Perilaku kriminal sadis yang sudah berulang kali terjadi membuktikan bahwa kerusakan generasi bukan hanya kesalahan individu, tetapi sudah menjadi problem sistemis.
Oleh : Eni Imami, S.Si, S.Pd (Pendidik dan Pegiat Literasi)
WacanaMuslim-Publik kembali dikejutkan dengan mencuatnya kasus tindakan sadis seorang remaja MAS (14) di Cilandak, Jakarta Selatan. Ia tega menusuk ayah dan neneknya hingga tewas. Sang ibu juga terluka akibat aksi tersebut, namun mampu menyelamatkan diri. Belum diketahui pasti motif perbuatannya, hingga kini masih dilakukan penyelidikan. (tvonenews.com, 05-12-2024).
Sebelumnya, di Deli Serdang remaja berinisial FA (17) juga tega menusuk ibunya (54) sebanyak 12 kali. Ia mengaku kesal karena sering dimarahi ibunya ketika pulang malam. Setelah kejadian, pelaku melarikan diri, namun akhirnya ditangkap dan diamankan oleh Polresta setempat. (detik.com, 01-12-2024).
Peristiwa ini menambah panjang daftar kasus ktiminalitas yang dilakukan oleh remaja. Sebelumnya, awal 2024 lalu seorang remaja usia 16 tahun di Panajam Paser Utara, Kalimantan Timur, juga melakukan pembunuhan terhadap satu keluarga yang terdiri dari suami-istri dan 3 anak. Pelaku tak hanya membunuh, ia juga memperkosa jasad anak pertama korban.
Korban Sistemis
Tindakan-tindakan tersebut membuat hati miris dan menimbulkan pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi dengan generasi saat Ini?. Tindakan kriminal mereka semakin sadis. Menurut Psikolog Klinis, Liza Marielly Djaprie, tindakan kekerasan ekstrem seperti yang dilakukan MAS tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa ada faktor-faktor yang mendasarinya. Ia menganalisis kemungkinan adanya faktor penumpukan trauma dan frustasi pada MAS sebagai pemicu di balik perbuatan kejamnya. (Kompas.com. 03-12-2024)
Perilaku kriminal sadis yang sudah berulang kali terjadi membuktikan bahwa kerusakan generasi bukan hanya kesalahan individu, tetapi sudah menjadi problem sistemis. Sistem yang diterapkan saat ini terbukti gagal mewujudkan generasi yang beradab, sehingga tak sedikit dari mereka menjadi pelaku tindakan biadab.
Sistem negara saat ini dipengaruhi oleh sistem Sekuralisme-Kapitalis. Dimana kehidupan dipisahkan dari agama dan orientasi hidup hanya materi. Atas nama kebebasan setiap individu berhak melakukan apa saja yang diinginkan. Tentu saja konsep ini berbahaya, menjadikan generasi lemah kontrol diri, mudah emosi serta terbawa arus lingkungan.
Akibat sistem sekularisme-kapitalis, orang tua lalai mendidik anak-anaknya di rumah. Mereka sibuk bekerja, sedangkan pemenuhan kebutuhan anak hanya pada aspek materi saja. Orang tua menuntut anaknya berprestasi, mendapatkan penghargaan dan gelar pendidikan tinggi tanpa melihat kemampuan yang dimiliki. Tak ayal, anak-anak menjadi stress, frustasi hingga depresi, meski tampak baik-baik saja, tetapi rapuh mentalnya.
Akibat sistem sekularisme, pendidikan di sekolah terjadi dikotomi antara pengajaran agama dan ilmu umum. Materi dipelajari sebatas untuk mendapat nilai. Pun ilmu agama, tak mampu melahirkan generasi yang bertakwa. Karena ajaran agama hanya dijadikan teori tidak dijadikan sebagai asas kehidupan.
Kepedulian sosial juga makin rendah. Masyarakat cenderung individulis dan apatis. Kebiasaan saling tolong menolong dan mencegah kemaksiatan telah luntur karena masing-masing sibuk urusan pribadinya. Persoalan sistemis ini harus disolusi dengan sistemis pula, dengan melibatkan peran keluarga, masyarakat dan negara.
Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/pornografi-anak-kian-marak-buah-sistem-rusak/
Butuh Solusi Sistemis
Islam memiliki solusi sistemis atas masalah yang tengah terjadi pada masyarakat. Islam sangat menjaga setiap jiwa manusia. Pembunuhan satu jiwa tanpa haq diartikan sama dengan membunuh seluruh manusia. Allah SWT berfirman, “Siapa saja yang membunuh satu jiwa, bukan karena dia melakukan kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia membunuh semua manusia.” (Qs. Al-Maidah : 32)
Konsep tersebut harus dipahami serta diajarkan dalam pendidikan, baik di rumah maupun di sekolah. Orang tua berkewajiban memahamkan agama sejak dini dengan tujuan agar terwujud anak-anak yang shalih dan shalihah. Bukan tujuan agar anaknya berprestasi secara akademik, yang dianggap masa depannya mudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang melimpah.
Pendidikan di sekolah dalam sistem Islam, menjadikan akidah Islam sebagai asas pendidikan. Tujuannya membentuk generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam, sehingga menghasilkan generasi yang unggul dalam imtak (iman dan takwa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).
Selain itu, peran masyarakat dan negara sangat penting dalam menjaga mental generasi. Masyarakat Islam memiliki kepedulian sosial yang tinggi, turut mewujudkan suasana yang terikat dengan syariat Islam. Saling amar ma’ruf nahi mungkar. Negara sebagai penangung jawab utama untuk mewujudkan generasi yang berkualitas, dengan menerapkan sistem kehidupan Islam.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Imam (kepala negara) itu adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR. Muslim dan Ahmad)”
Sudah saatnya sistem Islam menggantikan sistem saat ini yang sudah terbukti gagal mewujudkan generasi berkualitas. Dengan sistem Islam, segala bentuk kejahatan yang dilakukan anak-anak akan disolusi secara tuntas. Negara akan menjatuhkan sanksi bagi para pelaku kejahatan dengan hukum-hukum yang bersumber pada Al Qur’an dan assunah serta ijma sahabat dan qiyas. Sehingga para pelaku kejahatan memiliki efek jera dan tidak terlahir adanya lagi generasi sadis. Wallahu a’lam bishshawab.[]
Sumber Foto : Canva

