Toleransi adalah menghormati dan membiarkan mereka beribadah, toleransi bukan turut partisipasi dengan mengikuti ibadah dari agama mereka.
WacanaMuslim-Isu intoleransi kembali menyeruak. Pelaksana harian Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Siti Kholisoh menilai sekelompok masyarakat Muslim yang menolak pendirian sekolah kristen di Parepare, Sulawesi Selatan, mencederai semangat toleransi dan keberagaman Bhinneka Tunggal Ika (barometer.co.id, 26-9-2024). Sementara Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan, menyatakan penolakan tersebut pertanda level toleransi paling rendah (www.bbc.com, 13-10-2024). Benarkah muslim sebagai mayoritas dinegeri ini tidak atau kurang toleran sehingga isu ini senantiasa hangat menyeruak dimedia?
Toleransi Isu Ambigu
Toleran dan intoleransi senantiasa menjadi isu hangat akhir-akhir ini. Namun anehnya, umat Islam sebagai mayoritas selalu tertuduh tidak toleran. Isu intoleran dibalik kasus penolakan pendirian gedung sekolah kristen di tengah penduduk yang mayoritas muslim bukan isu pertama. Sebelumnya umat Islam juga dituduh intoleran ketika menolak pendirian tempat ibadah demi menjaga akidah, menolak memilih calon kepala daerah non muslim hingga ketika seorang guru memarahi siswinya yang tidak berhijab. Namun tuduhan intoleran tidak dikenakan terhadap pelarangan jilbab oleh beberapa sekolah di Bali, kasus perusakan masjid dan penolakan pendirian pesantren di Papua. Walhasil, intoleransi isu yang senantiasa digoreng untuk menyudutkan Islam dan muslim.
Ketika umat Islam ingin menjaga akidah serta menerapkan syariah maka dilabeli intoleran. Sementara muslim yang mau mengucapkan selamat hari raya umat lain, mau menerima kepala daerah non muslim dipuja sebagai muslim toleran, muslim moderat, sehingga layak dijadikan suri teladan.
Standar ganda dalam menilai seseorang toleran atau tidak, mengikuti standar barat. Dengan program moderasi beragamanya, barat menginginkan agar umat Islam tidak fanatik terhadap agamanya dan tidak mengklaim agamanya yang paling benar. Tujuannya agar umat Islam semakin jauh dari ajaran agamanya yang hak. Lebih dari itu, umat Islam bisa menerima nilai-nilai dari barat, seperti demokrasi, sekulerisme, liberalisme, pluralisme, sinkretisme dan sebagainya.
Mirisnya, pemerintah yang seharusnya berfungsi sebagai junnah, menjaga akidah umat, justru seiring sekaligus eksekutor program moderasi, ikut merusak akidah umat. Penguasa berlepas tangan, melakukan pembiaran proses pemurtadan. Bukti nyata, bagaimana Menag dan Imam besar Masjid Istiqlal menyambut dengan antusias kehadiran Paus hingga menghilangkan adzan diganti dengan teks berjalan demi menghormati misa (ibadah orang non muslim). Namun sikap berbeda ditujukan kepada muslim yang berpegang teguh terhadap Islam dan menginginkan syariat Islam diterapkan, justru dilabelisasi intoleran, radikal. Kegiatannya dilarang, aktifisnya dipersekusi, kelompok dakwahnya dicabut status badan hukumnya.
Tampak bahwa isu toleransi dipakai untuk menghadang kebangkitan Islam dan melanggengkan sistem sekuler. Sistem yang menjadikan penguasa sebatas regulator bukan periayah rakyatnya. Sistem sekuler menjamin dan mengagungkan kebebasan individu termasuk kebebasan beragama. Murtad hingga sinkretisme, mencampuradukkan ajaran agama merupakan kebebasan yang harus dilindungi. Toleransi yang sejalan dengan kehendak barat yang tidak ingin Islam bangkit kembali memimpin peradaban dunia.
Baca Juga : https://wacanamuslim.web.id/si-paling-intoleran-benarkah-umat-islam/
Islam, Agama Paling Toleran
Mengajari umat Islam bertoleransi ibarat mengajari ikan berenang. Islam sangat menjunjung tinggi toleransi. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 256 yang artinya,
” Tidak ada paksaan dalam beragama”
Ayatnya tegas dan jelas. Islam wajib didakwahkan, kewajiban penyeru hanya menyampaikan kebenaran Islam. Namun tidak boleh memaksa seseorang untuk memeluk agama Islam.
Toleransi di dalam Islam bermakna menghormati dan membiarkan umat lain melaksanakan ibadahnya, tidak mengganggunya. Namun dalam Islam ada kewajiban melindungi akidah umat, maka orang non muslim tidak boleh mensyiarkan agamanya hingga mengganggu ranah akidah seorang muslim, seperti pendirian ibadah ditengah mayoritas muslim. Maka hal seperti ini harus dicegah.
Batasan toleransi agar akidah umat tetap terjaga ketika dilandasi pada tiga hal. Pertama, menghormati dan memuliakan yang dimuliakan Allah, serta menghinakan orang yang dihinakan Allah. Allah mencela orang kafir sebagai seburuk-buruk makhluk (Al-Anfal:55). Sebagai muslim, tidak perlu memuliakan dengan mencium tangan atau kening orang kafir, karena Allah-pun menghinakan mereka.
Kedua, toleransi adalah menghormati dan membiarkan mereka beribadah bukan partisipasi dengan ikut ibadah mereka. Allah didalam Surat Al-Kafirun ayat 6 menjelaskan dengan tegas tidak boleh mencampurkan dalam beragama, “bagimu agamau bagiku agamaku”. Dalam akidah dan ibadah harus tegas, tidak mencampuradukkan (sinkretisme). Namun kita diperbolehkan bermuamalah dengan mereka, seperti jual beli, menolong, menjenguk ketika mereka sakit.
Ketiga, toleransi bukan menyamakan (pluralisme). Islam agama yang mengakui keberagaman (pluralitas) bukan pluralisme. Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah (Al-Imran 19, 85)
Sejarah mencatat, Islam melindungi pemeluk agama lain. Karen Amstrong, sejarawan barat dalam bukunyaa, A History of Jerusalem: One City, Three Faiths (London: Harper Collins Publishers, 1997), mengakui ketika Islam menguasai Andalusia, Yahudi mengalami masa keemasan, hingga Andalusia dikenal sebagai kota tiga agama. Adakah agama yang lebih toleran dibanding Islam?[]
Kontributor Ida Nurchayati
Sumber Foto : Canva

