heran jumlah kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, begal, pembunuhan, hingga kejahatan terhadap perempuan via daring selalu meningkat jumlahnya. Seperti kasus diatas. Siswa tersebut berani bertindak demikian dapat disebabkan karena mudahnya mengakses situs porno, minimnya pemahaman agama, minimnya pembinaan dari orang tua, lingkungan pergaulan yang tak Islami, serta minimnya sanksi bagi para pelaku pelecehan seksual.
Sistem kapitalisme juga menjadi penyebab generasi hari ini menjadi rusak. Selain sistem pendidikan yang berlandaskan materi juga sistem sosial yang tidak Islami, sistem ini pun membiarkan pemerintah abai terhadap rakyatnya. Para pejabatnya korupsi, sibuk mempertahankan jabatan, sibuk dengan proyek oligarki yang hanya menguntungkan segelintir pihak, sibuk berkoalisi dan mengabaikan hak-hak rakyat. Termasuk juga mengabaikan generasi mudanya. Negara tak mampu memfilter budaya dan pemikiran asing yang masuk. Dampaknya kerusakan meluas disegala lini kehidupan.
Berbeda jika Islam yang mengatur. Penerapan Islam kafah mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Di dalamnya diatur mulai dari pendidikan, kesehatan, pergaulan, keamanan, pemerintahan, ekonomi dan aspek kehidupan lainnya. Sistem pendidikan Islam berlandaskan pada aqidah Islam, sehingga mampu mendidik siswa menjadi insan yang mulia, memiliki syakhsyiyyah Islamiyah (kepribadian Islam), dan bermanfaat bagi umat.
Islam menjaga generasi dari pengaruh luar yang menyesatkan. Soal pergaulanpun diatur secara detail, seperti menundukkan pandangan, tidak boleh khalwat, tidak boleh ikhtilat, menutup aurat, interaksi dengan lawan jenis hanya pada hal yang diperbolehkan menurut syariat. Penerapan sistem Islam juga akan mendorong masyarakat untuk saling beramar ma’ruf nahi munkar, dan membentuk lingkungan yang Islami.
Kepemimpinan dalam Islam merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya negara akan menegakkan hukum-hukum Islam dalam setiap aspek kehidupan, menjaga generasi dengan mengontrol setiap tayangan dan media sosial agar hanya digunakan untuk edukasi dan dakwah Islam, menegakkan saksi Islam terhadap setiap pelaku tindak kejahatan.
Demikianlah bila Islam yang mengatur kehidupan. Generasi akan terjaga, guru dimuliakan, umat akan sejahtera dengan penerapan ekonomi Islamnya dan negara menjadi junnah atau perisai bagi rakyatnya. Insyaallah bila hal ini mampu diterapkan, maka kita akan mengulang kembali masa kejayaan Islam. Kasus murid melecehkan gurunya atau suul adab juga akan minim kita temukan. Keberkahan kian tercurah dan umat ini akan menjadi mulia di hadapan Allah Swt.
Waullahu’alam.[]
Sumber Foto : Canva

