Potret Pilu Generasi Muda Di Tengah Himpitan Zaman

Bagikan Artikel ini

Di bawah naungan sistem ini, biaya hidup terus membumbung tinggi melampaui batas kemampuan warga, sementara tingkat gaji yang diterima para pekerja muda cenderung stagnan dan tak sebanding


Poppy Kamelia P. BA(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS
(Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah)

WacanaMuslim-Kehidupan pemuda masa kini menyajikan pemandangan psikologis yang sangat memprihatinkan jika kita cermati secara mendalam. Di balik senyum ceria yang terpancar pada unggahan media sosial, tersimpan kecemasan luar biasa mengenai masa depan yang kian tidak menentu. Sebuah temuan dari survei global yang dipublikasikan oleh lembaga riset dunia menunjukkan bahwa lebih dari 48% Gen Z secara jujur mengaku tidak merasa aman secara finansial (Berita Energi, 15/05/2026). Rasa ketakutan akan kegagalan finansial ini menjadi bayang-bayang mengerikan yang terus menghantui pikiran mereka setiap kali membayangkan hari esok. Kebingungan menentukan arah masa depan membuat mentalitas pemuda makin rapuh di tengah persaingan yang sangat ketat.

Hal yang sangat menyedihkan terjadi di tengah gelombang tekanan ekonomi yang semakin berat tersebut. Alokasi anggaran belanja generasi muda untuk aktivitas penghargaan diri atau self reward, perjalanan pemulihan jiwa atau healing, serta pemenuhan gaya hidup justru terus melonjak tinggi (Kompas.com, 12/08/2026). Aktivitas konsumtif tersebut tidak lagi dipandang sebagai sebuah kemewahan bersenang-senang semata, melainkan telah bergeser menjadi kebutuhan emosional yang wajib dipenuhi (Kompas.com, 03/05/2026). Generasi muda merasa bahwa memanjakan diri dengan membeli barang mahal atau berlibur adalah satu-satunya pelarian agar jiwa mereka tidak hancur ditelan beban pekerjaan dan tuntutan hidup.

Kondisi yang menghimpit anak muda hari ini sejatinya merupakan buah pahit dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Di bawah naungan sistem ini, biaya hidup terus membumbung tinggi melampaui batas kemampuan warga, sementara tingkat gaji yang diterima para pekerja muda cenderung stagnan dan tak sebanding. Negara seolah lepas tangan dari kewajibannya untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat secara cuma-cuma. Penguasa menyerahkan urusan perut dan kesejahteraan kepada mekanisme pasar bebas, sehingga pemuda terpaksa bertarung sendirian di tengah persaingan ekonomi yang kejam tanpa jaminan perlindungan sosial dari pemerintah.

Himpitan ekonomi yang mencekik itu kemudian diperparah oleh hembusan gaya hidup sekuler liberal. Paham kebebasan ini mempromosikan konsumsi hedonis sebagai jalan keluar instan untuk mengobati rasa lelah mental. Ruang-ruang digital melalui algoritma media sosial tiada henti mencekoki pikiran anak muda dengan tren populer yang memicu ketakutan akan tertinggal atau FOMO. Akibatnya, budaya belanja impulsif tumbuh subur di benak pemuda yang sebenarnya sedang mengalami krisis keuangan. Mereka terjebak dalam lingkaran setan membelanjakan uang yang tidak mereka miliki demi mengesan orang lain.

Di balik fenomena gaya hidup mewah yang dipaksakan tersebut, terdapat krisis yang jauh lebih berbahaya yaitu krisis tujuan hidup. Generasi muda saat ini kehilangan arah dan tidak memahami untuk apa sebenarnya mereka dilahirkan ke muka bumi. Sistem sekuler telah mengikis kesadaran spiritual, sehingga standar kebahagiaan manusia ditakar murni dari kenikmatan materi sesaat dan pengakuan fisik semata. Mereka lupa bahwa hakikat kemuliaan hidup tidak terletak pada tumpukan barang bermerek, kendaraan mewah, atau status sosial di media sosial, melainkan pada pencapaian ridha Allah dan penerapan syariat Islam secara menyeluruh.

Kebingungan spiritual ini berdampak fatal pada kesehatan mental generasi muda. Pelarian ke tempat hiburan atau gaya hidup konsumtif terbukti tidak pernah menyelesaikan akar masalah, melainkan hanya memberikan ketenangan semu yang cepat sirna. Saat uang hasil keringat habis terpaksa dipakai memenuhi gaya hidup, depresi dan kecemasan justru makin dalam mencengkeram jiwa pemuda. Tanpa adanya pemahaman agama yang benar, generasi muda kita akan terus menjadi korban pemerasan sistem ekonomi kapitalisme yang tidak pernah memuaskan hawa nafsu manusia.

Islam datang membawa seperangkat solusi mendasar dan ideologis untuk menyembuhkan luka generasi muda ini secara tuntas. Melalui institusi negara Khilafah, pemerintah bertindak sebagai pengurus yang akan menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat tanpa terkecuali. Pengelolaan sumber daya alam yang berlimpah akan dikembalikan penuh untuk kepentingan umum, bukan diserahkan kepada pengusaha swasta. Negara juga berkewajiban menciptakan lapangan kerja yang luas dan layak bagi setiap laki-laki, sehingga para pemuda dapat menafkahi keluarga dengan terhormat tanpa ketakutan menghadapi masa depan ekonomi.

Sistem Islam juga akan menutup rapat-rapat keran gaya hidup hedonis yang merusak moral bangsa. Negara akan melindungi generasi muda dari berbagai paparan konten berbahaya seperti paham sekularisme, kapitalisme, dan seluruh turunannya. Media massa dalam naungan Khilafah tidak akan dibiarkan menjadi sarana propaganda gaya hidup konsumtif. Sebaliknya, institusi media akan difungsikan secara optimal sebagai sarana edukasi publik untuk menggembleng mentalitas rakyat, menumbuhkan kepedulian sosial, serta meningkatkan ketakwaan individu di hadapan Sang Pencipta.

Fondasi terpenting dari pembinaan Islam adalah membangun paradigma yang lurus tentang hakikat keberadaan manusia di dunia. Islam mengajarkan dengan sangat tegas bahwa tujuan utama manusia diciptakan adalah semata-mata untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah sebagaimana tercantum dalam Surah Adz-Dzariyat ayat lima puluh enam. Ketika akidah Islam yang kokoh telah menancap kuat di dalam dada, generasi muda tidak akan lagi mengukur kebahagiaan dari materi sesaat. Mereka akan bangkit dari keterpurukan emosional, memiliki visi hidup yang melintasi zaman, dan berjuang bersama menjadi pilar utama pembangun peradaban Islam.

Sinergi antara negara yang mengurusi rakyat, lingkungan masyarakat yang saling menasihati, serta ketakwaan individu akan membentuk benteng pertahanan yang kokoh bagi Gen Z. Generasi muda tidak akan lagi merasa berjuang sendirian karena negara hadir memenuhi hak-hak mereka secara nyata. Sudah saatnya generasi muda membuka mata dan menyadari bahwa penyelesaian atas depresi mental serta himpitan ekonomi ini tidak akan ditemukan dalam sistem kapitalisme sekuler. Hanya dengan kembali pada syariat Islam kaffah, pemuda akan mendapatkan hakikat ketenangan jiwa, kepastian ekonomi, serta derajat kemuliaan yang sejati.Wallahu A’lam Bishshawab[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *