Kita memerlukan adanya lingkungan pertemanan maupun masyarakat yang di dalamnya itu ada interaksi sosial ala Islam
Oleh : Irawati Tri Kurnia
(Ibu Peduli Umat)
WacanaMuslim-Banyak fenomena aneh terjadi di era sekular kapitalisme saat ini. Seperti saat ini dalam kondisi ekonomi sulit, banyak yang mencari hutangan demi menanggung kebutuhan hidup yang semakin berat. Saat mencari hutangan, terutama pada teman sendiri, bahasanya lembut dan merayu. Begitu dapat hutangan, saat ditagih malah marah-marah; galak sekali segalak macan. Ironisnya, dalam beberapa kasus malah berujung pada tindak kriminal seperti balik mencaci maki, memukul, bahkan ada yang berujung pada pembunuhan. Astaghfirullah al adzim! (www.tvonenews.com, Kamis 30 November 2023) (1).
Sebenarnya memberi hutangan untuk menolong saudaranya itu berpahala. Bahkan Rasulullah saw menyebut memberi hutang dua kali sama dengan bersedekah. Rasulullah bersabda :
“Tiada seorang muslim yang memberikan pinjaman kepada saudaranya yang muslim dua kali melainkan akan dicatat sebagai sedekah satu kali bagi dirinya.”
Si yang berhutang ini tersulut emosi saat diingatkan kewajibannya untuk membayar hutang. Asal emosi dan langsung melampiaskan dalam bentuk kekerasan fisik. Emosi marah itu adalah salah satu bentuk dari gharizatul baqa’ (naluri mempertahankan diri) yang Allah sudah kasih pada setiap manusia. Gharizatul baqa’ ini penampakannya berupa perasaan marah, takut, dan tersinggung. Ini adalah hal yang manusiawi sama seperti naluri lainnya. Naluri ini memiliki potensi baik dan buruk. Akan baik jika dipenuhi sesuai syariat Allah dan buruk jika pemenuhannya bertentangan sama aturan Allah.
Karena hari ini kita diracuni oleh pemikiran yang begitu jauh dari agama dan berambisi mengejar kepuasan diri, atau yang biasa kita sebut sebagai sekularisme kapitalisme. Maka banyak manusia yang tidak tahu cara mengendalikan emosi. Manusia yang sekularistik kapitalistik ini menganggap bahwa semua jenis marah itu harus segera dipenuhi dengan memukul atau bahkan membunuh. Tidak peduli kemarahan itu kepada siapa. Entah kepada teman, keluarga, sahabat, musuh atau orang asing sekalipun. Yang namanya marah terasa harus segera dilampiaskan secara membabi buta. Beringas sekali. Sesungguhnya sistem sekularisme kapitalisme inilah yang menjadi biang kerok terbentuknya manusia-manusia beringas dan bermental preman. Dengan teman sendiri yang memberi hutang pun akan bersikap beringas seperti macan.
Sedangkan pemenuhan gharizatul baqa dalam Islam itu ada caranya. Nabi Muhammad saw berpesan agar umatnya menjauhkan diri dari sifat amarah. Menurut Imam al-Ghazali marah adalah seberkas api dari neraka Allah yang menyala-nyala dan membakar hati manusia. Marah memang tidak bisa dihilangkan sama sekali. Tapi marah itu bisa dilemahkan atau ditahan dengan jalan latihan pengendalian emosi, bukan malah pelampiasan seperti pemukulan atau pembunuhan. Latihannya bisa dengan mujahadah atau membiasakan diri berbuat lembut dan menyimpan rasa marah. Kemudian Islam juga mempunyai cara untuk meredakan rasa marah, seperti segera berwudu dan mengucapkan istighfar (astaghfirullah al adzim, artinya aku mohon ampun pada Allah Yang Maha Agung).
Islam itu membagi marah menjadi dua, yaitu kemarahan yang berbuah neraka dan kemarahan yang berbuah surga. Marah berbuah surga yaitu adalah marah kepada kemungkaran, kezaliman dan kesewenang-wenangan; seperti kepada penguasa yang mengeluarkan kebijakan zalim, menyakiti rakyat, dan menghina Islam. Untuk urusan yang satu ini tentu kita harus marah. Sedangkan yang berbuah neraka adalah yang tidak berkaitan dengan kemungkaran, kezaliman dan kemaksiatan; tapi lebih seperti saling marah kepada sesama teman, saling hina, saling ejek, seperti kasus yang kita bahas ini. Marah ke teman, padahal perkaranya belum jelas.
Mengapa banyak orang yang tidak mengerti cara menangani emosi? Itu karena mereka enggan memahami lebih dalam tentang ajaran Islam. Mereka tidak menempatkan diri mereka sebagai makhluk Allah yang mengaitkan aktivitas hidupnya dengan pahala dan dosa. Seandainya mereka memahami ada pahala dan dosa dari setiap apa yang kita lakukan, sudah tentu dia akan berpikir berkali-kali sebelum nekat melampiaskan kemarahannya dengan cara yang diharamkan Allah. Ini adalah buah dari hilangnya suasana keimanan dan ketakwaan dalam kehidupan kita. Kita lihat saja di lingkungan masyarakat kita. Sedikit-sedikit berkelahi, sedikit-sedikit saling hina dan saling ejek satu sama lain. Padahal jika diingatkan untuk bayar hutang, seharusnya mereka beruntung diingatkan. Karena jika tidak demikian, mereka akan terjerumus pada kemaksiatan akibat melalaikan membayar hutang. Sekali lagi, kunci kontrol emosi adalah ketakwaan.
Hubungan pertemanan pun tidak tulus, tapi pertemanan yang materialistik dan penuh perhitungan. Jadi di lingkungan pertemanan pun berkembang perasaan distrust (ketidakpercayaan) tanpa kendali. Kemarin kawan, sekarang lawan. Jadi mudah sekali memukul orang. Itulah yang terjadi ketika hubungan sosial kemasyarakatan tidak dibangun memakai landasan akidah Islam. Interaksi antar manusia pun tidak dibangun untuk saling mendukung dalam ketaatan pada Allah dengan amar makruf nahi mungkar (saling menasehati tentang kebaikan Islam alias berdakwah), tapi untuk saling menang dan berkompetisi. Saling bersaing dengan saling sikut dan saling pukul adalah hal yang biasa.
Memahami Islam secara mendalam adalah hal yang penting agar kita bisa memenuhi gharizah baqo’ sesuai tuntunan agama. Kita harus memahami bahwa kita adalah makhluk Allah yang akan kembali ke akhirat sesuai dengan amal perbuatan kita. Jika banyak amal salihnya, akan dapat pahala dan masuk surga. Jika sebaliknya, maka Allah akan melempar kita ke neraka. Jadi yang kita butuhkan di sini adalah belajar Islam kafah (menyeluruh) secara mendalam dan serius, agar kita mengerti bagaimana bisa beramal sebagai seorang muslim.
Selain itu lingkungan sangat penting dan mempengaruhi kita. Kita memerlukan adanya lingkungan pertemanan maupun masyarakat yang di dalamnya itu ada interaksi sosial ala Islam. Maksudnya adalah hubungan pertemanan dan pertetanggaan itu harus saling peduli saling dan saling dukung dalam ketaatan. Dengan aktif melakukan amar makruf nahi mungkar; jadinya akan saling percaya, saling sayang, dan saling membantu. Ini benar-benar hubungan sosial idaman. Memang kehidupan akan indah jika tanpa ada sedikit-sedikit emosi.
Kehidupan yang indah tanpa memperturutkan emosi di sistem sekularisme kapitalisme saat ini sulit sekali kita temui. Ini karena negara yang harusnya menjadi pelindung rakyat, termasuk melindungi rakyatnya dari kerusakan pemikiran, malah membiarkan pemikiran rusak dan batil. Seperti masuknya pemikiran sekularisme kapitalisme ke benak-benak kaum muslimin yang tidak menganggap penting agama sebagai standar kehidupan. Ironisnya, ini malah sengaja ditanamkan melalui sistem pendidikan yang sekuler. Akibatnya generasi yang terbentuk adalah generasi berwatak beringas dan tidak takut dosa.
Lingkungan idaman cuma bisa kita temui di kelompok dakwah Islam ideologis, yang kepeduliannya itu membina umat dengan Islam Kafah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah kepada para sahabat. Aktif berdakwah menyadarkan umat dengan Islam kafah. Tapi tetap aja menangani rasa marah akan sangat sulit tanpa penerapan Islam dalam sebuah negara. Negara yang menerapkan Islam seperti Khilafah, akan menjalankan perannya sebagai junnah atau perisai, yakni melindungi pemikiran generasi dari pemikiran rusak dan batil; serta membentuk kepribadian Islam melalui sistem pendidikan berbasis Islam.
Kelompok dakwah Islam ideologis adalah kelompok yang sedang memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah. Karena hanya dengan Khilafah, generasi muda akan tumbuh menjadi generasi salih, bukan beringas dan gelap mata seperti bentukan sistem sekularisme kapitalisme saat ini. Wallahualam bisawab []
Catatan Kaki :
(1) https://www.tvonenews.com/religi/170587-punya-utang-tapi-ditagih-kok-marah-marah-hati-hati-kata-ustaz-khalid-basalamah-nanti-di-hari-kiamat
Sumber Foto : Canva

