Sistem Islam Menjamin Kesehatan Mental Rakyat

Bagikan Artikel ini

Marwan Dwairy (1998) dalam bukunya, Mental Health in the Arab World (publikasi Elsevier Science) menyatakan bahwa rumah sakit jiwa pertama di dunia dibangun di negara-negara Arab.


Oleh Eni Imami, S.Si, S.Pd (Pendidik & Pegiat Literasi)

WacanaMuslim-Gangguan kesehatan mental menjadi hal yang paling dikhawatirkan bahkan melebihi kekhawatiran terhadap penyakit fisik yang mematikan. Seperti kecemasan, stress dan depresi dapat mempengaruhi seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Maraknya kasus bunuh diri menjadi penanda lemahnya mental masyarakat, siapa yang harus bertanggung jawab?

Kasus Bunuh Diri Meningkat


Bunuh diri menjadi penyebab kematian tertinggi keempat pada usia 18-29 tahun. Secara global, WHO mencatat per 28 Agustus 2023, lebih dari 700.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Di Indonesia, berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri, kasus bunuh diri sepanjang periode Januari hingga 18 Oktober 2023 mengalami peningkatan dibanding tahun 2022. Dari 900 kasus naik menjadi 971 kasus. (detiknews.com, 22-01-2024)

Secara nasional, Provinsi Bali menduduki peringkat pertama dengan angka bunuh diri mencapai 135 kasus sepanjang 2023. Disusul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati peringkat kedua dan Provinsi Bengkulu menempati peringkat ketiga. Sedangkan Aceh menempati posisi buncit dari seluruh provinsi. (cnnindonesia.com, 02-07-2024)

Jika pelaku bunuh diri hanya satu atau dua orang bisa dikatakan kasuistik atau masalah individual. Namun, jika sampai ratusan kasus terjadi, maka ini menjadi alarm buruknya mental masyarakat. Hal ini menandakan bahwa masyarakat tidak cukup kuat menghadapi tantangan dan ujian kehidupan.

Sekularisme Melemahkan Mental Rakyat


Dokter spesialis kejiwaan atau psikiater RSUP Prof Ngoerah, DR. dr. Anak Ayu Sri Wahyuni mengungkapkan penyebab tingginya bunuh diri di Pulau Dewata ada dua hal, yakni persoalan biologis, seperti depresi, skizofrenia, atau gangguan bipolar dan psikososial seperti terbelit utang pinjaman online (pinjol).

Dapat disimpulkan bahwa bunuh diri terjadi karena faktor internal dan eksternal. Dari faktor internal, seseorang mudah depresi hingga bunuh diri karena dipengaruhi cara pandang tertentu. Dimana kehidupan dipisahkan dari agama (sekularisme), dampaknya terjadi krisis keimanan yang membuat orang mudah cemas, kalut, emosional dan menjadi budak hawa nafsu. Setiap ada masalah, bunuh diri dianggap sebagai solusi.

Faktor eksternal terjadi bisa karena pola asuh yang salah, pengaruh lingkungan, dampak ekonomi, budaya maupun media sosial. Faktor eksternal juga terjadi akibat cara pandang sekularisme dan turunannya yakni kapitalisme. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, materi dijadikan tujuan hidup. Budaya hedonisme dengan flexing dan konsumerismenya memicu masyarakat ingin meraih materi dengan cara instan. Kondisi ini memberikan banyak tekanan mental ketika realita kehidupan tak semanis hayalan.

Seorang muslim hendaknya memahami bahwa dalam kehidupan ada wilayah usaha manusia dan ada wilayah Allah yang manusia tidak mampu menolaknya. Namun, akibat sekularisme hal ini tidak disadari oleh manusia. Manusia merasa segala hal mampu dikuasai dengan menghalalkan berbagai cara. Jika tidak berhasil ia menjadi cemas, depresi hingga bunuh diri.

Kehidupan dalam pandangan kapitalisme juga menimbulkan himpitan hidup dan jurang pemisah antara si miskin dengan si kaya. Si miskin mengalami tekanan hidup makin pelik karena mahalnya harga kebutuhan dan beratnya menghadapi tantangan kehidupan, ketika tidak kuat bunuh diri dijadikan pelarian. Si kaya ternyata tidak semua bahagia, ada ruang hampa didalam hatinya yang akhirnya mudah bunuh diri juga.

Begitulah akibat penerapan sekularisme – kapitalisme dalam kehidupan. Menimbulkan banyak masalah dan penderitaan. Agama tidak seharusnya dipisahkan dari kehidupan, tetapi dijadikan sebagai landasan kehidupan. Hanya sistem Islam yang menjadikan agama sebagai landasan kehidupan.

Sistem Islam Menjaga Kesehatan Mental


Islam memiliki pandangan yang benar tentang kehidupan bahwa dunia tempat berlomba dalam kebaikan dan akhirat merupakan tujuan hidup yang hakiki. Islam mengajarkan bagaimana cara mengatasi masalah, baik dari faktor internal maupun eksternal. Karena sejatinya Islam bukanlah agama yang sebatas mengatur urusan ibadah ritual tetapi lebih dari itu, Islam adalah sebuah sistem kehidupan.

Dari aspek internal, Islam mengajarkan bahwa ketakwaan individu merupakan kunci kesehatan mental. Individu yang bertakwa akan menjadikan syariat Islam sebagai standar perbuatannya. Senantiasa bertaqorrub ilallah akan memberikan rasa tenang sehingga tidak mudah stress maupun depresi. Ridlo dengan takdir Allah bahwa dalam kehidupan ini ada perkara yang dapat diusahan manusia tetapi juga ada ketetapan Allah yang bersifat mutlak. Bersabar atas setiap ujian dan bersyukur atas segala nikmat akan menjaga kesehatan mental setiap individu masyarakat.

Dari aspek eksternal, penjagaan kesehatan mental masyarakat akan menjadi sempurna jika negara memberikan jaminan kesejahteraan hidup. Negara dengan sistem Islam akan menjaga kesehatan mental rakyatnya dengan berbagai upaya. Karena salah satu tujuan penerapan syariat Islam adalah mewujudkan pemeliharaan atas jiwa.

Dari aspek pendidikan, bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Asas pendidikan dalam sistem Islam adalah aqidah Islam dengan tujuan membentuk generasi berkepribadian Islam yang kuat, memiliki keterampilan hidup yang mendukung kemaslahatan umat. Sejak dini, generasi ditanamkan keimanan dan ketakwaan serta dibekali pengetahuan sain dan teknologi untuk mampu menghadapi tantangan zaman.

Negara dengan sistem Islam akan menjamin pemenuhan kebutuhan rakyatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Negara menyediakan lapangan pekerjaan yang luas bagi kaum laki-laki untuk mencari nafkah. Negara mengelola kekayaan alam sesuai dengan syariat Islam. Ekonomi berjalan dengan lancar, rakyat mendapatkan jaminan kesejahteraan.

Dalam aspek medis, negara memberikan rehabilitasi secara medis dam nonmedis terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental. Pembiayaan penuh ditanggung oleh negara, sejarah mencatat dari hasil studi Marwan Dwairy (1998) dalam bukunya, Mental Health in the Arab World (publikasi Elsevier Science) menyatakan bahwa rumah sakit jiwa pertama di dunia dibangun di negara-negara Arab. Ath-Thabari dalam kitabnya, Firdaus al-Hikmah, yang ditulisnya pada abad ke-9 telah mengembangkan psikoterapi untuk menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan mental.

Solusi komprehensif ini hanya dapat terwujud jika sistem sekularisme yang berjalan saat ini dicabut dari akarnya dan digantikan dengan sistem Islam. Hal ini diperlukan usaha bersama dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Wallahu a’lam bisshowab.[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *