Untuk menghindari dampak negatif dari perbandingan sosial penting bagi kita untuk selalu fokus pada pengembangan diri dan selalu bersyukur apa yang telah kita miliki. Mari, mulai menerima diri kita apa adanya dan mulailah hargai setiap proses perjalanannya sebagai kunci ketenangan batin.
Oleh : Aish
WacanaMuslim-Cuaca siang di bumi Pasundan sedang begitu cerah ketika saya menikmati hidangan makan siang yang sudah tersaji di teras depan rumah. Sembari menikmati makan bersama dengan pemandangan asri. Agenda keluarga waktu itu, semua keluarga besar berkumpul. Banyak obrolan yang menemani santapan siang kala itu. Tapi ada satu hal yang membuat hati saya merasa tersentil, di tengah percakapan hangat itu selalu tak terelakan muncul topik perbandingan yang membuat saya merasa tidak nyaman “kamu sudah lulus kuliah? Kapan kamu memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang tinggi seperti sepupu kamu? Lihat tuh sepupu kamu lulusnya tepat waktu, pekerjaannya juga enak” atau “Kenapa belum menikah, padahal teman-teman sebaya sudah banyak yang berkeluarga?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bagaikan duri yang menusuk tajam, melemahkan semangat saya. Meskipun saya tau obrolan meraka tidak bermaksud menyakiti perasaan siapa pun, tapi tetap saja hidup dengan perasaan dibanding-bandingkan itu terasa menyakitkan.
Bukan hanya saya, tapi setiap dari kita pasti pernah mengalami kehidupan yang kerap kali dibanding-bandingkan orang lain, bukan? Adanya perbandingan sosial sering kali merasa bahwa kehidupan tidak pernah memihak kita.
Apakah kamu pernah merasakan hal yang sama? Kadang-kadang, saat kita mendengar pujian atau kritik yang tidak adil, rasanya seperti kita harus terus-menerus berlomba dengan standar yang ditetapkan oleh orang lain. Kita sering lupa bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing, dan seringkali kita hanya melihat permukaan tanpa memahami proses di baliknya.
Apalagi di era digital saat ini, kita semakin mudah terjebak dalam perbandingan. Media sosial kerap kali menampakan sisi terbaik dari kehidupan seseorang, pencapaian-pencapaian yang sering kali membuat hati merasa iri dan merasa mengapa kita kurang berhasil atau tidak lebih baik dari kehidupan mereka. Apa yang salah dalam diri kita? Mengapa kehidupan kita tidak selalu mulus seperti orang-orang di luaran sana. Itu terasa jauh lebih buruk dibanding orang lain yang membandingkan kehidupan kita. Padahal kenyataannya apa yang kita lihat di sosial media tidak selalu benar. Bisa saja itu hasil dari penyuntingan mereka untuk memperlihatkan hal yang baik-baiknya saja tanpa memperlihatkan yang buruknya.
Mengapa hidup dibanding-bandingkan terasa menyakitkan? Salah satu alasan mengapa perbandingan hidup terasa menyakitkan adalah karena hal tersebut langsung melukai perasaan kita. Sebenarnya apa yang dikatakan orang mungkin sudah berkali-kali terlintas di di benak kita. Misalnya seperti kamu melihat temanmu lebih cantik dan pintar hingga kamu berpikir “seandainya aku seperti dia, pasti akan banyak orang yang menyukaiku” hal seperti ini yang membuat kamu memiliki perasaan minder hingga ketika perasaan tersebut dibenarkan oleh orang lain, terutama dalam bentuk perbandingan, rasa sakitnya terasa semakin nyata dan lebih dalam. Seolah-olah apa yang sudah kita ketahui dan rasakan tentang kekurangan kita diperkuat dengan pengakuan orang lain.
Salah satu alasan sederhana mengapa manusia senang membandingkan dirinya, ialah suatu keinginan untuk mencari kepastian bahwa hidup kita saat ini lebih baik dibanding orang lain. Ketika kita merasa diabaikan atau merasa kekurangan, kita cenderung mencari validasi eksternal untuk membuat kita merasa dihargai.
Perbandingan tersebut seringkali membuat kita merasa tidak adil, dunia seakan tidan memihak dan cenderung memiliki rasa ketidakpuasan sehingga kita tidak memperhitungkan perjalanan setiap individu. Gak papa kok, namanya juga manusia. Kita semua mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing. Tapi, ingat jangan terpaku pada hidup orang lain.
Sebagaimana Allah berfirman dalam surat an-nisa ayat 32 yang artinya begini “Dan janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang dilebihkan Allah, kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Dalam ayat tersebut, mengingatkan kita bahwa setiap manusia memiliki jalan kehidupannya masing-masing yang sudah Allah tentukan. Hal ini penting bagi kita untuk menyadari bahwa segala keberhasilan dan kekurangan yang kita miliki merupakan bagian dari perjalanan pribadi yang unik.
Dengan menyadari hal tersebut, kita bisa mulai melepaskan beban perbandingan yang sering menjadi beban pikiran kita. Apa yang kita anggap sebagai kelebihan orang lain belum tentu mencerminkan keseluruhan realitas hidup mereka, dan apa yang kita anggap sebagai kekurangan diri sendiri belum tentu mencerminkan keseluruhan realitas hidup mereka.
Oleh karena itu, untuk menghindari dampak negatif dari perbandingan sosial penting bagi kita untuk selalu fokus pada pengembangan diri dan selalu bersyukur apa yang telah kita miliki. Mari, mulai menerima diri kita apa adanya dan mulailah hargai setiap proses perjalanannya sebagai kunci ketenangan batin.[]
Sumber Foto : Canva

