Pengaruh Generasi Emas Terhadap Peradaban Islam yang Maju

Bagikan Artikel ini

Oleh : Lustiana wiji ningsih

Peran Generasi dalam Membangun Peradaban

Kita sering kali mendengar bahwa kualitas sebuah peradaban ditentukan oleh generasi mudanya. Namun, bagaimana jika para pemuda justru kehilangan arah dan tidak memiliki tujuan jelas dalam membangun peradaban?

Kondisi ini bukan isapan jempol. Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan maraknya kecurangan dalam pelaksanaan UTBK SNBT 2025.


Kecurangan UTBK dan Potret Buram Dunia Pendidikan

Seperti yang baru saja terjadi, publik di buat heboh dengan peristiwa Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) Tahun 2025. Pelaksanaan Ujian yang baru berjalan dua hari itu sudah banyak terjadi kecurangan. Pada hari pertama UTBK SNBT Rabu (23/4/2025) Tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menemukan ada 9 kasus kecurangan. Lalu, Kamis (24/4/2025) tercatat ada 5 kasus. Sehingga total menjadi 14 kasus. Jelas ini dianggap mencederai prinsip keadilan, integritas, dan kejujuran yang menjadi dasar seleksi nasional. Modus-modus baru yang dilakukan untuk berbuat curang oleh sejumlah peserta UTBK SNBT 2025, yakni seperti memasang kamera yang tidak terdeteksi oleh metal detector di behel gigi , kuku, ikat pinggang dan kancing baju. Ada juga yang memasang HP di sepatu dan masih ada lagi yang di gunakan oleh para peserta. Seperti halnya memakai HP remote recording dekstop yang dikerjakan pihak lain diluar lokasi ujian. Modus lainnya seperti peserta ujian yang melaksanakan di luar kota asal sekolah yang tentu harus menyelidiki lebih lanjut apa motif dari melaksanakan ujian di luar kota asal sekolah. Eduart mengatakan bahwa kecurangan memang sering terjadi setiap tahun, tetapi di tahun ini lebih variatif. Meskipun harus menjadi catatan bahwa salah satu penyebabnya juga karena kurangnya alat metal detector. Kompas.com dan Beritasatu.com


Fakta Integritas Pendidikan yang Menyedihkan

KPK mengungkap hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 dengan skor 69,50—lebih rendah dari tahun sebelumnya. Temuan KPK mencakup:

  • Kejujuran akademik:
    78% sekolah dan 98% kampus masih terdapat praktik menyontek. Plagiarisme oleh guru/dosen mencapai 43% di kampus dan 6% di sekolah.
  • Ketidakdisiplinan akademik:
    69% siswa mengaku gurunya sering terlambat, dan 96% mahasiswa menyebut dosen sering absen tanpa alasan jelas.
  • Gratifikasi:
    30% guru/dosen dan 18% kepala sekolah/rektor menganggap hadiah dari siswa/wali murid sebagai hal wajar.
  • Penyalahgunaan dana BOS dan pungli:
    12% sekolah menggunakan dana tidak sesuai peruntukan, dan 28% sekolah masih melakukan pungutan liar. (JAKARTA, KOMPAS.com)

Sistem Kapitalisme Melahirkan Generasi yang Terjebak Duniawi

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa begitu buram nya potret pendidikan saat ini dimana banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi proses keberhasilan dalam pembelajaran. Sejak dalam bangku sekolah anak dituntut agar mendapat nilai dan juga prestasi terbaik bermental juara tetapi mengesampingkan pembentukan dan penanaman karakter yang kuat dalam sebuah pendidikan baik untuk guru ataupun murid. Anak terus dilatih untuk bersaing tetapi lupa dilatih memahami. Sedangkan guru selalu disibukkan dengan administrasi beserta karirnya tetapi lupa dengan tujuannya yakni mendidik dan mencerdaskan secara akademik dan kepribadian karakter. Sukses dan berhasil dalam kacamata sistem saat ini hanya dinilai sebatas prestasi bukan lagi dibarengi dengan kepribadian yang baik. Pintar, berprestasi, karir yang bagus, seolah itu adalah tujuan akhir dari kesuksesan itu. Sehingga pendidikan akhirnya hanya fokus pada siapa yang terbaik bukan lagi siapa yang bermakna. Alhasil banyak yang menempuh segala cara tanpa lagi melihat boleh atau tidak boleh, halal ataukah haram untuk mencapai kesuksesan.

Dan inilah buah dari sistem pendidikan ala kapitalisme. Kondisi yang tidak ideal memaksa mereka harus menjadi budaknya sistem kapitalisme yang tujuannya pasti adalah mendapatkan dunia dan materi.

BACA JUGA : Kecurangan dalam Pendidikan, Mengapa Terjadi?


Islam: Solusi Menyeluruh dalam Mencetak Generasi Unggul

Berbeda dengan kapitalisme, Islam menjadikan keridhaan Allah sebagai standar kebahagiaan dan kesuksesan. Dalam negara Islam (Khilafah), sistem pendidikan dirancang untuk mencetak generasi berakidah kuat, intelektual tinggi, dan memiliki keterampilan hidup.

Negara Islam juga akan menjaga agar setiap individu terikat dengan aturan Allah dengan cara menerapkan Islam di semua lini kehidupan seperti dalam sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem Pendidikan, Sistem pergaulan bahkan sikap akhlak dan kepribadian di atur di dalam Islam.

Dalam sistem pendidikan, negara Islam akan menerapkan pendidikan berasaskan akidah Islam dimana pendidikan akan mencetak generasi unggul berkepribadian Islam, terikat pada syariat Allah, memiliki keterampilan yang handal dan menjadi agen perubahan. Tentu hal ini juga harus di barengi dengan diterapkannya sistem yang lain seperti sistem ekonomi Islam karena apabila masyarakat sejahtera mereka tidak lagi memikirkan biaya hidup mereka yang sudah terpenuhi oleh negara sehingga tujuan pendidikan juga akan terfokus pada mencerdaskan ummat dan memberi manfaat pada umat secara menyeluruh. Dengan demikian kepribadian Islam yang Kuat secara intelektual dan dibarengi dengan kecerdasan secara akademik maka kemajuan teknologi pun akan dimanfaatkan sesuai dengan tuntunan Allah dan untuk meninggikan kalimat Allah.


Penutup: Generasi Emas, Pilar Peradaban Islam yang Maju

Dengan pendidikan Islam, akan lahir generasi emas yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berkepribadian mulia. Mereka akan menjadi motor penggerak peradaban Islam yang agung, di bawah naungan sistem Islam kaffah yang menjamin kesejahteraan dan keamanan umat. Wallahua’lam bishawab []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *