Palestina Dan Kebangkitan Di Depan Mata

Bagikan Artikel ini

Umat Islam harus fokus dan percaya bahwa solusi masalah Gaza dan Palestina adalah kehadiran Khilafah yang akan mengomando jihad.


Oleh:Esnaini Sholikhah,S.Pd
(Penulis dan Pengamat Kebijakan Sosial)

WacanaMuslim-Jumlah korban tewas Palestina di Jalur Gaza meningkat menjadi 56.412 orang, dengan 133.054 orang lainnya terluka sejak pecahnya konflik antara Hamas dan Israel pada 7 Oktober 2023, hal ini disampaikan otoritas kesehatan Gaza. Dalam 24 jam terakhir, serangan Israel merenggut 81 nyawa warga Palestina dan menyebabkan 422 orang lainnya terluka.(CNBCIndonesia,29/6/2025)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah menyepakati kesepakatan rencana untuk mengakhiri perang di Gaza. Seperti dilaporkan Israel Hayom, Kamis (26/6/2025), Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyepakati rencana gencatan senjata di Gaza yang akan diterapkan dalam tempo dua pekan ke depan. Dilaporkan, bahwa tujuan utama Trump dan Netanyahu dari gencatan senjata di Gaza adalah percepatan dengan negara-negara Arab,sebagai bagian dari perluasan Abraham Accords.

Menurut laporan Israel Hayom, berikut poin-poin kesepakatan terkait gencatan senjata di Gaza. Perang di Gaza akan berakhir dalam dua pekan. Syarat pengakhiran perang akan termasuk masuknya empat negara Arab (termasuk Mesir dan Uni Emirat Arab) yang akan memerintah Jalur Gaza untuk menggantikan Hamas. Beberapa negara akan menerima banyak dari warga Gaza yang ingin beremigrasi. Abraham Accords akan diperluas: Suriah, Arab Saudi, dan negara-negara Arab dan Muslim akan mengakui Israel dan menjalin hubungan diplomatik. Israel akan mengekspresikan kesiapannya atas solusi masa depan atas konflik dengan warga Palestina menurut konsep ‘dua-negara’, menyediakan reformasi dalam Otoritas Palestina. AS akan mengakui implementasi kedaulatan Israel atas Tepi Barat. (Republika.co.id,26/6/2025)

Situasi Gaza makin memprihatinkan di tengah pengkhianatan para penguasa muslim. Perang Iran justru makin menunjukkan tidak satupun penguasa muslim yang benar-benar serius menolong Gaza. Dalam konstelasi politik internasional, posisi umat Islam benar-benar tertinggal jauh di belakang. Potensi mereka yang luar biasa justru menjadi sumber bencana. Negeri mereka dikerat-kerat dan menjadi jajahan negara-negara besar. SDA mereka dijarah dan para penguasanya rela menjadi kacung penjajah hanya demi melanggengkan kursi kekuasaan.

Dorongan sebagian penguasa muslim termasuk indonesia untuk menekan Zionis menerima solusi dua negara adalah solusi untuk membodoh-bodohi umat dan sangat absurd. Zionis dan AS sampai kapan pun tidak akan menerima Palestina merdeka dengan kemerdekaan penuh. Begitu pun warga Palestina yang tulus dan lurus. Mereka tidak mungkin menerima ada sejengkal pun tanah kaum muslimin diberikan kepada penjajah. Mereka tidak mungkin mau mengkhianati perjanjian Umariyah dan pengorbanan para syuhada yang sudah mempertahankan tanah Palestina dengan nyawa mereka. Artinya pembantaian akan terus terjadi dan perlawanan juga tidak akan pernah surut.

Mirisnya, ini semua terjadi di hadapan mata umat Islam dunia, sedangkan para penguasa mereka hanya sibuk beretorika. Alih-alih segera mengerahkan tentara untuk menolong warga Gaza, sebagian mereka justru menutup mata dengan dalih menjaga kepentingan nasionalnya dan menghargai norma-norma hubungan internasional. Umat Islam harus fokus dan percaya bahwa solusi masalah Gaza dan Palestina adalah kehadiran Khilafah yang akan mengomando jihad. Umat tidak boleh terdistrak oleh opini bahwa seruan ini berarti rida rakyat Gaza terus dibantai. Umat harus ingat bahwa seruan solusi dua negara sudah dinarasikan sejak dulu, dan sepanjang itu pula pembantaian terus terjadi.

Peristiwa genosida muslim Gaza semestinya memberi pelajaran besar bahwa solusi atasnya bukan ada pada lembaga-lembaga internasional dan para pemimpin negara-negara adidaya. Bukan juga ada pada para penguasa muslim dunia, apalagi ada pada para pemimpin Arab yang sudah terjangkiti penyakit wahn.

Pembantaian di Gaza harusnya menjadi momen bangkitnya kesadaran umat bahwa berharap pada solusi Barat justru menjauhkan pada solusi hakiki. Solusi hakiki adalah menghadirkan Khilafah sebagai warisan nabi yang terbukti telah menjadi penjaga umat dan telah membawa umat kepada kebangkitan hakiki. Bulan ini kaum muslimin memasuki bulan Muharram 1447H. Menjadi tugas para pengemban dakwah untuk meluruskan kembali makna hijrah dan momentum Muharam bagi umat Islam. Bahwa hijrah bukan sekadar berpindah keadaan, apalagi hanya urusan individual. Muharam dan peristiwa Hijrah adalah momentum umat Islam menuju kebangkitan hakiki dengan jalan berjuang mewujudkan tegaknya syariat Allah di bawah naungan satu kepemimpinan, yakni Khilafah Islam yang berjalan di atas minhaj kenabian.

Kehadiran Khilafah pada era sekarang sejatinya telah Allah janjikan, tetapi tentu harus diperjuangkan. Urgensi dan kewajibannya tidak bisa ditolak, baik dari sisi nas maupun realitas yang dihadapi umat Islam. Khilafah adalah harapan pembebasan dan kemuliaan, termasuk pembebasan Tanah Gaza Palestina dari cengkeraman penjajahan melalui komando Khilafah untuk jihad fi sabilillah.

Kepemimpinan Khilafah ini tentu hanya bisa mewujud melalui dakwah membangun kesadaran politik ideologis di tengah umat, bukan sekadar merebut kekuasaan, apalagi dengan jalan kekerasan. Dakwah yang dimaksud adalah dakwah yang dimulai dengan merevitalisasi akidah umat sehingga menjadi akidah produktif yang mendorong ketaatan untuk segera menerapkan Islam kafah dalam naungan kepemimpinan Khilafah Islam.

Jalan dakwah seperti ini sejatinya telah Baginda Rasulullah ﷺ contohkan. Tugas kita adalah memahami sejarah dan tuntunan syariat, lalu menjalaninya dengan ikhlas, sabar, dan istikamah. Allah Taala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.’.” (QS Yusuf: 108)

Sejatinya, kunci persoalan Palestina dan problem umat Islam dunia lainnya hanya ada di tangan mereka sendiri. Kunci itu adalah hadirnya kekuatan politik umat berupa kepemimpinan Islam global bernama Khilafah yang tegak atas dasar ideologi Islam. Umat harus mendukung dan segera terjun bergerak dalam perjuangan menegakkan Khilafah bersama kelompok dakwah ideologis. Ini adalah bukti keseriusan kita menolong Gaza-Palestina, dan juga mengangkat umat yang lainnya dari kehinaan akibat hidup dalam naungan sistem sekuler kapitalisme. Namun, itulah PR kita sebagai bagian umat yang sudah berkesadaran. Ada tanggung jawab besar untuk melakukan penyadaran bahwa selain urgen, hidup dengan Islam adalah konsekuensi iman. Penyadaran inilah yang disebut dengan dakwah. Namun, tentu bukan sembarang dakwah, melainkan dakwah yang mengarah pada penerapan Islam kafah di bawah naungan Khilafah Islam.

Dakwah seperti ini tidak mungkin dilakukan sendirian, melainkan harus bergabung bersama gerakan yang terbukti ikhlas berjuang demi kemuliaan Islam, serta berjalan di atas manhaj dakwah yang Rasulullah saw. contohkan. Yakni sebuah gerakan politik ideologis yang bergerak tanpa sekat negara dan kebangsaan, serta konsisten berjuang di atas asas dan aturan Islam demi mewujudkan kepemimpinan Islam tanpa kekerasan. Wallahu a’lam bisshowab.[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *