Ambisi Israel Raya Rampas Palestina, Rebut Aqsa

Bagikan Artikel ini

Apa yang dilakukan entitas Zionis tidak bisa lagi disebut sebagai konflik biasa, ini adalah genosida, kebiadaban, dan kejahatan kemanusiaan yang terang-terangan

Oleh Arnita Fakhris
Aktivis Muslimah

WacanaMuslim-Dunia kembali dikejutkan oleh serangkaian aksi brutal yang dilakukan entitas Zionis terhadap rakyat Palestina dan umat Islam secara keseluruhan. Mulai dari perluasan wilayah pendudukan di Gaza, pembangunan ribuan unit permukiman ilegal di Tepi Barat, hingga upaya sistematis merebut hak perwalian Masjid Al-Aqsa. Semua ini terjadi dalam satu kesatuan skenario besar yang dikenal sebagai Greater Israel atau Israel Raya.

Allah Swt. berfirman, “Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (yang penduduknya zalim), dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu‘” (QS. An-Nisa’ [4]: 75).

Ayat ini menjadi panggilan abadi bagi setiap Muslim yang mendengar jeritan saudara-saudaranya di Palestina. Namun, mengapa penderitaan ini tak kunjung usai? Di mana kekuatan dan persatuan umat Islam?

Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada Oktober 2025, Israel justru terus memperkuat posisi militernya di Jalur Gaza. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa militernya telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza dan mengungkap rencana untuk memperluas penguasaan tersebut hingga mencapai 70 persen. Seorang warga Palestina bernama Abdullah Al-Astal menyampaikan kesedihan yang mendalam, “Tidak ada lagi tempat untuk pergi. Orang-orang sudah terjebak di area yang sangat kecil.” (MetroTV News, 5-6-2026).

Lebih memprihatinkan lagi, investigasi Al Jazeera mengungkap bahwa Israel telah membangun 40 pos militer permanen di Gaza, dengan delapan di antaranya dibangun dari nol setelah gencatan senjata berlaku. Bahkan, salah satu pos militer didirikan tepat di atas reruntuhan Pemakaman Timur di Khan Younis, sebuah bentuk penodaan yang sangat keterlaluan (Aljazeera.com, 3-6-2926).

Tidak hanya di Gaza, di Tepi Barat otoritas Israel juga terus menggila. Pada 3 Juni 2026, Israel menyetujui pembangunan 2.162 unit permukiman baru di Tepi Barat. Kepresidenan Palestina dengan tegas mengecam langkah ini sebagai tantangan terang-terangan terhadap hukum internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2334 yang menyatakan bahwa permukiman tersebut ilegal di seluruh wilayah Palestina yang diduduki. Saat ini, lebih dari 700.000 pemukim Israel tinggal di permukiman ilegal di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sementara 3,3 juta warga Palestina juga menghuni area yang sama dan terus terdesak (ANTARA News.com, 5-6-2026).

Pengibaran bendera Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa bukan sekadar simbol. Delapan negara muslim, termasuk Indonesia, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab, mengecam aksi tersebut sebagai langkah sistematis dalam mengubah karakter historis bangunan tersebut (Hidayatullah.com, 2026, 3 Juni). Ini adalah bagian dari rencana besar yang dilansir CNN Indonesia. Amerika Serikat dan Israel dilaporkan “secara aktif berupaya” mencabut status Yordania sebagai wali penjaga historis Masjid Al-Aqsa. Dalam rencana tersebut, AS dan Israel berupaya menggantikan wewenang Waqf Islam dengan badan baru bentukan pemerintah Israel yang akan mendeklarasikan Masjid Al-Aqsa sebagai “pusat multi agama”. Dua pejabat AS bahkan menyebut bahwa pemerintahan Trump ingin menghapus identitas Al-Aqsa yang kental dengan Islam dan mengubahnya menjadi objek wisata ikonik yang menampung tiga agama Abrahamik. (cnnindonesia.com, 5-6-2026)

Tidak cukup berhenti di Palestina, Israel juga melanggar gencatan senjata dengan Lebanon. Pada 4 Juni 2026, hanya sehari setelah kesepakatan pembaruan gencatan senjata, serangan udara Israel di wilayah timur dan selatan Lebanon menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk warga sipil. (MetroTV News.com, 5-6-2026)

Apa yang dilakukan entitas Zionis tidak bisa lagi disebut sebagai konflik biasa. Ini adalah genosida, kebiadaban, dan kejahatan kemanusiaan yang terang-terangan. Mereka menghancurkan Gaza, memperluas pemukiman di Tepi Barat, membangun pos-pos militer permanen, dan berupaya merebut Masjid Al-Aqsa, semuanya dalam satu kerangka besar: mewujudkan ambisi Greater Israel. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang zalim, niscaya kamu akan disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai penolong selain Allah, kemudian kamu tidak akan ditolong” (QS. Hud [11]: 113). Kezaliman yang dilakukan Zionis terhadap rakyat Palestina adalah bentuk kezaliman terbesar di muka bumi saat ini. Bahkan Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, secara terbuka menyerukan pembatalan Perjanjian Oslo dan menolak prospek kehadiran negara Palestina di masa depan, sementara dirinya telah dimintai surat perintah penangkapan oleh ICC atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. (Hidayatullah.com, 4-5-2026)

Di balik semua ini, Amerika Serikat memainkan peran sebagai dalang utama. AS tidak hanya menyokong ambisi Israel Raya, tetapi juga secara aktif mengajak penguasa negeri-negeri Muslim untuk bersekongkol. Negara-negara Arab seperti Bahrain, Mesir, Maroko, dan Uni Emirat Arab telah diberi penjelasan mengenai proposal AS untuk mengubah status Masjid Al-Aqsa.

Mengapa penderitaan Palestina tak kunjung berakhir? Jawabannya jelas karena pengkhianatan penguasa Muslim dan tidak adanya persatuan umat Islam. Selama para pemimpin negeri-negeri Muslim sibuk dengan kepentingan pribadi dan nasionalisme sempit, selama itu pula Zionis akan terus leluasa membantai saudara-saudara kita di Palestina. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam rasa saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur” (HR. Muslim No. 2586). Di mana rasa sakit itu saat rakyat Palestina dibantai setiap hari? Di mana solidaritas umat Islam saat Masjid Al-Aqsa hendak direbut?

Ambisi Israel Raya tidak akan pernah berhenti selama umat Islam lemah dan terpecah-belah. Oleh karena itu, perlawanan terhadap Zionis harus dilakukan dengan kekuatan kolektif dan persatuan yang nyata. Bukan sekadar demonstrasi atau kecaman diplomatik yang tidak membuahkan hasil. Satu-satunya sistem yang mampu menyatukan umat Islam di seluruh dunia adalah Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti metode kenabian). Khilafah akan menghilangkan sekat-sekat nasionalisme buatan yang selama ini memecah belah umat Islam. Allah berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 103).

Khilafah adalah wujud nyata dari perintah Allah untuk bersatu di atas tali Allah. Di bawah naungan Khilafah, tidak akan ada lagi penguasa Muslim yang bersekongkol dengan Amerika Serikat dan Zionis untuk menjual tanah Palestina atau menyerahkan Masjid Al-Aqsa. Khalifah memiliki otoritas penuh untuk mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan umat Islam, bukan kepentingan asing. Dalam sistem Khilafah, kewajiban membebaskan tanah Muslim yang diduduki adalah tanggung jawab langsung khalifah. Sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengirimkan pasukan untuk membebaskan Baitul Maqdis pada tahun 638 M, demikian pula khalifah di masa depan wajib mengirimkan tentara untuk memerangi entitas Zionis dan membebaskan Palestina serta Masjid Al-Aqsa. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kota itu (Baitul Maqdis) akan dibebaskan oleh seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang sebaik-baik pasukan“. (HR. Ahmad)

Hadis ini menjadi kabar gembira sekaligus cambukan bagi kita semua. Siapa yang akan menjadi pemimpin sebaik-baik pemimpin itu jika bukan pemimpin yang lahir dari sistem Khilafah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah (sempurna)?

Tegaknya sistem Khilafah harus menjadi prioritas utama perjuangan umat Islam di seluruh dunia. Tanpa persatuan dalam satu kepemimpinan yang sah, umat Islam akan terus menjadi mangsa empuk bagi musuh-musuh Allah. Selama kita masih sibuk dengan nasionalisme, kesukuan, dan kepentingan kelompok, selama itu pula Zionis akan terus leluasa membantai saudara-saudara kita. Mari kita renungkan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu“. (QS. Muhammad [47]: 7)

Sudah saatnya kita berhenti hanya menjadi penonton atas tragedi kemanusiaan terbesar abad ini. Sudah saatnya kita bangkit, bersatu, dan bekerja sungguh-sungguh untuk menegakkan kembali Khilafah yang akan membawa kemuliaan bagi Islam dan kaum Muslimin. Allahumma a’izzal-Islama wal-muslimin, wa ahlikil-kafaratal-mushrikin. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, dan binasakanlah orang-orang kafir dan musyrik. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu’alam bissawwab.[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *