Pro kontra Kopdes Merah Putih, Solusi Islam

Bagikan Artikel ini

Tragedi memilukan tewasnya 5 calon manager Kopdes merah putih yang terjadi saat mereka mengikuti Latihan dasar militer (Latsarmil) di berbagai pusat pendidikan TNI

Oleh : Ummu Mirza

WacanaMuslim-Fenomena Kopdes Merah Putih dijadikan bahan parodi dan kritik para konten kreator di media sosial. Mulai dari lokasi pembangunan yang tak lazim seperti diatas gunung, didalam hutan, dekat kuburan hingga gaya pelatihan ala militer yang dijalani para calon manager Kopdes.

Pelatihan Kopdes memakan korban. Tragedi memilukan tewasnya 5 calon manager Kopdes merah putih yang terjadi saat mereka mengikuti Latihan dasar militer (Latsarmil) di berbagai pusat pendidikan TNI. Beberapa korban meninggal dunia akibat kelelahan ekstrim, heat stroke, serta gangguan jantung dan paru-paru. Atas insiden tersebut kementerian pertahanan menghentikan sementara latihan fisik Kopdes untuk mengevaluasi secara total.

Selain itu para kepala desa juga protes karena dana desa dipotong untuk Kopdes merah Putih. Heru yang menjabat Kepala Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Klaten, Jawa Tengah, tak bisa menutupi kekecewaannya.

Pada tahun 2025, anggaran untuk desanya bisa mencapai Rp1 miliar tapi kini menyusut drastis yakni sekitar Rp373 juta. Artinya, lebih dari 58% anggarannya hilang.

“Semua kepala desa kaget dengan berkurangnya anggaran yang cukup signifikan ini,” ujarnya.

Menanggapi hal ini Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menyebut dana desa tidak dikurangi, melainkan mengalami perubahan dalam manajemen pemanfaatan dan pengelolaan.

Tujuannya, kata dia, agar lebih tepat sasaran dan berdampak langsung pada penguatan ekonomi desa.

Alokasi dan penganggaran Kopdes mencakup beberapa pos yaitu dana desa sekitar 58,03 % atau sekitar 34,57 triliun, biaya pelatihan calon pengelola sekitar 45 juta per peserta dimana 30 juta dialokasikan untuk latihan militer sementara 15 juta untuk pelatihan menegemen koprasi, hingga modal usaha perunit dimana setiap Kopdes dirancang mendapatkan pinjaman produktif sebesar 3-5 miliar yang disalurkan melalui bank plat merah.

Terbukti bahwa pembangunan yang tidak berangkat dari kebutuhan masyarakat beresiko membuat koperasi kurang mendapatkan apresiasi dari masyarakat dan berakibat tidak efektif dalam menggerakkan ekonomi desa. Inilah wajah kapitalisme yang melahirkan proyek-proyek besar rawan penyimpangan. Dimana anggaran yang besar namun manfaat belum jelas karna kebijakan ini dinilai lebih menguntungkan pemilik modal dari pada menyejahterakan masyarakat.

Di dalam Islam ekonomi dibangun untuk kemaslahatan umat bukan mengejar target proyek. Negara hakikat sebagai pelayan dan pengurus umat yang bertanggung jawab penuh atas kemaslahatan keadilan dan pemenuhan kebutuhan dasar melalui pengelolaan harta milik umum yang dikelola oleh negara bukan individu/swata , pembukaan lapangan kerja dan distribusi kekayaan yang adil.

Di masa Abbasiyah lapangan pekerjaan terbuka luas karena pesatnya kemajuan disektor industri, pertanian, perdaganagan dan administrasi negara. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan melahirkan banyak industri baru yang membutuhkan ribuan tenaga kerja seperti : industri kertas, tekstil, pertambangan dan logam. Solusi Islam bersifat sistemik bukan sekedar memperbanyak program. Wallahualam bisshawab[] Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *