Lebih dari 1.000 warga Palestina tewas meski gencatan senjata sudah berlangsung berbulan-bulan. Apakah ini benar-benar perdamaian, atau strategi licik untuk membunuh secara terukur? Temukan jawabannya dalam analisis mendalam berikut.
Oleh. Hanny N
Ketika Gencatan Senjata Hanya Jadi Sarana Pembunuhan
Bayangkan sebuah rumah yang sedang terbakar. Tetangga datang dengan gayung air, namun bukannya memadamkan api, ia justru menyiram sedikit demi sedikit agar api tetap menyala tidak terlalu besar, tapi juga tidak padam. Lalu ia berkata kepada penghuni rumah: “Tenang, saya sudah membantu.”
Inilah gambaran nyata dari apa yang terjadi di Gaza saat ini.
Per 18 Juni 2026, lebih dari 1.000 jiwa telah melayang sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diberlakukan pada Oktober 2025. Angka ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka, ada seorang ayah yang tak pernah pulang, seorang anak yang kehilangan tangan, seorang ibu yang menangis di atas puing rumahnya.
Dan yang lebih menyakitkan? Pembunuhan ini terus berlangsung meski dunia sudah “setuju” untuk berhenti berperang. Lalu, di mana letak keadilan?
Fakta yang Tak Bisa Dibantah
Data dari berbagai sumber internasional mencatat angka yang mengguncang kesadaran, 733 orang tewas per 8 April 2026, menurut laporan Médecins Sans Frontières (MSF) yang menyatakan: “Ini bukan gencatan senjata. Kehidupan di Gaza terus tercekik enam bulan kemudian.” 738 orang tewas per 10 April 2026, menurut Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR). Dan kini, per 18 Juni 2026, angkanya telah melampaui 1.000 jiwa.
Volker Türk, Komisioner Tinggi HAM PBB, mengatakan dengan tajam, “Pola pembunuhan yang tak henti-hentinya mencerminkan kelanjutan pengabaian terhadap nyawa Palestina, yang dimungkinkan oleh impunitas yang meluas.” Bahkan ia menambahkan, “Sulit menyamakan ini dengan gencatan senjata.” Jadi, apa sebenarnya yang terjadi?
Strategi Licik di Balik Kata “Perdamaian”
Gencatan senjata ini bukanlah upaya perdamaian yang tulus. Ini adalah strategi Barat untuk meredakan opini dunia sambil membiarkan Zionis terus membunuh secara terukur, tidak terlalu masif sehingga dunia marah, tapi juga tidak berhenti.
Bayangkan, dunia sibuk membicarakan “gencatan senjata”, sementara di Gaza, bom masih jatuh, rumah masih hancur, dan darah masih mengalir. Dunia merasa sudah “berbuat sesuatu”, sementara Zionis merasa bebas melanjutkan agenda penghancuran.
Dan siapa penjaminnya? Amerika Serikat, negara yang sekaligus menjadi sponsor utama dan sekutu terdekat Zionis. Apakah kita benar-benar percaya bahwa penjajah akan adil terhadap yang dijajah?
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan tidak akan ridha orang-orang Yahudi dan Nasrani kepadamu, sebelum engkau mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)
Ayat ini bukan sekadar peringatan. Ini adalah hukum sejarah yang telah terbukti berulang kali. Bangsa-bangsa Barat tidak akan pernah ridha dengan umat Islam kecuali kita menyerah pada sistem mereka. Dan ketika kita menyerah, bukan perdamaian yang kita dapatkan, melainkan penjajahan yang semakin dalam.
Sejarah Mengajarkan: Jangan Percaya pada Penjajah!
Mari kita buka kitab sejarah. Tahun 1916, Syekh Syarif Husain dari Mekkah bersekutu dengan Inggris melawan Kesultanan Utsmaniyah. Ia percaya janji Inggris akan membantu membangun kerajaan Arab yang merdeka. Hasilnya? Syekh Husain diusir dari Hijaz oleh Ibn Saud yang didukung Inggris. Janji demi janji dilanggar, dan bangsa Arab terpecah menjadi negara-negara kecil yang lemah.
Tahun 1948, bangsa Palestina dijanjikan negara sendiri oleh PBB. Hasilnya? Nakba, 750.000 orang Palestina diusir dari tanah airnya, dan hingga hari ini mereka masih menjadi pengungsi.
Tahun 1993, Perjanjian Oslo dijanjikan sebagai “jalan menuju perdamaian”. Hasilnya?Pemukiman ilegal Zionis bertambah tiga kali lipat, blokade Gaza semakin ketat, dan Palestina semakin terjepit.
Setiap kali umat Islam mengandalkan penjajah, hasilnya selalu sama: kehancuran dan penghinaan.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada seorang wanita.” (HR. Bukhari)
Hadits ini, meski berbicara tentang kepemimpinan, mengandung prinsip universal, umat yang menyerahkan nasibnya kepada pihak lain yang tidak berhak, akan celaka. Bagaimana mungkin kita menyerahkan urusan umat Islam, termasuk urusan Palestina, kepada negara-negara kafir yang notabene adalah musuh ideologi kita?
Akar Masalahnya Bukan Gencatan Senjata, Melainkan Ketiadaan Perisai
Banyak orang fokus pada pelanggaran gencatan senjata. Mereka marah karena Zionis tidak taat aturan. Mereka protes karena AS tidak menegakkan janji.
Tapi tunggu. Apakah akar masalahnya benar-benar pelanggaran gencatan senjata? Tidak.
Akar masalahnya adalah ketiadaan junnah, perisai yang melindungi umat Islam. Perisai yang dahulu ada dalam bentuk Khilafah Islamiyyah.
Ketika Khilafah Utsmaniyah masih berdiri, Palestina aman. Ketika Sultan Abdulhamid II menolak penjualan tanah Palestina kepada Zionis pada 1901, ia berkata dengan tegas, “Tanah itu bukan milikku, tapi milik umat Islam. Aku tidak bisa menjualnya meski sejengkal pun.”
Tapi ketika Khilafah runtuh tahun 1924, apa yang terjadi? Palestina menjadi tanah tanpa pemilik yang kuat. Inggris dengan mudah menguasainya. Zionis dengan mudah memasuki. Dan hingga hari ini, Palestina tetap menjadi korban.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai. Di belakangnya mereka berperang dan olehnya mereka dilindungi.” (HR. Muslim)
Perisai ini bukan sekadar simbol. Perisai ini adalah kekuatan militer, kekuatan politik, dan kekuatan ekonomi yang terpusat di bawah satu kepemimpinan yang taat kepada syariat Allah. Tanpa perisai ini, umat Islam bagaikan domba-domba yang dihamburkan oleh serigala-serigala.
Solusi Sejati: Kembali kepada Islam
Lalu, apa solusinya? Pertama, umat tidak boleh lagi berharap dan menggantungkan nasib pada kafir dan musuh-musuh Islam. Setiap kali kita berharap pada PBB, pada AS, pada Uni Eropa, pada “komunitas internasional”, kita sebenarnya sedang berharap pada entitas yang sistemnya dibangun untuk melindungi kepentingan Barat, bukan umat Islam.
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Maidah: 51)
Ayat ini bukan larangan untuk berteman atau berdagang. Ini adalah larangan untuk menggantungkan urusan politik dan strategis pada pihak yang fundamentalnya berbeda dengan kita. Ketika kita mengandalkan AS untuk mediasi Palestina, kita sebenarnya sedang mengandalkan musuh untuk menyelesaikan urusan kita.
Kedua, solusi Palestina adalah jihad fii sabilillah. Ini bukan pilihan, melainkan kewajiban syar’i. Ketika tanah umat Islam diduduki, ketika kaum Muslimin dibantai, ketika masjid-masjid dihancurkan, jihad menjadi wajib ‘ain (wajib bagi setiap individu) atau wajib kifayah (wajib bagi sebagian umat).
Allah SWT berfirman, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
Dan jihad ini akan sangat mudah dan berkekuatan luar biasa apabila umat bersatu dalam naungan Khilafah. Bayangkan, 1,9 miliar Muslim di dunia, dengan sumber daya alam melimpah, dengan posisi strategis yang menguasai jalur perdagangan dunia. Jika semua ini terpusat di bawah satu komando yang kuat, siapa yang berani mengusik umat Islam?
Ketiga, umat harus memperjuangkan kembalinya Khilafah. Bukan sebagai nostalgia sejarah, melainkan sebagai sistem yang nyata dan relevan untuk melindungi setiap jengkal tanah umat Islam. Khilafah adalah sistem yang dijamin oleh syariat, dijamin oleh sejarah, dan dijamin oleh janji Allah.
Rasulullah SAW bersabda, “Khilafah di atas manhaj nubuwwah akan datang setelah kerajaan-kerajaan yang menindas.” (HR. Ahmad)
Ini adalah janji. Dan janji Allah pasti terwujud. Tapi pertanyaannya, apakah kita akan menjadi bagian dari perjuangan itu, atau hanya menjadi penonton?
Panggilan untuk Bangkit
Saudaraku, setiap kali kita melihat berita dari Gaza, setiap kali kita melihat anak-anak Palestina menangis di atas puing, setiap kali kita melihat masjid Al-Aqsa dihina, ingatlah bahwa ini bukan sekadar konflik politik. Ini adalah ujian bagi keimanan kita.
Apakah kita akan terus berharap pada sistem yang jelas-jelas gagal melindungi saudara-saudara kita? Ataukah kita akan kembali kepada Islam solusi yang nyata, yang telah teruji selama 13 abad, yang melindungi umat Islam dari penjajahan dan penghinaan?
Pilihan ada di tangan kita. Tapi waktu terus berjalan. Dan saudara-saudara kita di Gaza tidak punya waktu untuk menunggu.
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
Mari kita jadikan Palestina bukan sekadar isu emosional, melainkan pemicu untuk kembali kepada solusi Islam yang sejati. Mari kita perjuangkan Khilafah, perisai umat Islam, agar tidak ada lagi gencatan senjata palsu, tidak ada lagi pembunuhan terukur, dan tidak ada lagi penjajahan di bumi ini.
Karena sesungguhnya, kemenangan itu dekat, bagi siapa yang mau berjuang. Wallahu a’lam bish-shawab.[] Sumber Foto : Canva

