Tragedi Filisida dan Bunuh Diri Ibu: Cermin Buram Sistem yang Tak Mendukung Perempuan

Bagikan Artikel ini

Tragedi ini memperlihatkan bahwa sistem kehidupan yang ada saat ini belum mampu menjamin ketenangan, perlindungan, dan kesejahteraan seorang ibu.

PerempuanOleh: Indha Tri Permatasari, S.Keb., Bd. ( Aktifis Muslimah)

WacanaMuslim-Kasus tragis kembali mengguncang Indonesia. Seorang ibu di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dilaporkan mengakhiri hidupnya setelah diduga meracuni dua anaknya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti peristiwa ini sebagai kasus *filisida maternal*—istilah yang digunakan untuk menggambarkan tindakan pembunuhan anak oleh ibu kandungnya.

Tak berselang lama, insiden serupa terjadi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dua anak perempuan kakak beradik berusia 6 dan 3 tahun ditemukan tewas di Pantai Sigandu. Sang ibu, berinisial VM (31), ditemukan bersembunyi di toilet portabel di sekitar lokasi kejadian. Dugaan kuat mengarah pada tindakan filisida yang kembali mengguncang nurani publik.

Filisida: Ketika Seorang Ibu Kehilangan Harapan

Secara naluriah, seorang ibu adalah simbol kasih sayang dan perlindungan. Maka ketika terjadi kasus di mana seorang ibu justru menghabisi nyawa anak-anaknya sendiri, publik wajar bertanya: apa yang sebenarnya terjadi?

Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel, sebagaimana dikutip oleh *MetroTV News*, menyebutkan bahwa faktor-faktor seperti tekanan mental, depresi berat, konflik rumah tangga, hingga kondisi sosial ekonomi yang penuh tekanan bisa menjadi pemicu tindakan ekstrem seperti filisida. KPAI juga menegaskan bahwa filisida maternal bukan sekadar kejahatan, melainkan tragedi psikososial yang kompleks. Artinya, tak cukup melihat kasus ini dari sudut pandang individu sang ibu semata. Peristiwa ini lahir dari tumpukan masalah struktural yang terus menekan kehidupan perempuan—khususnya para ibu—dalam sistem kehidupan hari ini.

Sistem yang Sakit, Melahirkan Tragedi

Ketika seorang ibu merasa tidak ada jalan keluar dari himpitan hidup, ketika ia merasa tidak mendapat dukungan dari pasangan, keluarga, ataupun negara, maka potensi gangguan kejiwaan meningkat drastis. Dalam masyarakat modern dengan tekanan ekonomi tinggi, rendahnya akses terhadap layanan kesehatan mental, serta kurangnya dukungan sosial, beban perempuan seringkali menjadi sangat berat.Tragedi ini memperlihatkan bahwa sistem kehidupan yang ada saat ini belum mampu menjamin ketenangan, perlindungan, dan kesejahteraan seorang ibu. Ketika sistem tidak mendukung peran keibuan secara utuh, maka jangan heran jika naluri tersebut terdistorsi, bahkan hilang sama sekali dalam kondisi krisis.

Islam: Sistem yang Memuliakan Peran Ibu

Islam sebagai sistem hidup memiliki pandangan yang khas dan mulia terhadap perempuan, khususnya dalam perannya sebagai ibu. Dalam Islam, seorang ibu *tidak dibebani tanggung jawab mencari nafkah*. Nafkah sepenuhnya menjadi tanggung jawab suami, dan bila tidak ada, maka kewajiban itu berpindah kepada wali laki-laki terdekat. Perempuan juga diberi keringanan dalam ibadah, seperti boleh tidak berpuasa ketika hamil dan menyusui—sebagai bentuk perlindungan atas kesehatan fisik dan psikologisnya. Islam juga menempatkan ibu pada posisi yang sangat mulia, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: *“Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.”* (HR. Bukhari dan Muslim).

Lebih dari itu, Islam tidak hanya memberi penghormatan secara moral, tetapi juga menyediakan *sistem pendukung yang konkret*. Negara dalam Islam wajib menjamin kebutuhan pokok setiap warganya, termasuk akses terhadap kesehatan, pendidikan, dan jaminan sosial—gratis dan mudah dijangkau. Negara juga bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi perempuan untuk menjalankan peran keibuannya secara sempurna.

Saatnya Berpikir Sistemik

Kasus filisida maternal seharusnya menjadi peringatan serius bahwa kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan individu tanpa mengoreksi sistem yang menaunginya. Perempuan, khususnya ibu, membutuhkan sistem yang melindungi, mendukung, dan memuliakan mereka dalam menjalankan peran yang luar biasa penting ini.

Sudah saatnya kita memikirkan solusi yang lebih fundamental. Bukan sekadar reaktif terhadap kasus demi kasus, melainkan berani mengevaluasi akar masalah: sistem kehidupan yang tidak ramah terhadap perempuan dan peran keibuannya. Islam menawarkan solusi sistemik yang menyeluruh—bukan hanya menjawab kebutuhan materi, tapi juga mendukung kesehatan mental, spiritual, dan sosial para ibu.[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *