Pendidikan dalam sistem kapitalisme yang banyak dianut oleh negeri-negeri muslim telah gagal menciptakan manusia yang unggul dan bermartabat.
Oleh : Putri Ali N.
(Pemerhati Generasi)
WacanaMuslim-Saat ini pendidikan telah menjadi kunci utama untuk membuka berbagai peluang dan meningkatkan kualitas hidup individu. Dalam prosesnya meskipun pendidikan bisa didapatkan dimana saja, namun sekolah tetap menjadi peran penting sebagai lembaga formal tempat transfer ilmu pengetahuan, pembentukan karakter dan kepribadian yang mampu membimbing anak-anak menjadi manusia dewasa yang berbudi.
Begitu masih pentingnya peran sekolah dalam proses pendidikan sayangkan saat ini masih saja ditemukan kasus anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia dan miris jumlahnya masih tergolong cukup tinggi.
Dilansir dari Tirto.Id (19/05) Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tatang Muttaqin mengatakan bahwa angka anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia yang tinggi disebabkan oleh faktor ekonomi dan membantu orang tua mencari nafkah. Menurut beliau menunjukkan setidaknya ada 3,9 juta lebih anak yang tak bersekolah. Yang terkategori putus sekolah sebanyak 881 ribu anak, lulus dan tidak melanjutkan sekolah lebih dari 1 juta orang, dan belum pernah sama sekali bersekolah berjumlah 2 juta orang. Carut marut masalah pendidikan di Indonesia, dari tahun ke tahun masih terus terjadi. Faktor ekonomi masih menjadi alasan nomer satu.
Saat ini presiden Prabowo Subianto dengan Kementrian terkait tengah menggagas program Sekolah Rakyat untuk anak orang miskin (kurang mampu) dan Sekolah Garuda Unggul untuk anak orang kaya (mampu) sebagai jalan tengah yang bersifat akomodatif. Sekolah Rakyat nantinya akan diperuntukkan untuk rakyat kecil dan daerah terpencil agar akses pendidikan bisa merata. Sedangkan Sekolah Unggulan Garuda diharapkan mampu mempercepat peningkatan pendidikan berbasis sains dan teknologi bertujuan mencetak siswa berprestasi dalam skala nasional atau internasional.
Dari kedua program tersebut semakin menunjukkan bahwa lagi-lagi pendidikan berkualitas hanya bisa diakses segelintir orang tertentu saja. Bukankah idealnya sistem pendidikan nasional seharusnya bisa menggabungkan keunggulan keduanya? Yaitu akses pendidikan yang setara dan merata bagi si kaya dan si miskin dari Sabang sampai Merauke tanpa mengorbankan mutu pendidikan.
Masalah pendidikan di Indonesia selalu menjadi PR besar yang harus dituntaskan segera oleh negara demi kemajuan bangsa. Jika tidak menjadi prioritas, pendidikan sebagai tonggak utama membangun peradaban dan kemajuan bangsa bisa mengalami kemunduran. Cita-cita 2045 menuju generasi emas seperti api jauh dari panggang.
Hal ini terjadi karena pergantian rezim setiap 5 tahunan kerap kali diikuti juga dengan pergantian sistem kurikulum satuan pendidikan. Sistem diubah sesuai keinginan rezim yang berkuasa, seringnya hanya dijadikan sebagai alat politik dan program kampanye agar bisa terpilih atau melenggang dan mencalonkan kembali di periode selanjutnya. Maka yang terjadi setiap kebijakan yang dikeluarkan adalah kebijakan-kebijakan populis semata.
Pendidikan Ala Sistem Kapitalisme
Pendidikan dalam sistem kapitalisme yang banyak dianut oleh negeri-negeri muslim telah gagal menciptakan manusia yang unggul dan bermartabat. Karena dalam sistem kapitalisme pendidikan bukan lagi dipandang sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Tetapi pendidikan telah dijadikan sebagai komoditas. Hal ini terlihat dari lembaga-lembaga pendidikan formal yang dikelola seperti perusahaan menjadi ladang bisnis para kapitalis.
Ini diakibatkan oleh negara yang melepaskan tanggung jawabnya dalam menyediakan pendidikan gratis dan bermutu. Dengan dalih efisiensi dan daya saing negara mengalihkan tugasnya kepada sektor swasta. Akibatnya, terjadilah privatisasi pendidikan yang menciptakan kesenjangan sosial di masyarakat.
Belum lagi kualitas sekolah hari ini yang selalu ditonjolkan adalah fasilitas mewah yang dijadikan sebagai daya tarik serta branding layaknya strategi pemasaran produk. Ini menjadikan pendidikan tinggi dan berkualitas menjadi eksklusif, tersedia bagi kalang yang mempunyai modal ekonomi kuat saja.
Sementara itu rakyat yang berasal dari kelas bawah harus berjuang dengan berbagai keterbatasan atau terpaksa menyerah sebelum mencoba. Jadilah akses terhadap pendidikan bermutu menjadi soal siapa yang mampu membayar, bukan siapa yang paling membutuhkan. Maka tidak heran di era modern masih saja ditemukan anak putus sekolah. Padahal sejatinya pendidikan adalah hak paling dasar yang harus dipenuhi oleh negara secara cuma-cuma.
Pendidikan Dalam Sudut Pandang Islam
Dalam Islam pendidikan adalah hak dasar anak sebagai kebutuhan dasar publik, bahkan hak-hak syar’i warga negara sebagaimana kesehatan dan keamanan. Negara sebagai institusi tertinggi wajib secara langsung bertanggungjawab memenuhi seluruh kebutuhan dasar publik rakyatnya.
Negara sebagai penyelenggara sekaligus memenuhi pembiayaan dari Baitul Maal agar pendidikan bisa diakses oleh seluruh rakyat secara gratis. Negara bisa juga dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dikelola secara maksimal dengan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat salah satunya dalam bentuk pendidikan gratis. Sehingga tidak akan ada dikotomi akses pendidikan bagi anak orang kurang mampu dan anak orang kaya. Baik di kota maupun di daerah pinggiran yang jauh dari pusat kota.
Pendidikan Islam adalah hak syar’i warga negara untuk mencetak generasi subyek peradaban.
Pendidikan bukan hanya sekedar investasi pribadi demi mencapai karir tinggi dalam hal duniawi.
Tetapi diselenggarakan dalam rangka mencetak generasi bersyakhshiyah Islam yang juga menguasai ilmu terapan. Yang dipersiapkan untuk mengagungkan peradaban Islam agar siap berdakwah dan berjihad ke seluruh penjuru dunia.
Pendidikan dalam Islam justru akan menjadi mercusuar dunia, dijadikan kiblat masyarakat internasional. Hal ini didorong oleh pemimpin Islam yang sangat mendukung perkembangan pendidikan umatnya dengan mendirikan banyak pusat pembelajaran, perpustakaan, dan lembaga riset secara gratis yang bisa diakses oleh siapapun baik ilmuwan muslim maupun non muslim dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Seperti Bait Al Hikmah yang didirikan di kota Baghdad semasa Khalifah Harun Ar Rasyid menjadi salah satu lembaga institusi pendidikan yang berjaya pada masanya sehingga mampu menciptakan ulama dan cendekiawan terkenal yang sampai saat ini karyanya masih menjadi runjukan dan berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Seperti Al-Khwarizmi yang dijuluki sebagai bapak aljabar yang karyanya dalam bidang perhitungan dan matematis sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan sampai sekarang.
Hal ini bisa terjadi karena prinsip dari hadist “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim” benar-benar diimplementasikan pada masanya oleh masyarakat dan pemimpin islam.
Peradaban Islam telah terbukti berhasil menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sangat mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan tanpa memisahkan nilai spiritual dan pemikiran rasional. Dengan ini kegemilangan pendidikan Islam di masa lalu seharusnya menjadi inspirasi bagi umat Islam masa kini untuk kembali menghidupkan semangat keilmuan tanpa meninggalkan kerangka nilai-nilai Islam. Wallahu’alam bishawab[] Sumber Foto : Canva

