Sekularisasi itu nyata bukan teori, terjadi di dunia real maupun digital, agama diposisikan sebagai identitas personal, bukan sebagai ideologi dalam memandang arah hidup.
Oleh : @imtinana.nafilah
WacanaMuslim-Setiap pagi, sebelum mata melek, banyak dari kita memilih membuka ponsel. Timeline menyapa lebih cepat daripada doa. Konten motivasi berseliweran: “kejar mimpimu”, “jadi versi terbaik dirimu”, “produktif kekinian”. Sekilas terdengar positif. Tapi pelan-pelan, tanpa disadari, hidup diarahkan hanya pada satu tujuan: sukses versi sistem.
Di sisi lain, para ibu menjalani hari penat lelah rutinitasnya. Mengurus rumah, anak, pekerjaan, sambil dibombardir standar “ibu ideal” dari media sosial. Harus produktif, harus mandiri finansial, harus tetap glowing. Peran mulia sebagai ummun wa rabbatul bayt perlahan direduksi jadi sekadar fungsi domestik atau komoditas konten.
Inilah potret generasi dan kaum ibu hari ini: sama-sama hidup, tapi kehilangan arah. Sekularisasi itu nyata bukan teori, terjadi di dunia real maupun digital. Agama diposisikan sebagai identitas personal, bukan sebagai ideologi dalam memandang arah hidup. Islam cukup diyakini, tapi gak perlu diperjuangkan. Akibatnya, generasi muda kehilangan jati diri sebagai Muslim sekaligus pelopor perubahan.
Posisi ibu itu bikin nyesek. Dijadikan target pasar sekaligus tenaga penggenjot roda ekonomi. Negara sekuler gagal memaknai ibu sebagai pilar peradaban dan pendidik generasi. Mereka dibiarkan berjuang sendiri, tanpa edukasi strategis yang kokoh.
Kalau kita telisik, digitalisasi yang kita nikmati hari ini gak netral. Tapi di bawah hegemoni kapitalisme global. Tujuannya bukan cuma memudahkan hidup, tetapi membentuk cara berpikir. Nilai-nilai liberal, individualisme, dan materialisme dikemas rapi dalam algoritma. Smooth tapi pasti: menjauhkan umat dari Islam sebagai kacamata hidup.
Kita rasakan sekuler memperparah keadaan. Agama dibatasi di ranah privat. Islam boleh diyakini, tapi tidak untuk aturan umum. Generasi muda dan kaum ibu akhirnya hanya dipandang sebagai objek komersial, bukan subjek perubahan. Maka wajar jika pembekalan Islam kaffah nyaris tak mendapat ruang. Dalam himpitan situasi inilah, kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi sangat urgen.
Jamaah dakwah bukan sekadar komunitas kajian atau ruang curhat. Ialah wadah pembinaan umat dengan visi perubahan sistemik.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran ayat 104, agar ada di tengah umat segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh yang makruf, dan mencegah yang mungkar. Ayat ini bukan seruan pasif, tetapi perintah membangun kekuatan kolektif.
Rasulullah ﷺ telah meneladankan metode dakwah yang jelas. Fase Makkah dimulai dengan pembinaan (tatsqif), membangun kepribadian Islam pada individu-individu terpilih. Mereka tidak hanya saleh secara personal, tetapi memiliki kesadaran ideologis. Setelah itu, dakwah berinteraksi dengan umat (tafa’ul ma’al ummah), hingga akhirnya berujung pada perubahan komprehensif melalui istilamul hukmi.
Dalam proses inilah ibu dan generasi muda memiliki peran strategis. Ibu adalah madrasah pertama, sementara pemuda adalah energi perubahan. Jika keduanya dibina dengan Islam ideologis, maka lahirlah generasi yang tidak mudah hanyut oleh arus zaman, tetapi mampu mengarahkannya. Kaum muda tidak kekurangan idealisme. Para ibu tidak kekurangan ketulusan. Yang sering hilang adalah arah dan pembinaan.
Sekarang, pertanyaannya bukan lagi “apakah kita religius,” tetapi “apakah kita siap memperjuangkan Islam sebagai sistem kehidupan?” Jamaah dakwah Islam ideologis hadir untuk menjawab kegelisahan itu. Membina, menyadarkan, dan menyiapkan umat menjadi pelopor kebangkitan peradaban Islam.
Di tengah dunia yang terus menarik kita menjauh dari Islam kaffah, memilih untuk dibina dan berjuang bersama jamaah dakwah bukanlah langkah mundur. Justru itulah langkah berani untuk benar-benar berubah—dan mengubah dunia.[] Sumber Foto : Canva

