Proses sekulerisasi pendidikan dinegeri – negeri muslim akibat pengaruh hegemoni barat terus berestafet dengan ideologi kapitalisme yang menjadi driver utama dalam dunia modern saat ini, sehingga berkembangnya pragmatisme dalam pendidikan yang tercermin dari tujuan pendidikan yang cenderung materialistik, yang jauh dari harapan pendidikan islam yaitu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas kepribadian.
Oleh : Esnaini Sholikhah,S.Pd
(Penulis dan Pengamat Kebijakan Sosial)
WacanaMuslim-Viral di medsos seorang guru SMK, bernama Agus Saputra SMK dikeroyok 12 murid . Kejadian tersebut terjadi di SMK Negeri 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi. Aksi kekerasan tersebut terekam video dan viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi di lingkungan sekolah pada Selasa (13/1/2026) saat jam istirahat. Kronologi kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar,” kata Agus, Rabu (14/1/2026), dilansir dari detikSumbagsel. Sedangkan menurut siswa, guru tersebut “sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin,” ujar MUF. (Tribunnews, 16/1/2026)
Agus mengakui sempat menampar siswa itu satu kali secara refleks. Ketegangan berlanjut hingga jam istirahat. Situasi kemudian memanas ketika sejumlah siswa mengejar Agus ke halaman sekolah dan melakukan kekerasan fisik. Guru-guru lain segera melerai dan membawa Agus ke ruangan untuk menghindari aksi lanjutan. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengatakan peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin dalam Konstitusi dan UU Perlindungan Anak.
Tragedi pengeroyokan guru di sebuah SMK di Tanjung Jabung Timur bukan sekadar konflik personal atau emosi sesaat, dan meninggalkan satu tanda tanya besar di benak kita: mengapa teguran kini sering kali dibalas dengan kekerasan? Padahal, guru tersebut hanya mengingatkan muridnya yang berkata kasar tanpa adanya provokasi fisik maupun makian balasan. Insiden ini membuktikan bahwa kita tidak lagi sekadar bicara soal pelanggaran tata tertib sekolah, melainkan tentang sesuatu yang lebih serius, yaitu runtuhnya ketahanan emosional generasi muda. Hari ini kita hidup di era kapitalisme, zaman ketika perasaan menjadi pusat segalanya.
Tersinggung sedikit dianggap trauma, ditegur dianggap direndahkan, dan dikritik dianggap dibenci. Remaja, yang secara psikologis memang masih mencari identitas dan validasi, tumbuh dalam iklim emosional yang rapuh. Ini adalah problem serius dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. Relasi guru–murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan. Disatu sisi, murid bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Di sisi lain, tak dapat dimungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan. Inilah buah pendidikan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan Islam.
Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah saw bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Islam memandang pendidikan sebagai sarana untuk membentuk pribadi muslim yang utuh: bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, cerdas, dan mampu menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Tujuan akhirnya bukan sekadar “berhasil di atas ijazah”, melainkan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam sistem pendidikan Islam: Adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan hinaan. Seorang murid yang bernilai bukanlah yang sekadar mendapat nilai sempurna dalam ujian, tetapi yang mampu menggunakan ilmunya untuk memecahkan masalah nyata. Sekolah yang baik bukanlah yang hanya melahirkan lulusan dengan ijazah berderet, melainkan yang menghasilkan manusia berkarakter, peduli, dan berintegritas.
Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar. Sekolah tidak mungkin berjalan tanpa teguran. Sebab, pendidikan tanpa koreksi sama saja dengan membiarkan kesalahan tumbuh tanpa arah. Negara memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetensi pasar. Kebijakan pendidikan Negara Khilafah adalah politik yang mendasari pendidikan Negara Khilafah yang mencakup asas dan penyelenggaraan pendidikan secara praktis. Di dalam Pasal 170 dinyatakan:
يَجِبُ أَنْ يَكُوْنَ اْلأَسَاسُ الَّذِيْ يُقُوْمُ عَلَيْهِ مَنْهَجُ التَّعْلِيْمِ هُوَ الْعَقِيْدَة اْلإِسْلاَمِيَّةُ، فَتُوْضَعُ مَوَادُ الدِّرَاسَةِ وَطُرُقُ التَّدْرِيْسِ جَمِيْعُهَا عَلَى الْوَجْهِ الَّذِيْ لاَ يَحْدُثُ أَيُ خُرُوْجٍ فِي التَّعْلِيْمِ عَنْ هَذَا اْلأَسَاسِ .
Asas yang melandasi kurikulum pendidikan harus Aqidah Islam. Seluruh mata pelajaran dan metode pengajaran dibuat sedemikian rupa sehingga dalam pendidikan tidak terjadi penyimpangan sedikitpun dari asas tersebut.
Bahaya terbesar yang saat ini mengancam kaum Muslimin adalah ketika umat kehilangan identitas peradabannya. Identitas peradaban merupakan aset utama yang dimiliki masyarakat manapun, saat masyarakat ditimpa dengan segala macam bencana hingga meluluh-lantakkan seluruh negeri yang membawa banyak penderitaan. Namun, jika sebuah masyarakat sadar akan identitas dan karakter peradabannya, sudah tentu mampu bangkit dan menghadapi berbagai macam bencana dan penderitaan bahkan mampu mendorong untuk kuat dalam menghadapi segala persoalan. Proses sekulerisasi pendidikan dinegeri – negeri muslim akibat pengaruh hegemoni barat terus berestafet dengan ideologi kapitalisme yang menjadi driver utama dalam dunia modern saat ini, sehingga berkembangnya pragmatisme dalam pendidikan yang tercermin dari tujuan pendidikan yang cenderung materialistik, yang jauh dari harapan pendidikan islam yaitu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas kepribadian.
Islam yang suci memiliki tujuan untuk menghindarkan akal manusia dari jurang kesesatan dan penyelewengan yang tidak jelas, Islam telah memasang kendali yang amat kokoh dengan memerintahkan setiap Muslim agar mempelajari dan mengunakan aqidah sebagai pengikat yang kuat, Islam menyerahkan segala aturan dan pemikiran mengenai urusan rakyat banyak kepada yang berwenang(penguasa/ khalifah) yang bertanggung jawab terhadap urusan rakyat, baik dalam ide dan pemikiran yang berurusan dengan kurikulum dan metode pendidikan dari tingkat rendah hingga peguruan tinggi hingga menjadikan aqidah Islam sebagai satu satunya asa bagi kehidupan seorang Muslim. Dengan tujuan seperti ini, output yang akan dihasilkan dari pendidikan islam adalah generasi bertaqwa, tunduk dan patuh pada hukum Allah. Tujuan hakiki inilah yang akan menghantarkan kemajuan masyarakat, pembangunan yang produktif dan luhurnya peradaban. Wallahu a’lam bisshowab. [] Sumber Foto : Canva

