Maraknya Mahasiswa Bunuh Diri, Buramnya Sistem Pendidikan Hari Ini

Bagikan Artikel ini

Dalam lintas sejarah peradaban Islam, pendidikan Islam mengalami kejayaan dan kegemilangan yang diakui dunia internasional. Lembaga pendidikan tumbuh subur dan majelis-majelis ilmu di selasar masjid yang membahas berbagai ilmu pengetahuan pun bertaburan.

Oleh : Salsabila, Pemerhati Generasi

WacanaMuslim-Kasus kematian Aulia Risma Lestari, mahasiswa PPDS Anestesi Undip yang bunuh diri karena diduga tak kuat atas perilaku bullying yang dialaminya, kian menambah daftar panjang kasus bunuh diri di Semarang, Jawa Tengah. Sebelum kasus bunuh diri dokter muda asal Tegal itu, telah terjadi beberapa kasus serupa yang terjadi di beberapa kampus lainnya (jawapos.com, 17-08-2024).
Bahkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa banyak peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang ingin bunuh diri (liputan6.com, 15-08-2024).

Faktor Penyebabnya

Kondisi meningkatnya kasus bunuh diri di lingkungan kampus saat ini seperti fenomena gunung es. Angka bunuh diri yang tidak terlaporkan bisa jadi lebih banyak, mengingat banyak korban bunuh diri tidak dioutopsi atas permintaan keluarga sehingga penyebab pasti kematian hanya berdasarkan analisis kejadian. Di sisi lain, kampus cenderung menutupi kasus bunuh diri pada mahasiswanya dengan dalih aib atau menjaga perasaan keluarga.

Kondisi tersebut, memang harus mendapat perhatian serius. Fenomena sosial yang tragis lagi miris ini dipengaruhi banyak faktor. Diantaranya adalah:

  1. Masalah kesehatan mental. Di antara masalah kesehatan mental yang sering terjadi pada mahasiswa antara lain depresi, gangguan kecemasan, gangguan makan, menyakiti diri sendiri, penyalahgunaan narkoba dan alkohol, insomnia, dan kurangnya bersosialisasi. Banyaknya gangguan kesehatan mental sejatinya tidak bisa dilepaskan dari paradigma kehidupan yang dimiliki generasi muda (mahasiswa). Hal ini karena diterapkannya sistem kehidupan sekuler yang telah mereduksi pandangan hakiki manusia sebagai hamba Allah SWT, di antaranya dari mana ia berasal, untuk apa ia diciptakan, dan akan ke mana setelah kematian. Dalam pandangan kapitalisme sekulerisme, tujuan hidup manusia sekadar meraih sebanyak-banyaknya materi dan kesenangan dunia sehingga ketika tidak tercapai, ia merasa gagal dan mudah menyerah dalam hidup. Di sinilah munculnya gangguan cemas, stres, depresi, dan sejenisnya yang memicu seseorang berniat bunuh diri.
  2. Tekanan dan tuntutan yang tinggi dalam lingkup akademik dan keluarga. Beban akademik yang banyak kerap menjadi pemicunya. Selain itu, tuntutan dan harapan orang tua kepada anak yang terlalu ambisius juga mendorong keluarga memaksakan kehendak dan mengharuskan anak memperoleh prestasi akademik yang bagus, sehingga muncul asa takut mengecewakan keluarga mendominasi dalam dirinya yang membuatnya tertekan dan merasa terbebani.
  3. Seiring laju digitalisasi, generasi muda, terutama mahasiswa, cenderung banyak berinteraksi dengan dunia digital atau dunia maya. Kesibukan dan keasyikan mereka di dunia maya memicu interaksi sosial mereka dengan masyarakat sekitar berkurang. Apalagi kehadiran media sosial seakan menjadi obat bagi mereka yang kesepian dan tidak memiliki dukungan sosial. Alhasil, generasi muda kita menjadi generasi yang jiwa sosialnya terisolasi dengan mencukupkan diri dalam pertemanan di dunia maya saja.
  4. Masalah finansial yang serius. Masalah ekonomi kerap menjadi pemicu seseorang bunuh diri. Sistem sekulerisme kapitalisme telah menjadikan segala aspek menjadi tujuan bisnis, seperti biaya UKT mahal mendorong mahasiswa nekat melakukan pinjol, judol, atau tindak kriminal.
  5. Peristiwa traumatis akibat kehilangan orang terdekat atau mengalami pelecehan. Salah satu kasus tersebut adalah bunuh dirinya NW, seorang mahasiswi Universitas Brawijaya, Malang yang meninggal di samping makam ayahnya setelah menenggak minuman bercampur potasium. Diketahui motif bunuh diri yang ia lakukan lantaran depresi karena dipaksa melakukan aborsi oleh sang pacar. Ini membuktikan sistem sekuler menciptakan kehidupan serba bebas pada generasi muda. Pacaran hingga zina membudaya, lalu muncul masalah gangguan mental, dan ujungnya bunuh diri menjadi solusi keluar dari masalah.

Solusi Dalam Islam

Pendidikan dalam Islam merupakan upaya sadar dan terstruktur serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah (hamba Allah) dan khalifah Allah di muka bumi. Itulah tujuan pendidikan Islam. Asasnya akidah Islam. Asas ini menjadi dasar dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan, dan interaksi di antara semua komponen penyelenggara pendidikan.

Pada masa Khilafah Islam, banyak lahir generasi unggul. Tidak hanya unggul dalam ilmu saintek, mereka pun sukses menjadi ulama yang fakih fiddin. Keseimbangan ilmu ini terjadi karena Islam menjadi asas dan sistem yang mengatur dunia pendidikan. Dalam lintas sejarah peradaban Islam, pendidikan Islam mengalami kejayaan dan kegemilangan yang diakui dunia internasional. Lembaga pendidikan tumbuh subur dan majelis-majelis ilmu di selasar masjid yang membahas berbagai ilmu pengetahuan pun bertaburan.

Semua ini berjalan dengan baik karena peran besar negara dalam mengatur setiap aspek kehidupan agar sesuai dengan asas pendidikan tersebut, yaitu berbasis akidah Islam. Dalam mendukung sistem pendidikan ini, negara melakukan berbagai kebijakan berbasis syariat Islam, di antaranya adalah:

  1. Menerapkan politik ekonomi Islam. Untuk mewujudkan sistem pendidikan Islam yang baik tentu membutuhkan anggaran pendidikan yang besar, seperti membangun sarana dan fasilitas pendidikan yang merata di seluruh wilayah dan memberi gaji para guru serta tenaga pendidik secara layak.
    Pembiayaan pendidikan diperoleh dari pos fai dan kharaj, seperti ganimah, khumus, jizyah, dan dharibah (pajak) dan pos pengelolaan sumber daya alam, seperti tambang, hutan, laut, dan sebagainya. Pada masa Islam, banyak orang-orang kaya turut berkontribusi dalam pendidikan, seperti menyumbangkan sebagian hartanya untuk wakaf atau membangun lembaga pendidikan secara mandiri dengan tetap berbasis pada kurikulum negara, yaitu akidah Islam. Sebut saja Fatimah al-Fihri, seorang perempuan kaya pendiri Universitas Qarawiyyin di Maroko yang memfasilitasi masyarakat mengenyam pendidikan di sana.
  2. Negara menetapkan kebijakan pendidikan gratis untuk semua peserta didik. Dengan kebijakan ini, beban dan masalah seputar biaya pendidikan tidak akan terjadi sehingga tidak akan ditemukan kasus bunuh diri mahasiswa atau pelajar karena masalah ekonomi. Pendidikan gratis untuk semua peserta didik juga akan mendorong mahasiswa semangat menempuh pendidikan tinggi sesuai minat dan kemampuan masing-masing individu. Mereka bisa menjadi ulama sekaligus ilmuwan ataupun ilmuwan yang cakap dalam agama.
  3. Negara melakukan pembinaan Islam secara komunal. Suasana iman akan lebih terasa dalam kehidupan masyarakat karena negara membangun sistem pergaulan yang berlandaskan Islam. Pintu-pintu maksiat akan ditutup rapat. Negara menerapkan sanksi yang membuat jera para pelaku maksiat.

Dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, total dan menyeluruh, generasi muda akan menjadi tangguh dan akan terselamatkan dari sekularisme-kapitalisme yang merusak sendi-sendi kehidupan.[]

Sumber Foto : Canva

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *