Kapitalisme yang di adopsi negara saat ini menjadikan media sosial lebih banyak digunakan untuk membuat konten yang tidak berfaedah demi gaya hidup hedonis sehingga anak-anak dan remaja menjadi korban dari rayuan pelaku, yang di iming-imingi materi.
Oleh : Aminah
Kota Banjar
WacanaMuslim-Dilansir dari newstasikmalaya.com (12-12- 2025) Miris sekali Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) di kabupaten Tasikmalaya diamankan setelah digerebek oleh warga, karena telah melakukan perbuatan cabul terhadap lima remaja putri di bawah umur di sebuah kamar hotel di kawasan Pantai Pangandaran.
Kasus kekerasan di Indonesia tetap tinggi. Dinas PPAPP Jakarta mencatat sebanyak 1.995 perempuan dan anak mengalami kekerasan sejak Januari hingga 2 Desember 2025. Tidak mudah bagi kita untuk mendapat data sebenarnya. Sudah pasti angka kasus yang tidak terekspose biasanya jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang terekspose. Kasus kekerasan seksual di pendidikan atau bukan, mulai dari tahun ke tahun jumlahnya memang terus meningkat.
Peningkatan kekerasan seksual pada anak yang terjadi dari tahun ke tahun mencerminkan kegagalan negara dalam melindungi anak-anak. Sanksi bagi pelaku kekerasan seksual pun, belum bisa memberi efek jera. Akibatnya masalah tidak selesai, malah semakin bertambah.
Dunia digital saat ini menjadi pintu masuk penyebaran pemikiran sekuler, dengan nilai budaya barat, yang jauh dari aturan islam. Begitu juga dengan kapitalisme, yang di adopsi negara saat ini, menjadikan media sosial lebih banyak digunakan untuk membuat konten yang tidak berfaedah demi gaya hidup hedonis. Sehingga anak-anak, remaja menjadi korban dari rayuan pelaku, yang di iming-imingi materi.
Sejatinya maraknya kekerasan seksual akibat sistem kapitalisme yang berakidah sekuler. Kapitalisme pemahaman manusia hidup hanya untuk kesenangan duniawi. Tak ayal demi mengejar kesenangannya, mereka melakukan tindakan yang bertentangan dengan syariat islam. Pun dengan akidah sekulernya, yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Akibatnya manusia terperangkap dalam jebakan setan yang menyesatkan. Di awali interaksi di media sosial (medsos), berlanjut ke interaksi dunia nyata. Maka ketika hawa nafsu menguasai manusia, maka kerusakan akan terjadi. Sehingga berlanjut pada kekerasan seksual. Mirisnya kekerasan seksual dilakukan oleh oknum Kepala Sekolah, terhadap anak di bawah umur.
Pada hakikatnya seorang Guru berperan sebagai tenaga pendidikan yang melahirkan generasi gemilang. Baik secara akhlak maupun perilaku. Namun, apa jadinya jika sosok Guru yang menjadi role model malah melakukan perbuatan tercela. Sehingga menghilangkan citra seorang pendidik. Begitu juga dengan anak-anak remaja, seakan mudahnya terperdaya oleh pelaku kekerasan seksual. Inilah buah dari pemahaman kapitalis sekuler yang sudah mengakar, sehingga merusak setiap cabang kehidupan.
Kondisi rusak ini mencerminkan kegagalan sistem pendidikan dalam kapitalis sekuler. Sehingga lahirlah pemahaman rusak. Salah satunya kejahatan atau pelecehan seksual, akibat pemahaman yang keliru. Peran negara pun dalam memberikan sanksi di nilai belum memberikan efek jera secara signifikan. Faktanya banyak kasus kekerasan seksual terus terulang.
Di samping itu, saat ini anak-anak hidup di dunia nyata dan dunia digital. Maka tugas kita bukan menjauhkan mereka dari dunia digital, akan tetapi dalam islam, harus mengarahkan mereka agar selalu bijak dalam penggunaan gadget. Orang tua pun harus memiliki pemahaman islam yang kaffah dalam mendidik generasi.
Maka barang siapa yang dengan sengaja tidak menyadarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan Meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan sesuatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orang tua (Ibnul Qoyyim)
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (TQS At – Tahrim:6)
Maka orang tua harus belajar ilmu islam. Menangkan pertarungan dengan Gadget dalam membangun kepribadian anak. Bangun kepribadian islam anak kita. filosofi hidup from Allah Swt, for Allah Swt, To Allah swt.
Generasi bisa diselamatkan dan dijaga akidah akliahnya, dijaga nafsiyahnya dibangun benteng kokoh akidahnya. Maka bangun Nafsiah Islamiyah anak. Berusaha membangun boanding orang tua ke anak. Berdoalah kepada Allah swt. Di samping kita menggunakan ikhtiar bumi, kita juga gunakan ikhtiar langit. Dengan demikian, anak-anak kita akan di jauhkan dari bahaya predator kejahatan seksual.
Penerapan pemahaman islam kaffah, mampu melahirkan keluarga, masyarakat dan negara yang memiliki perilaku islami. Begitu juga para generasi, Guru tentu akan memiliki syahsiah islam, pola sikap dan pola pikirnya, berasal dari aturan Allah. Karena daulah islam akan menjauhkan pemahaman kapitalis sekuler dalam kehidupan yang merusak. Kemudian memberikan sanksi tegas bagi para pelaku kejahatan seksual. Wallahu’alam Bishawab[] Sumber Foto : Canva

