Generasi yang Hilang Di Tanah Para Nabi

Bagikan Artikel ini

Tragedi ini bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan, serangan yang menyasar anak anak di Gaza merupakan bagian dari strategi genosida sistematis yang dilakukan oleh entitas Zionis untuk menghabisi umat Islam di Palestina


Poppy Kamelia P. B.A(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS.
Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah

WacanaMuslim-Dunia tengah menyaksikan tragedi kemanusiaan paling kelam abad ini. Di Gaza, anak anak tidak lagi menikmati keceriaan masa kecil, melainkan terus terancam dentuman bom brutal. Data PBB dan UNICEF mengungkap realita memilukan bagi generasi penerus Palestina, di mana lebih dari seribu anak syahid sejak Oktober 2023 (aljazeera, 18/06/2026). Ironisnya, di tengah narasi gencatan senjata, serangan yang tak kunjung berhenti terus merenggut nyawa rata rata satu anak Gaza setiap harinya (cnnindonesia, 20/06/2026).

Tragedi ini bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Serangan yang menyasar anak anak di Gaza merupakan bagian dari strategi genosida sistematis yang dilakukan oleh entitas Zionis untuk menghabisi umat Islam di Palestina. Bagi mereka, anak anak adalah masa depan bangsa, sehingga dengan melenyapkan anak anak, musuh berharap bisa memadamkan api perlawanan dan menguasai seluruh wilayah Palestina sepenuhnya. Zionis tidak hanya membunuh jiwa, tetapi juga meninggalkan luka fisik yang mendalam hingga banyak anak anak yang cacat seumur hidup. Selain itu, trauma psikologis yang dialami oleh anak anak Gaza berada pada level yang sangat berat karena mereka kehilangan orang tua, rumah, serta rasa aman yang seharusnya menjadi hak setiap manusia (kompas.id, 19/06/2026).

Langkah brutal ini dilakukan oleh entitas Zionis demi ambisi mewujudkan Israel raya. Mereka secara sadar menabrak semua norma kemanusiaan dan hukum internasional. Entitas Zionis tidak peduli sedikit pun terhadap kecaman dari berbagai pihak maupun resolusi yang dikeluarkan oleh lembaga internasional. Bahkan, serangan di tengah masa gencatan senjata terus dilakukan hingga menewaskan lebih dari seribu jiwa warga Gaza (kompas.id, 20/06/2026). Bagi mereka, genosida adalah jalan utama untuk mengusir penduduk asli dan mengukuhkan kedaulatan di atas tanah yang mereka rampas. Mereka terus melancarkan agresi militer dengan senjata canggih yang pasokannya tidak pernah terputus, sementara masyarakat dunia hanya bisa menyaksikan melalui layar kaca tanpa mampu menghentikan kebiadaban tersebut secara nyata.

Kita tidak bisa lagi menaruh harapan pada dunia internasional. PBB terbukti gagal total dengan puluhan resolusi yang hanya berakhir menjadi dokumen tanpa makna. UNICEF sendiri menyebut gencatan senjata tersebut sebagai ilusi yang mematikan karena faktanya ratusan anak tetap tewas (aa.com.tr, 19/06/2026). Pergantian kepemimpinan atau tekanan diplomatik tidak akan membuat entitas Zionis melunak, karena akar masalahnya bukan terletak pada sosok pemimpinnya, melainkan pada ideologi ekspansionis yang mereka pegang teguh. Bahkan, sebagian besar dunia Islam saat ini justru tampak semakin merapat pada Amerika Serikat dan entitas Zionis. Hal ini terjadi karena kuatnya cengkeraman nasionalisme sempit dan politik kapitalistik yang membuat negara negara Muslim lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka sendiri daripada menyelamatkan saudara seakidah di Palestina.

Lantas, di manakah harapan bagi anak anak Gaza yang masa depannya terancam punah? Harapan hakiki satu satunya bagi pembebasan Palestina terletak pada tegaknya Khilafah. Khilafah adalah institusi politik Islam yang memiliki mandat untuk melakukan jihad fisabilillah sebagai satu satu jalan syar’i untuk mengalahkan entitas Zionis dan membebaskan tanah suci Palestina dari cengkeraman penjajahan. Jihad bukanlah sekadar retorika, melainkan tindakan nyata berupa pengerahan pasukan militer untuk menghancurkan musuh yang memerangi umat Islam dan merampas kehormatan kaum Muslimin di mana pun mereka berada.

Khilafah akan mewujudkan perlindungan menyeluruh bagi anak anak Palestina. Perlindungan ini mencakup aspek jiwa agar mereka aman dari ancaman senjata, kesehatan fisik dan mental yang terjamin, serta pendidikan yang berkualitas agar mereka tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan berakhlak mulia. Dalam sistem pemerintahan Islam, kesejahteraan rakyat adalah prioritas utama pemimpinnya, karena seorang pemimpin adalah pelindung yang akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap tetes darah rakyat yang tertumpah di bawah kepemimpinannya. Khilafah adalah qadhiyah mashiriyah bagi umat Islam di seluruh dunia, yang artinya ini adalah persoalan hidup dan mati yang harus terus diperjuangkan keberadaannya dengan segenap daya dan upaya.

Perjuangan untuk menegakkan kembali institusi Islam ini menuntut komitmen yang teguh dari setiap aktivis dakwah dan seluruh kaum Muslimin. Kita harus sadar bahwa nasionalisme telah membelenggu umat sehingga kita menjadi lemah dan bercerai berai. Saatnya kita menanggalkan sekat-sekat buatan penjajah dan kembali bersatu dalam naungan akidah Islam yang satu. Pendidikan ideologis kepada umat harus terus digencarkan agar masyarakat memahami bahwa nasib Palestina sangat bergantung pada persatuan umat di bawah satu kepemimpinan yang menerapkan hukum Allah secara kafah di muka bumi ini.

Melihat penderitaan anak anak di Gaza, sudah seharusnya hati kita tergerak untuk tidak sekadar bersimpati, tetapi beraksi nyata dalam perjuangan dakwah. Kehancuran sistem internasional saat ini membuktikan bahwa tanpa kekuatan politik Islam yang mandiri, umat akan terus menjadi sasaran penindasan. Mari kita jadikan perjuangan menegakkan Khilafah sebagai agenda utama dalam hidup kita. Hanya dengan cara itulah, masa depan anak anak di Gaza dan seluruh anak anak Muslim di dunia bisa diselamatkan dari genosida yang terus mengancam. Kemenangan Islam adalah sebuah janji Allah, namun Allah menuntut kita untuk berjuang di jalan Nya dengan penuh kesungguhan hingga cahaya Islam kembali menerangi dunia dan mengakhiri segala bentuk kedzaliman yang ada. Wallahu A’laam Bisshawaab[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *