Ramai di Luar, Sepi di Dalam: Ada Yang Salah dalam Membesarkan Generasi

Bagikan Artikel ini

Persoalan semakin kompleks ketika agama dipisahkan dari kehidupan, sekularisme menjadikan agama urusan pribadi, sementara pendidikan, ekonomi, politik, dan kehidupan sosial berjalan dengan ukuran duniawi

Oleh : Ummu Mirza

WacanaMuslim-Kemajuan teknologi membuat manusia semakin mudah berkomunikasi, tetapi belum tentu semakin dekat. Media sosial menawarkan koneksi tanpa batas, sementara kampus, tempat kerja, dan ruang publik dipenuhi interaksi. Namun, di balik semua itu, banyak generasi muda justru menghadapi kesepian, tekanan, dan keputusasaan yang tidak terlihat.

Pada 10 September 2026, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai enam gedung kampus. RR selamat dan masih menjalani perawatan, sementara polisi menyatakan motifnya masih didalami.
Beberapa hari sebelumnya, seorang pria berinisial FS ditemukan meninggal di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 6 September 2026. Sebelumnya, rekannya menerima unggahan dan sinyal SOS yang menunjukkan kondisi darurat. Polisi kemudian menemukan barang bukti yang masih diperiksa secara forensik.

Fenomena ini tidak muncul dari satu persoalan yang sama. Setiap kasus memiliki latar belakang dan kondisi yang berbeda. Namun, munculnya kasus serupa berulang kali menunjukkan adanya persoalan yang lebih besar dalam kehidupan generasi saat ini.

Data Healing119.id periode 31 Juli 2025–31 Juli 2026 mencatat 3.036 orang memiliki keinginan mengakhiri hidup. Sebanyak 54,08% berada pada kelompok usia 21–30 tahun dan 33,04% berusia 11–20 tahun. Kemenkes juga menyebut kesepian sebagai salah satu keluhan yang banyak ditemukan pada kelompok usia muda.

Sejak dibangku sekolah, anak diarahkan mengejar nilai dan prestasi. Ketika dewasa, ukuran keberhasilan semakin dikaitkan dengan kampus bergengsi, pekerjaan, karier, penghasilan, jabatan, popularitas, dan pencapaian lainnya.
Media sosial kemudian memperkuat tekanan tersebut. Kehidupan orang lain yang tampak sukses terus muncul di hadapan mata. Akibatnya, standar hidup mudah berubah menjadi perlombaan: siapa yang lebih pintar, lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses, lebih produktif, dan lebih diakui.

Budaya semacam ini dapat membuat seseorang menilai dirinya berdasarkan pencapaian. Ketika gagal memenuhi standar tersebut, muncul perasaan tertinggal, tidak berharga, atau tidak berhasil.

Manusia didorong untuk mengejar keberhasilan pribadi, tetapi tidak selalu dibangun untuk hidup dalam ikatan sosial yang kuat. Akibatnya, seseorang bisa memiliki banyak teman tetapi tidak memiliki tempat untuk mencurahkan beban. Bisa memiliki ribuan pengikut di media sosial tetapi merasa tidak ada satu pun yang benar-benar memahami dirinya.

Persoalan semakin kompleks ketika agama dipisahkan dari kehidupan, sekularisme menjadikan agama urusan pribadi, sementara pendidikan, ekonomi, politik, dan kehidupan sosial berjalan dengan ukuran duniawi. Kapitalisme kemudian memperkuat budaya kompetisi, materialisme, produktivitas, dan kesuksesan individual.

Ketika seseorang terus didorong untuk berprestasi, bersaing, dan menjadi pemenang, tetapi tidak dibekali makna hidup yang kokoh, kegagalan mudah terasa sebagai kehancuran.
Sebab manusia bukan mesin pencetak prestasi. Manusia adalah hamba Allah yang membutuhkan tujuan hidup, bukan sekadar pencapaian dunia.

Islam menawarkan solusi yang tidak berhenti pada penanganan ketika seseorang sudah berada dalam krisis. Islam membangun manusia sejak awal dengan akidah. Seorang Muslim memahami bahwa kehidupan dunia adalah ujian dan bahwa manusia memiliki tujuan untuk beribadah kepada Allah.

Dengan pemahaman ini, keberhasilan tidak hanya diukur dari IPK, pekerjaan, kekayaan, jabatan, atau popularitas. Ada orientasi akhirat yang membuat kehidupan memiliki makna lebih luas daripada pencapaian dunia. Ketika menghadapi kesulitan, seorang Muslim tidak berarti otomatis terbebas dari tekanan psikologis. Namun, ia memiliki landasan spiritual untuk memahami ujian, mencari pertolongan, dan terus berharap kepada Allah.

Islam juga tidak membiarkan manusia menjadi individu yang berjalan sendiri.
Keluarga memiliki fungsi penting sebagai tempat mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dan dukungan. Masyarakat dibangun dengan ukhuwah dan kepedulian. Setiap Muslim didorong untuk memperhatikan kondisi saudaranya.

Dengan ikatan semacam ini, ketika seseorang jatuh, ada tangan yang membantu mengangkatnya. Ketika seseorang menghadapi masalah, ada tempat untuk bercerita. Ketika seseorang mulai kehilangan harapan, ada orang-orang yang mengingatkan bahwa dirinya berharga dan hidupnya memiliki tujuan.

Pada level negara, penyelesaian tidak boleh hanya berupa kampanye kesehatan mental setelah kasus terjadi.

Negara harus membangun sistem pendidikan yang tidak semata-mata mencetak manusia kompetitif, tetapi membentuk kepribadian yang kokoh. Negara juga harus menjamin kebutuhan dasar, menciptakan lingkungan sosial yang sehat, mencegah berbagai bentuk kekerasan dan perundungan, serta memastikan layanan kesehatan jiwa dapat diakses masyarakat. Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab mengurusi urusan rakyat. Dalam konsep Khilafah, penerapan syariat secara menyeluruh diarahkan untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta manusia.

Dengan demikian, solusi tidak berhenti pada individu. Individu dibina, keluarga diperkuat, masyarakat dipersatukan, dan negara bertanggung jawab. Sebab generasi yang kuat tidak lahir dari tuntutan untuk selalu sukses dan mampu menghadapi semuanya sendiri. Mereka lahir dari sistem kehidupan yang memberi iman sebagai pegangan, keluarga sebagai tempat pulang, masyarakat sebagai tempat bertumbuh, dan negara sebagai pelindung. Inilah yang ditawarkan Islam: bukan sekadar mengobati generasi yang terluka, tetapi membangun kehidupan yang mencegah manusia kehilangan arah dan harapan.
Wallahu a’lam bisshawab[] Seumber Foto : Canva

One thought on “Ramai di Luar, Sepi di Dalam: Ada Yang Salah dalam Membesarkan Generasi”

  1. Ketika peradaban akan syariah dan aturan Islam tidak dijadikan dasar dan aspek terpenting dalam kehidupan seseorang maka dapat berdampak pada pola kebiasaan, kebiasaan itu akan menjadi perilaku bisa menyimpang dan jauh dari idealnya individu yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *